
Foto hasil rekonstruksi yang dibuat oleh kelompok "Rasa Syukur kepada Tanah Air".
Penerima foto tersebut adalah Bapak Vu Duy Phan (lahir tahun 1940), kepala cabang keluarga Vu di komune Tay Do. Selama tahun-tahun paling intens perang melawan AS, kedua bersaudara itu secara sukarela bergabung dengan tentara. Adik laki-laki, martir Vu Duy Thoan, adalah seorang pengemudi truk di jalur Truong Son. Pada tanggal 3 Juli 1968, saat mengangkut senjata, truknya terkena bom musuh. Prajurit muda itu dengan berani mengorbankan nyawanya di kabin pengemudi pada usia muda. Sementara itu, veteran Vu Duy Phan adalah penembak anti-pesawat 12,7 mm dan petugas medis di Divisi ke-380. Pada tahun 1968, sebuah peristiwa tragis menimpa keluarga ketika dua pemberitahuan kematian tiba secara bersamaan. Karena terputusnya komunikasi selama Serangan Tet yang sengit, pihak berwenang setempat mengeluarkan pemberitahuan kematian untuk kedua bersaudara tersebut. Namun, kenyataannya, Bapak Phan ditangkap oleh musuh dan dipenjara di penjara Phu Quoc. Selama lima tahun masa pemenjaraannya, menanggung segala macam penyiksaan brutal, ia mempertahankan semangat komunisnya hingga dibebaskan pada tahun 1973. Hal pertama yang dilakukannya setelah kembali ke rumah adalah mencari adik laki-lakinya. Ia membawa jenazah adiknya dari Nghe An kembali ke kampung halamannya, tak pernah melepaskannya sedetik pun. Dan foto yang dipugar dan dipersembahkan kepadanya oleh kelompok "Rasa Syukur kepada Tanah Air" (komune Tay Do) adalah salinan dari film dokumenter yang berharga.
Kisah keluarga Bapak Phan hanyalah salah satu dari ribuan foto yang telah dan terus dibuat oleh kelompok "Rasa Syukur kepada Tanah Air". Semuanya dimulai dengan sangat sederhana ketika pemimpin kelompok, Hoang Tung Linh, menerima permintaan untuk merestorasi foto seorang prajurit yang gugur untuk sebuah keluarga di desa. Foto itu sudah tua, pudar, dengan hanya beberapa garis samar yang tersisa. Linh dengan sabar duduk berjam-jam di depan komputernya, dengan teliti memeriksa setiap detail kecil untuk merestorasi wajah seorang pemuda berusia dua puluh tahun. Ketika ia menyerahkan foto itu dan melihat ibu yang sudah lanjut usia itu menangis tersedu-sedu, ia mengerti bahwa pekerjaan ini bukan hanya tentang teknik, tetapi tentang "menciptakan kembali wajah masa lalu" untuk kembalinya seorang putra kepada keluarga.
Dari pengalaman pertama itu, Linh membagikannya kepada beberapa teman yang memiliki pemikiran serupa. Awalnya, mereka hanya berpikir untuk membantu siapa pun yang bisa mereka bantu, tetapi jumlah keluarga yang meminta bantuan mereka meningkat. Melihat makna dari pekerjaan mereka, kelima anak muda itu memutuskan untuk membentuk sebuah kelompok, menamakannya "Rasa Syukur kepada Tanah Air" sebagai pengingat tujuan bersama mereka. Dalam waktu kurang dari dua tahun beroperasi sepenuhnya tanpa biaya, kelompok ini telah memulihkan dan menyumbangkan lebih dari 1.000 potret prajurit yang gugur di seluruh negeri. Untuk mencapai "pengembalian" yang lengkap ini, anggota kelompok harus menghabiskan waktu berjam-jam bekerja tanpa lelah di depan layar komputer. Proses ini tidak hanya bergantung pada teknologi AI atau teknik grafis modern, tetapi juga membutuhkan penelitian yang cermat. Setiap foto adalah hasil dari diskusi berjam-jam tentang identitas dan perbandingan yang cermat antara seragam dan pangkat dari berbagai tahapan pertempuran, dengan tujuan untuk menciptakan kembali wajah prajurit yang paling otentik.
Tidak puas hanya dengan memulihkan potret sesuai permintaan, kelompok tersebut secara proaktif mencari situs-situs bersejarah untuk membawa kembali wajah para prajurit yang gugur ke tempat mereka tinggal dan bertempur. Salah satu foto istimewa tersebut adalah foto martir Pham Van Hinh, kepala tim pengintai unit gerilya Ngoc Trao. Setelah meninggal pada tahun 1941, ia adalah salah satu putra terbaik pertama yang gugur untuk gerakan revolusioner di provinsi Thanh Hoa. Hampir seabad kemudian, kelompok tersebut memulihkan potret prajurit ini sepenuhnya dan dengan penuh hormat, kemudian menghadiahkannya kepada keluarganya dan Sekolah Menengah Pham Van Hinh. Ini bukan hanya foto yang dihidupkan kembali, tetapi perwujudan sejarah, pengingat akan masa pertumpahan darah dan perang yang telah berlalu.
Menyaksikan dedikasi Linh dan rekan-rekannya, para veteran seperti Bapak Phan tak kuasa menahan emosi. Cara generasi muda di masa damai menghargai setiap kenangan masa lalu adalah bukti paling nyata bahwa semangat "minum air, mengingat sumbernya" terus mengalir, menghubungkan generasi dalam ikatan spiritual yang kuat.
Setiap foto dari kelompok "Rasa Syukur kepada Tanah Air" bukan hanya hasil teknologi, tetapi juga jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Ketika wajah-wajah muda tampak jelas setelah beberapa dekade, itu juga merupakan momen ketika "kepulangan" yang sangat mengharukan terwujud.
Didorong oleh rasa syukur, kaum muda telah menggunakan teknologi untuk menciptakan kembali gambar-gambar mereka yang telah gugur. Tindakan ini mewakili kelanjutan tanggung jawab antar generasi, melestarikan nilai-nilai spiritual leluhur kita agar tidak terkubur oleh waktu. Potret-potret ini kini menjadi bagian dari ingatan kita, mengingatkan kita pada periode yang sulit namun sangat heroik dalam sejarah bangsa kita.
Teks dan foto: Minh Quyen
Sumber: https://baothanhhoa.vn/ve-lai-guong-mat-qua-khu-285051.htm






Komentar (0)