Reaksi para pendidik terhadap informasi ini adalah berupa harapan dan persetujuan, tetapi juga kekhawatiran.
Proyek "Menjadikan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua di Sekolah pada Periode 2025-2035, dengan Visi hingga 2045" adalah sebuah usaha besar yang membutuhkan perubahan komprehensif, mulai dari pergeseran pemahaman tentang peran Bahasa Inggris dalam pendidikan dan integrasi; peningkatan lembaga dan kebijakan terkait; memastikan kuantitas dan kualitas guru; memperkuat infrastruktur; mengembangkan dan menerapkan kurikulum dan materi pembelajaran; berinovasi dalam metode pengajaran, pengujian, dan penilaian; serta mendorong terciptanya lingkungan berbahasa Inggris…
Dalam rangkaian faktor tersebut, guru merupakan mata rantai sentral. Tanpa tim yang memiliki kemampuan bahasa dan pedagogis yang memadai, semua ambisi reformasi akan kesulitan mencapai tujuannya.
Survei, jika dirancang secara ilmiah , akan memberikan data yang andal, gambaran komprehensif tentang kemampuan staf, perbedaan regional, kesenjangan keterampilan, dan kebutuhan pelatihan spesifik. Mustahil untuk mengembangkan program pelatihan yang efektif tanpa mengetahui apa yang dibutuhkan guru.
Tanpa data yang memadai, program pelatihan mudah terjebak dalam perangkap "menentukan apa yang perlu didiagnosis," yang mahal dan tidak efektif. Bagi setiap guru, jika dirancang dengan benar, survei dapat membantu mereka menilai sendiri kemampuan mereka, mengidentifikasi dengan jelas posisi mereka saat ini dalam jalur pengembangan karier mereka, dan membimbing mereka menuju pembelajaran mandiri dan peningkatan diri yang efektif.
Oleh karena itu, persyaratan utama untuk survei ini adalah: harus ilmiah, substantif, dan tidak menimbulkan tekanan yang tidak perlu. Survei ini harus didefinisikan dengan jelas sebagai alat diagnostik, bukan ujian peringkat atau dasar untuk kompetisi. Kementerian Pendidikan dan Pelatihan telah mendefinisikan dengan jelas tujuan survei ini sebagai pemahaman tentang keadaan kemampuan berbahasa Inggris saat ini di kalangan guru secara umum, dan khususnya mereka yang mengajar bahasa Inggris dan mata pelajaran lain dalam bahasa Inggris; dan pada saat yang sama, mengidentifikasi kebutuhan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas guru bahasa Inggris, penyelenggara kegiatan pendidikan, dan mereka yang mengajar mata pelajaran lain dalam bahasa Inggris.
Proses implementasi harus benar-benar mematuhi prinsip ini, memastikan bahwa survei benar-benar berfungsi untuk pengembangan profesional dan menghindari situasi di mana kebijakan yang baik diimplementasikan dengan cara yang menciptakan tekanan yang tidak perlu pada guru.
Penting juga untuk menekankan bahwa survei hanya bermakna jika diikuti dengan pelatihan jangka panjang dan kebijakan dukungan yang membantu guru meningkatkan kemampuan mereka secara efektif dan berkelanjutan.
Terkait masalah ini, banyak pendidik menyarankan bahwa alih-alih kursus pelatihan formal yang singkat, sektor pendidikan harus berinvestasi dalam materi pembelajaran digital, kursus pelatihan berbasis keterampilan yang mendalam, komunitas pembelajaran profesional, dan mekanisme pendampingan di dalam sekolah. Pada saat yang sama, harus ada kebijakan insentif khusus: dukungan waktu, pengurangan beban kerja administratif, pengakuan hasil pembelajaran, dan peluang pengembangan profesional untuk mendorong guru agar secara proaktif meningkatkan kemampuan mereka.
Menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di sekolah adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan dan langkah-langkah yang mantap. Jika diimplementasikan dengan pendekatan ilmiah, transparansi, dan fokus pada dukungan yang tulus, penilaian kompetensi ini dapat menjadi titik awal yang penting untuk fase peningkatan kualitas guru bahasa Inggris. Efektivitas kebijakan kemudian akan terwujud melalui kepercayaan diri guru di kelas dan kemampuan siswa untuk menggunakan bahasa Inggris di kelas.
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/xac-lap-buc-tranh-nang-luc-doi-ngu-post767411.html






Komentar (0)