
Tren yang tak dapat diubah.
Selama dua dekade terakhir, peralihan ke energi bersih telah menjadi tren global, bukan hanya untuk tujuan mengurangi emisi tetapi juga karena perubahan mendasar dalam struktur ekonomi dan teknologi. Sumber energi terbarukan seperti angin, matahari, dan tenaga air secara signifikan mengurangi emisi gas rumah kaca – penyebab utama perubahan iklim – sehingga mengurangi risiko bencana alam dan biaya ekonomi akibat degradasi lingkungan.
Yang lebih penting lagi, energi bersih membantu negara-negara mengurangi ketergantungan mereka pada impor bahan bakar fosil seperti minyak dan gas, yang rentan terhadap gangguan akibat konflik geopolitik dan fluktuasi harga. Hal ini membuka peluang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru, dan mengembangkan industri teknologi tinggi.
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), energi terbarukan akan menyumbang sekitar 32% dari produksi listrik global pada tahun 2024 dan diperkirakan akan meningkat menjadi 43% pada tahun 2030, memenuhi lebih dari 90% dari pertumbuhan permintaan listrik selama periode tersebut. Pertumbuhan yang kuat ini berasal dari beberapa faktor, terutama penurunan biaya yang signifikan. Harga energi surya dan angin telah turun tajam selama dekade terakhir, menjadikan sumber energi ini kompetitif dengan bahan bakar fosil.
Selain itu, pengembangan teknologi penyimpanan energi, khususnya baterai, membantu mengatasi sebagian sifat intermiten dari energi terbarukan.
Faktor pendorong utama lainnya adalah peningkatan permintaan listrik yang sangat pesat. Laporan World Energy Outlook 2025 menunjukkan bahwa listrik menjadi pusat sistem energi, dengan permintaan yang melonjak berkat sektor-sektor baru seperti kecerdasan buatan, pusat data, dan kendaraan listrik. Hal ini memaksa negara-negara untuk mencari sumber energi yang dapat ditingkatkan skalanya dengan cepat, terjangkau, dan berkelanjutan – kriteria yang dipenuhi oleh energi terbarukan lebih baik daripada bahan bakar fosil tradisional.
Realitanya, energi bersih bukan lagi sekadar "pelengkap" tetapi telah menjadi andalan. Pada tahun 2024, lebih dari 90% kapasitas listrik global baru akan berasal dari sumber energi terbarukan. Pada saat yang sama, selama periode tertentu di tahun 2025, produksi listrik dari energi bersih akan melampaui batu bara untuk pertama kalinya, menandai titik balik penting dalam transisi energi global.
Negara-negara dengan perekonomian besar memimpin tren ini. China – konsumen energi terbesar di dunia – tidak hanya merupakan penghasil emisi utama tetapi juga investor terbesar dalam energi bersih. Menurut IEA, sebagian besar kapasitas listrik baru di negara dengan perekonomian terbesar di Asia dalam beberapa tahun terakhir berasal dari energi bersih, khususnya tenaga surya dan angin.
Di Uni Eropa (UE), energi terbarukan menyumbang 25,4% dari total konsumsi energi akhir pada tahun 2024 dan terus meningkat. Beberapa negara memiliki proporsi listrik dari sumber terbarukan yang sangat tinggi, seperti Norwegia, Islandia, Swedia, dan Denmark. Belanda juga mempercepat tren ini dengan cepat berkat proyek pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai.
Bahkan negara-negara yang dulunya sangat bergantung pada bahan bakar fosil pun mengalami pergeseran. AS kini mempertahankan pangsa energi terbarukan (23%) dan nuklir (18%) yang signifikan dalam bauran listriknya, sementara batu bara hanya menyumbang sekitar 16%. Angka-angka ini menunjukkan penurunan bertahap peran sumber energi tradisional dalam jangka panjang.
Menurut para ahli, transisi energi bukan lagi pilihan tetapi suatu keniscayaan. Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, pernah menekankan bahwa dunia sedang memasuki "era elektrifikasi," di mana energi bersih memainkan peran sentral dalam pertumbuhan ekonomi. Ini berarti bahwa negara-negara tidak dapat berdiam diri jika ingin mempertahankan daya saing mereka.
Namun, proses "penghijauan" juga menghadapi banyak tantangan seperti infrastruktur jaringan listrik, rantai pasokan, dan pembiayaan. IEA memperingatkan bahwa investasi pada jaringan listrik belum sejalan dengan perkembangan sumber energi bersih, yang berpotensi menimbulkan risiko bagi sistem energi. Meskipun demikian, tren secara keseluruhan tetap tidak dapat diubah: Energi bersih menjadi landasan sistem energi modern.
