
Austin Franklin (kanan) dan Kevin Akoto menonton Piala Dunia di dalam kotak kaca di Times Square, New York, AS - Foto: afp.com
Dua penggemar Amerika, Austin Franklin (29 tahun) dan Kevin Akoto (26 tahun), mengemban peran khusus sebagai "Pengamat Utama Piala Dunia".
Selama 39 hari turnamen berlangsung, tugas mereka adalah memantau semua 104 pertandingan di dalam ruangan kaca khusus yang didirikan tepat di Times Square yang terkenal di Kota New York (AS).
Di dalam "kotak kaca Piala Dunia," Franklin dan Akoto dilengkapi sepenuhnya untuk menonton sepak bola dari pagi hingga malam, termasuk dua layar 85 inci, sofa, meja biliar, dan area interaktif untuk para penggemar.
Setiap hari, ribuan pengunjung yang melewati Times Square dapat menyaksikan langsung "pekerjaan menonton sepak bola" mereka sebagai pertunjukan nyata.
Ide unik ini diimplementasikan oleh Fox Sports, perusahaan yang memegang hak siar Piala Dunia di AS. Setelah menerima ribuan lamaran video dari seluruh negeri, perusahaan tersebut memilih dua individu yang paling cocok untuk mengubah menonton sepak bola menjadi pengalaman media yang dinamis, menyebarkan suasana Piala Dunia dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Untuk mendapatkan "pekerjaan impian" ini, Kevin Akoto bahkan membuat beberapa keputusan sulit: berhenti dari pekerjaannya dan mengorbankan hubungan pribadinya untuk mengejar kesempatan yang berlangsung lebih dari sebulan. Dia berbagi bahwa tidak setiap pertandingan itu seru, tetapi sebagai imbalannya, dia mengalami momen-momen sepak bola tingkat atas dan kesempatan sekali seumur hidup.
Sementara itu, Austin Franklin mengatakan bahwa suasana di Times Square adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan, terutama ketika ratusan penggemar Brasil mengubah area tersebut menjadi "stadion mini" di jantung kota New York.
Franklin berkata: "Ini adalah kenangan yang akan saya hargai seumur hidup. Para penggemar Brasil membawa energi yang luar biasa dan mengubah setiap pertandingan menjadi sebuah festival sejati."
Selain sekadar menonton sepak bola, kedua "penonton profesional" ini juga berinteraksi dengan penggemar, mengomentari pertandingan, dan membuat konten di media sosial, mengubah setiap hari di Piala Dunia menjadi serangkaian aktivitas tanpa henti.
Piala Dunia telah lama menjadi industri bernilai miliaran dolar, di mana sepak bola lebih dari sekadar olahraga; ini adalah media, hiburan, dan bisnis. Kisah Franklin dan Akoto menunjukkan bahwa terkadang, kecintaan pada sepak bola dapat "dibayar" dengan cara yang hanya bisa dibayangkan oleh jutaan penggemar.
Sumber: https://tuoitre.vn/xem-world-cup-2026-nhan-luong-khung-100260625143807735.htm
































































