Di era digital, konsep "warga digital" bukanlah hal yang asing lagi. Ini bukan hanya tentang menggunakan ponsel pintar atau internet, tetapi tentang kemampuan untuk mengakses, memanfaatkan, dan menggunakan teknologi digital secara proaktif, aman, dan efektif dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari menangani prosedur administratif dan pembayaran elektronik hingga layanan kesehatan, pendidikan, dan bisnis online, semua aspek masyarakat secara bertahap beralih ke platform digital. Hal ini mengharuskan warga negara untuk memiliki keterampilan digital dasar agar dapat beradaptasi dengan lingkungan baru.
Ini juga merupakan tujuan inti dari "Gerakan Literasi Digital": untuk mempopulerkan pengetahuan digital di kalangan seluruh penduduk, memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk mengakses teknologi dan menjadi warga digital di era baru.
Gerakan ini dilaksanakan dalam semangat Resolusi No. 57-NQ/TW Politbiro tentang terobosan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan transformasi digital nasional. Salah satu orientasi penting resolusi tersebut adalah menempatkan masyarakat sebagai pusat transformasi digital, sekaligus membangun masyarakat pembelajar digital dan warga negara digital di seluruh negeri.
Yang perlu diperhatikan, "Kampanye Literasi Digital" ini tidak hanya ditujukan kepada pekerja muda atau sektor teknologi, tetapi juga mencakup semua segmen masyarakat: pelajar, petani, pekerja, lansia, dan lain-lain, dengan semangat "tidak meninggalkan siapa pun di belakang".

Sekretaris Jenderal To Lam menyampaikan pidato utama pada konferensi tematik "Pendidikan Populer Digital - Majelis Nasional Digital".
Di banyak daerah, kenyataan menunjukkan bahwa teknologi secara bertahap menjadi lebih mudah diakses melalui tindakan-tindakan yang sangat spesifik.
Di distrik Cua Nam (Hanoi), kelompok teknologi digital komunitas menyelenggarakan banyak sesi pelatihan bagi para lansia tentang penggunaan ponsel pintar, pemindaian kode QR, pencarian prosedur administrasi, dan penggunaan layanan publik daring. Banyak pejabat dan anggota serikat pemuda memberikan bimbingan langsung, membantu masyarakat mengatasi kekhawatiran mereka terhadap teknologi.
Di provinsi Hung Yen, banyak kecamatan menerapkan model "Literasi Digital untuk Masyarakat" bagi anggota perkumpulan wanita dan petani. Banyak pedagang kecil di pasar lokal untuk pertama kalinya menggunakan transfer kode QR sebagai pengganti uang tunai; para lansia dibantu dalam memasang VNeID dan melakukan pembayaran elektronik langsung melalui ponsel pribadi mereka.
Sementara itu, di Thai Nguyen, banyak daerah menyelenggarakan kelas keterampilan digital komunitas yang terkait dengan membimbing masyarakat dalam berjualan online, mempromosikan produk pertanian di platform digital, dan mengakses e-commerce. Banyak rumah tangga yang sebelumnya hanya berjualan langsung kini tahu cara melakukan siaran langsung, mengambil foto produk, dan menjangkau pelanggan melalui media sosial.
Di Kota Ho Chi Minh, banyak lingkungan telah menerapkan model "tim teknologi digital mobile", yang membantu warga dalam mendaftar tanda tangan digital pribadi, menginstal aplikasi perbankan digital, dan membimbing mereka dalam pembayaran online untuk biaya rumah sakit dan uang sekolah. Banyak pekerja biasa mengakses utilitas digital untuk pertama kalinya untuk mendukung pekerjaan dan kehidupan sehari-hari mereka.
Di Bac Giang, koperasi pertanian dilatih dalam keterampilan penjualan e-commerce, menggunakan kode QR untuk pelacakan, dan mempromosikan produk melalui siaran langsung. Hasilnya, banyak produk pertanian lokal mendapatkan akses ke pasar yang lebih luas, alih-alih bergantung pada pedagang tradisional.
Di Da Nang, kursus pelatihan AI dasar untuk pelajar dan pekerja muda ditawarkan secara gratis di banyak pusat komunitas. Para peserta didik dibimbing tentang cara menggunakan alat AI dalam studi, pekerjaan, pencarian informasi, dan meningkatkan keterampilan digital pribadi mereka.
Contoh penting lainnya adalah peluncuran kursus AI dan keterampilan digital gratis di platform "Pendidikan Digital Populer". Warga dapat mempelajari cara menggunakan alat AI, mengidentifikasi penipuan siber, melindungi data pribadi, atau mengakses keterampilan digital dasar langsung di ponsel pintar mereka.
Selain mempelajari cara menggunakan teknologi, orang-orang juga dibekali dengan keterampilan untuk melindungi data pribadi, mengidentifikasi risiko di dunia maya, dan mengakses perangkat digital untuk belajar, bekerja, dan berproduksi.
Dalam konteks perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI), pembentukan warga digital menjadi semakin mendesak. AI tidak hanya mengubah metode produksi tetapi juga mentransformasi cara orang belajar, bekerja, dan berinteraksi dengan masyarakat. Tanpa keterampilan digital, kesenjangan teknologi akan dengan cepat menjadi kesenjangan pembangunan.
Salah satu persyaratan utama adalah menumbuhkan pola pikir pembelajaran sepanjang hayat di lingkungan digital. Karena teknologi berubah setiap hari, memperbarui pengetahuan digital harus menjadi kebutuhan konstan bagi setiap individu.
Dari semangat "memberantas buta huruf" di masa lalu hingga perjalanan membangun warga digital saat ini, "Literasi Digital untuk Rakyat" bukan hanya gerakan teknologi, tetapi secara bertahap menciptakan landasan manusia untuk proses transformasi digital nasional.
Sumber: https://mst.gov.vn/xay-dung-cong-dan-so-tu-phong-trao-binh-dan-hoc-vu-so-197260510083245061.htm








Komentar (0)