Pilar baru di masa ketidakstabilan
Meskipun keamanan energi sebelumnya terutama dikaitkan dengan pengamanan pasokan minyak dan gas, konsep ini sekarang mengalami transformasi mendalam. Guncangan geopolitik, khususnya di Timur Tengah dan di sepanjang jalur transportasi energi vital, telah mengungkap risiko ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
Dalam konteks ini, energi terbarukan telah muncul sebagai solusi strategis. Tidak seperti minyak atau gas alam, sumber-sumber seperti tenaga surya dan angin dapat dimanfaatkan secara lokal, mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal, yang sangat penting bagi negara-negara pengimpor energi.
Eropa adalah contoh utamanya. Setelah krisis energi yang disebabkan oleh konflik Rusia-Ukraina, Uni Eropa mempercepat pengembangan energi terbarukan untuk mengurangi ketergantungannya pada gas impor. Meningkatkan pangsa energi bersih tidak hanya membantu mengurangi biaya jangka panjang tetapi juga meningkatkan swasembada energi.
Di Asia, Jepang praktis tidak memiliki sumber daya energi domestik, dengan tingkat swasembada hanya sekitar 13%, termasuk yang terendah di dunia. Ini berarti bahwa fluktuasi apa pun di pasar minyak dan gas global secara langsung berdampak pada perekonomian. Menghadapi tekanan keamanan energi, Jepang menerapkan strategi "ganda": memperluas energi terbarukan sekaligus menghidupkan kembali tenaga nuklir. Tokyo bertujuan untuk meningkatkan pangsa tenaga nuklir menjadi sekitar 20% pada tahun 2040, sementara meningkatkan energi terbarukan menjadi 40-50% dari bauran listrik. Bahkan, pada paruh pertama tahun 2025, energi bersih (termasuk energi terbarukan dan nuklir) menyumbang sekitar 41% dari produksi listrik, peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Korea Selatan menghadapi tantangan serupa, dengan tingkat swasembada energinya hanya sekitar 19%. Negara ini telah beralih ke peningkatan proporsi tenaga nuklir dan mendorong investasi dalam energi bersih untuk mengurangi ketergantungannya pada impor. Yang perlu diperhatikan, sebagian besar investasi energi Korea Selatan – bersama dengan Jepang – kini telah beralih ke energi bersih, mencapai 92% dari total investasi, jauh lebih tinggi daripada rata-rata global.
Menurut para ahli, energi bersih membantu meningkatkan "ketahanan" sistem energi. Tidak seperti bahan bakar fosil, yang sangat dipengaruhi oleh faktor pasar dan geopolitik, energi terbarukan memiliki volatilitas biaya operasional yang lebih rendah, sehingga berkontribusi pada stabilitas harga listrik dan mengurangi risiko ekonomi. Pada saat yang sama, diversifikasi sumber pasokan dari angin, matahari, tenaga air hingga biomassa membuat sistem energi lebih fleksibel dibandingkan dengan model yang bergantung pada bahan bakar fosil.
Namun, upaya "menghijaukan" energi juga menghadirkan tantangan baru, khususnya ketergantungan pada mineral-mineral penting seperti litium, kobalt, dan unsur tanah jarang. Laporan World Energy Outlook 2025 dari IEA menekankan bahwa keamanan energi di masa depan akan terkait erat dengan rantai pasokan mineral-mineral ini, sehingga negara-negara perlu memiliki strategi komprehensif, tidak hanya di bidang energi tetapi juga di bidang industri dan sumber daya.
Meskipun demikian, tren secara keseluruhan tetap jelas: "Penghijauan" energi menjadi elemen inti dari keamanan nasional. Di dunia yang penuh gejolak, swasembada energi tidak hanya menentukan stabilitas ekonomi tetapi juga secara langsung memengaruhi kedudukan geopolitik setiap negara.
Dari sudut pandang tujuan lingkungan, "penghijauan" energi telah menjadi persyaratan penting dalam strategi pembangunan. Tekanan dari perubahan iklim, peningkatan permintaan energi, dan ketidakstabilan geopolitik mempercepat proses ini lebih cepat dari yang diperkirakan. Pertanyaannya bukan lagi "haruskah kita beralih atau tidak," tetapi "seberapa cepat dan bagaimana cara beralih." Negara-negara terkemuka tidak hanya mengurangi emisi tetapi juga meningkatkan kemandirian dan daya saing mereka.
Bagi Vietnam, tren ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Jika Vietnam secara efektif memanfaatkan potensi energi terbarukannya untuk membangun sistem energi yang fleksibel, negara ini dapat sepenuhnya memastikan pertumbuhan berkelanjutan sekaligus menjaga keamanan energi jangka panjang.
Sumber: https://hanoimoi.vn/xanh-hoa-nang-luong-tu-lua-chon-phat-trien-den-yeu-cau-an-ninh-song-con-742035.html






Komentar (0)