Hanya satu tindakan kecil dapat menghangatkan seluruh keluarga. (Foto: ITN).
Terkadang, tindakan kecil saja bisa menghangatkan seluruh keluarga. Namun, terkadang, konsep yang salah dapat dengan mudah mengubur cinta dalam pernikahan.
Konon, setelah sang istri melahirkan, sang suami bergegas ke ruang bersalin dan langsung menanyakan kabar anaknya. Tak lama kemudian, sang istri meminta cerai secara terbuka. Alasannya: Sang suami lebih mencintai anaknya daripada istrinya.
Ini mungkin terdengar ekstrem. Namun, dalam kehidupan nyata, perpisahan akibat situasi serupa bukanlah hal yang jarang terjadi.
Banyak wanita yang peduli dengan status dan anak-anak mereka di hati suami bukan karena cemburu pada anak-anak tersebut, tetapi karena ingin menggunakan cara ini untuk menguji seberapa besar kepedulian pria terhadap mereka.
Jika seorang perempuan menanggung rasa sakit melahirkan dan bertekad untuk tetap bersama suaminya seumur hidup, tetapi suaminya masih dianggap tidak sepenting anak-anaknya, kebanyakan dari mereka akan kecewa. Jadi, bagi seorang pria, apakah ia lebih mencintai istrinya atau anak-anaknya?
Dalam acara varietas "Baby Diary", D. menulis surat panjang kepada anaknya setelah istrinya melahirkan, di mana ia menulis: "Anakku sayang, aku sangat mencintaimu, tetapi aku lebih mencintai ibumu. Aku akan melindungi ibumu bersamamu saat kamu dewasa."
Jika perempuan menahan sakitnya melahirkan dan bertekad untuk tetap bersama suami mereka selama sisa hidup mereka tetapi mereka masih tidak sepenting anak-anak mereka, kebanyakan dari mereka akan kecewa. (Foto: ITN).
Begitu acaranya tayang perdana, kata-kata D. langsung menjadi topik hangat dan menuai banyak suka. Kebanyakan orang menganggap ini jawaban yang cerdas dan bijaksana secara emosional karena dua alasan:
Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu banyak orang, entah itu orang tua, anak, saudara, sahabat, pada akhirnya mereka hanya bisa menemani kita sebentar. Oleh karena itu, kita harus lebih banyak mencurahkan kasih sayang kepada pasangan kita, terutama jika kita hanya membandingkan pasangan kita dengan anak-anak kita.
Anak adalah buah cinta, tetapi mereka bukanlah segalanya dalam pernikahan. Semasa kecil, kita akan mendampingi dan merawat pertumbuhan mereka dengan penuh kasih sayang.
Seiring anak-anak kita tumbuh dewasa dan memulai hidup mereka sendiri, mereka perlahan-lahan menarik diri dari dunia kita. Saat ini, kita hanya bisa bergaul dengan pasangan kita.
Identitas utama pernikahan selalu suami dan istri. Hubungan lain hanyalah pelengkap dan kurang penting daripada pasangan itu sendiri. Mencintai dan membalas budi istri Anda adalah pilihan yang tepat, karena istri Anda akan melindungi Anda sepanjang hidup Anda.
Banyak lelaki yang setelah punya anak akan fokus pada anak-anaknya, namun begitu lalai menjaga keutuhan rumah tangga, akan muncul banyak konflik yang tidak diharapkan.
Semua orang ingin disayangi, bahkan dalam hubungan keluarga. Pria yang mencintai istrinya akan memberinya kehangatan dan kepercayaan diri, sehingga membantunya merasa lebih percaya diri dalam pernikahan.
Orang yang terlalu mementingkan orang lain dan selalu membuat istrinya sedih, pasti akan banyak lubang dalam hubungannya.
Ketika anak-anak Anda tidak lagi bersama Anda di usia senja, hidup Anda bisa terasa sengsara. Hanya mereka yang peduli pada istri mereka yang dapat meraih kebahagiaan sejati.
Nofeo pernah berkata: "Kasih sayang orang tua adalah hadiah terbaik bagi anak-anaknya, karena cara orang tua bergaul adalah titik awal bagi anak-anak untuk mengenal dan memahami cinta dan pernikahan."
Dalam proses pertumbuhan seorang anak, guru terpenting adalah orang tua. Pandangan hidup dan sikap anak terhadap kasih sayang sedikit banyak akan dipengaruhi oleh orang tua.
Jika seorang suami terlalu acuh tak acuh terhadap istrinya, betapa pun besar upaya yang ia curahkan untuk anak-anaknya, hal itu tetap akan merugikan mereka. Karena anak-anak belum memiliki kemampuan untuk membuat penilaian yang matang, mereka akan berpikir sejak awal bahwa hubungan suami istri seharusnya seperti ini, dan nantinya mereka akan berperilaku seperti ini.
Lebih penting lagi, ketika kasih sayang orang tua tidak cukup kuat, anak-anak hampir tidak dapat merasakan kehangatan keluarga. Mereka hidup di lingkungan yang kurang hangat dan akibatnya dapat menjadi depresi dan tidak bahagia. Dampak semacam ini tidak dapat diabaikan.
Bahagia atau tidaknya sebuah keluarga bergantung pada hubungan antara suami dan istri. Pasangan yang mampu mengungkapkan cinta dengan tulus akan membuat anak-anak mereka merasakan kebahagiaan yang layak mereka dapatkan. Anak-anak yang lahir di lingkungan seperti itu akan memiliki perasaan yang lebih dalam terhadap orang tua mereka dan menghormati mereka.
[iklan_2]
Sumber: https://giadinh.suckhoedoisong.vn/vo-hay-con-quan-trong-hon-doi-voi-dan-ong-172240922144714671.htm
Komentar (0)