Selama dua dekade terakhir, bioetanol E10 telah berubah dari solusi eksperimental menjadi bahan bakar yang banyak digunakan di banyak negara di seluruh dunia. Menurut data dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, yang mengutip Badan Energi Internasional (IEA), lebih dari 60 negara sekarang memiliki kebijakan pencampuran etanol wajib, dengan E10 sebagai campuran yang paling umum.
Tren ini didorong oleh tiga tujuan utama: memastikan keamanan energi, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan mendukung sektor pertanian . Di banyak negara, E10 bukan lagi sekadar "bahan bakar alternatif," tetapi telah menjadi standar patokan untuk pasar bahan bakar.
Yang paling menonjol adalah model AS, di mana E10 menguasai lebih dari 95% pangsa pasar bensin. AS memproduksi sekitar 60 miliar liter etanol setiap tahunnya, membentuk pasar biofuel yang besar dan komprehensif.
Keberhasilan AS berasal dari sistem kebijakan yang komprehensif, termasuk Standar Bahan Bakar Terbarukan (RFS), mekanisme subsidi pajak, dan kewajiban pencampuran wajib. Menurut Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, ini adalah pengalaman berharga bagi Vietnam dalam membangun kerangka hukum yang jelas, sambil menggabungkan mekanisme pasar dan dukungan keuangan untuk mendorong konsumsi E10.

Banyak negara dengan perekonomian besar memandang E10 sebagai langkah fundamental dalam peta jalan mereka untuk mengurangi emisi transportasi. (Gambar ilustrasi)
Di Uni Eropa (UE), peraturan RED II mewajibkan minimal 14% energi terbarukan dalam transportasi, menjadikan E10 sebagai standar di banyak negara seperti Jerman dan Prancis. UE juga menerapkan peraturan teknis yang fleksibel dan sistem sertifikasi karbon untuk mendukung transisi ke bahan bakar bersih.
Di Asia Tenggara, Thailand dianggap sebagai kasus yang paling mirip dengan Vietnam. Negara ini telah menghapuskan bensin RON91 dan sepenuhnya menggantinya dengan E10. Keberhasilan implementasi ini dikaitkan dengan harga E10 yang lebih rendah dibandingkan dengan bensin tradisional, serta kebijakan manajemen yang stabil dan konsisten dalam jangka waktu yang panjang.
Berdasarkan pengalaman internasional, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan meyakini bahwa untuk keberhasilan implementasi E10, Vietnam perlu memenuhi beberapa syarat secara bersamaan. Syarat-syarat tersebut meliputi kebijakan hukum yang jelas dan wajib; standar teknis yang fleksibel; insentif keuangan yang cukup kuat untuk mendukung bisnis dan konsumen; dan struktur harga yang kompetitif untuk E10 di pasar.
Menurut Kementerian Perindustrian dan Perdagangan, kuncinya terletak pada kebijakan yang cukup kuat untuk mengubah perilaku pasar, sehingga menjadikan E10 sebagai bahan bakar yang banyak digunakan, serupa dengan yang telah dilakukan AS dan banyak negara lainnya.
Sumber: https://vtcnews.vn/xang-e10-chiem-hon-95-thi-phan-tai-my-ar1020309.html








Komentar (0)