Delegasi AS dan Iran memulai putaran pertama pembicaraan mereka di Swiss pada 21 Juni sejak kedua pihak menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang bertujuan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung hampir empat bulan di Timur Tengah.
Pertemuan tersebut dipandang sebagai langkah penting menuju kesepakatan komprehensif mengenai isu-isu nuklir, keamanan regional, dan pencabutan sanksi.
Negosiasi tersebut berlangsung di resor Bürgenstock dengan partisipasi mediator dari Qatar dan Pakistan.
Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf hadir dalam pertemuan tersebut.
Namun, tepat sebelum negosiasi dimulai, Iran menetapkan syarat penting untuk fase pembicaraan selanjutnya, dengan menegaskan bahwa mereka tidak akan menandatangani perjanjian akhir dengan AS kecuali konflik di Lebanon diselesaikan.
Teheran menegaskan bahwa penghentian operasi militer Israel dan penarikan pasukan dari wilayah pendudukan di Lebanon selatan merupakan bagian integral dari setiap perjanjian perdamaian yang langgeng.
Teheran juga mengatakan akan memasukkan pembebasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri dan dimulainya kembali izin ekspor minyak ke dalam agenda. Menurut beberapa perkiraan internasional, nilai aset Iran yang dibekukan dapat превысить 100 miliar dolar AS.
Terkait isu nuklir, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kembali komitmen negaranya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, tetapi menekankan bahwa Teheran tidak akan melepaskan haknya untuk memperkaya uranium untuk tujuan damai.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan harapan bahwa pembicaraan tersebut akan menghasilkan kemajuan baik dalam program nuklir Iran maupun menjaga gencatan senjata di Lebanon. Ia mengatakan kedua pihak akan memiliki waktu sekitar 60 hari untuk menegosiasikan syarat-syarat perjanjian akhir.
Meskipun demikian, prospek negosiasi tetap menantang karena pertempuran antara Israel dan Hizbullah belum sepenuhnya berakhir.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan pada 21 Juni bahwa militer negara itu masih diizinkan untuk melakukan operasi guna menghilangkan ancaman di Lebanon selatan dan akan terus mempertahankan kehadiran di zona keamanan di sepanjang perbatasan.
Para pengamat percaya bahwa hasil pembicaraan di Swiss akan sangat penting bagi stabilitas regional serta pasar energi global, mengingat ketidakstabilan di Lebanon masih mengancam untuk memengaruhi seluruh proses rekonsiliasi antara AS dan Iran.
Menurut kesepakatan awal yang dicapai pada pertengahan Juni, AS dan Iran sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata setelah konflik yang dimulai dengan serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, membuka jalan bagi negosiasi tentang program nuklir Teheran, pelonggaran sanksi, dan masalah keamanan regional.
Sumber: https://www.vietnamplus.vn/xung-dot-tai-trung-dong-my-iran-bat-dau-dam-phan-tai-thuy-si-post1119709.vnp








