Banyak orang tua tidak menyadari bahwa terlalu melindungi anak-anak mereka dan menciptakan tampilan "mewah, canggih, dan nyaman" secara tidak sengaja merampas keterampilan bertahan hidup paling mendasar dari mereka.
Ketika toilet menjadi "musuh"
Keluarga Bapak Minh dan Ibu Ha (Kelurahan Cau Giay, Hanoi ) terkenal karena memanjakan anak mereka. Sejak kecil, putra mereka, Bao, telah terbiasa dengan kehidupan mewah. Kamar pribadi Bao didesain dengan indah, dan semua kebutuhannya, mulai dari makanan hingga transportasi, dipenuhi. Ibu Ha selalu bangga bahwa putranya dibesarkan dalam lingkungan "kelas atas", tanpa pernah harus melakukan apa pun.
Segalanya mulai menjadi rumit ketika Bao mulai kelas satu di sekolah negeri dekat rumahnya. Selama minggu pertama sekolah, Bao terus-menerus mengeluh sakit perut dan kehilangan nafsu makan. Orang tuanya, Ibu Ha dan suaminya, panik dan membawanya ke dokter, tetapi dokter menyimpulkan bahwa kondisi fisik anak itu normal. Setelah banyak bertanya, Bao akhirnya menangis dan mengaku, "Toilet sekolah tidak senyaman di rumah, aku tidak tahan, jadi aku tidak berani pergi." Ternyata, karena tidak mampu beradaptasi dengan ruang bersama di sekolah, dia menahan buang air kecil dan besar sepanjang hari. Situasi yang berkepanjangan ini menyebabkan Bao menderita sembelit dan terus-menerus merasa stres dan takut setiap kali pergi ke kelas. Hanya karena kondisi hidup yang sedikit kurang nyaman daripada di rumah, seorang anak berusia tujuh tahun tidak mampu mengatasi dan beradaptasi, yang secara langsung berdampak negatif pada kesehatannya sendiri.
Tu bersekolah di sekolah internasional dan diberi barang-barang bermerek oleh orang tuanya, mulai dari pakaian dan sepatu hingga ransel. Tu selalu merasa dirinya termasuk dalam kelas yang berbeda. Rasa puas diri ini tumbuh selama bertahun-tahun dan berubah menjadi perilaku menyimpang.

Gambar ilustrasi Freepik
Selama perjalanan studi ke daerah pedesaan, Tú dengan tegas menolak untuk berpartisipasi dalam kegiatan kerja kolektif bersama teman-temannya. Melihat para petani dan buruh kasar mengarungi lumpur, Tú tanpa ragu menunjukkan rasa jijik dan menghindar, secara terbuka mengkritik mereka. Kesombongan dan kurangnya rasa hormat Tú terhadap orang lain secara bertahap menjauhkannya dari kelompok tersebut. Teman-teman sekelasnya mulai menjauhinya; tidak ada yang mau bekerja sama dengannya atau berbagi apa pun dengannya. Dari seorang siswa yang dianggap memiliki "status tinggi," Tú menjadi terisolasi, cenderung berkonflik, dan terus-menerus merasa sakit hati dan depresi karena tidak ada yang mengakui "kebangsawanan" yang diproklamirkannya sendiri.
Perkuat perilaku anak Anda setiap hari.
Menyadari situasi yang mengkhawatirkan ini, Dr. Vu Thu Huong (Pusat Anak-Anak Nakal) secara jujur menunjukkan bahwa memanjakan anak, memenuhi semua kebutuhan mereka, dan mengisolasi mereka dari tantangan hidup meninggalkan empat konsekuensi negatif yang jelas:
Krisis kemampuan beradaptasi : Anak-anak yang dibesarkan dalam "sangkar kaca" akan menghadapi kesulitan yang signifikan ketika dihadapkan dengan kondisi kehidupan normal. Banyak anak tidak dapat menggunakan toilet jika baunya tidak sedap, yang secara langsung memengaruhi kesehatan mereka. Lebih jauh lagi, anak-anak lebih mungkin mengalami depresi jika lingkungan sekitar mereka tidak sebaik rumah mereka. Ini merupakan bahaya langsung bagi kesejahteraan anak.
Gangguan kepribadian : Ketika anak-anak selalu dianggap berasal dari kelas yang lebih tinggi, mereka mudah mengembangkan pikiran dan perilaku yang meremehkan orang lain. Mereka mungkin menunjukkan rasa jijik terhadap siapa pun yang sederhana atau bekerja sebagai buruh kasar. Sikap ini akan membatasi kemampuan mereka untuk berteman, mudah menimbulkan konflik, dan menyakiti orang-orang di sekitar mereka.
Koefisien Ketahanan terhadap Kesulitan (Adversity Quotient/AQ) mencapai titik terendah : Jika anak-anak bahkan tidak mampu mengatasi kondisi yang normal sekalipun, bagaimana mungkin mereka dapat menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan? Kelemahan ini mempersulit mereka untuk meraih kesuksesan dan hanya berujung pada kegagalan.
Kebiasaan menyalahkan orang lain dan depresi : Anak-anak yang diajari bahwa mereka selalu benar akan melihat keadaan sebagai alasan besar atas kurangnya usaha mereka. Ketidakmampuan untuk berbahagia atas keberhasilan orang lain dan ketidakpuasan terhadap kegagalan mereka sendiri membuat mereka semakin depresi dan mudah marah.
Setiap anak dilahirkan seperti selembar kertas kosong. Apakah di atasnya terlukis gambar kemandirian yang penuh warna, atau noda abu-abu ketergantungan dan kesombongan, semuanya bergantung sepenuhnya pada metode pengasuhan keluarga.
Oleh karena itu, alih-alih mencoba memanjakan anak-anak mereka, orang tua harus fokus pada membentuk perilaku anak-anak mereka setiap hari. Ajari mereka kemandirian, menghargai nilai kerja keras, dan mencintai orang-orang di sekitar mereka.
Sumber: https://phunuvietnam.vn/vo-tinh-day-con-vao-nguy-hiem-va-co-don-238260530221109657.htm








Komentar (0)