![]() |
Ketiga aktor dari film The Devil Wears Prada 2. |
Dua puluh tahun lalu, The Devil Wears Prada muncul sebagai komedi satir tentang mode , di mana para wanita muda menyusup ke dunia gemerlap majalah Manhattan dan belajar bertahan hidup di bawah otoritas dingin Miranda Priestly. Namun dalam sekuelnya tahun 2026, film ini bukan lagi sekadar tentang mode.
The Devil Wears Prada 2 mengisahkan tentang sesuatu yang perlahan menghilang: kekuatan budaya media cetak, impian karier generasi milenial, dan disorientasi mereka yang dulunya percaya bahwa kerja keras saja akan membuahkan hasil.
Yang membuat The Devil Wears Prada 2 menarik adalah film ini tidak mencoba untuk sepenuhnya menciptakan kembali semangat bagian pertama. Alih-alih terus mengagungkan dunia yang glamor, film ini menyoroti sisi gelap industri kreatif dengan ruang redaksi yang menyusut, tekanan lalu lintas, dan kelelahan generasi yang dulunya hidup dalam kekaguman orang lain karena mereka memiliki… pekerjaan impian.
![]() |
Film ini sangat beresonansi dengan generasi milenial, yang tumbuh dengan keyakinan bahwa kerja keras dan pengorbanan pribadi yang ekstrem akan membawa mereka ke jajaran elit kreatif. |
Ketika generasi milenial menyadari bahwa impian karier mereka tidak lagi sama seperti dulu.
Film tahun 2006 ini dirilis pada masa keemasan majalah cetak. Pada saat itu, bekerja untuk majalah mode bukan hanya sekadar pekerjaan, tetapi juga simbol status budaya. Vogue, Vanity Fair, atau Harper's Bazaar adalah impian, simbol kesuksesan, dan menentukan estetika dalam industri kreatif.
Namun sekuelnya menempatkan para karakter di dunia yang sama sekali berbeda di mana para influencer telah menjadi terkenal lebih dari sebelumnya.
Miranda Priestly tidak lagi berurusan dengan asisten yang kikuk. Sekarang dia menghadapi TikTok, AI, konten bermerek, dan menurunnya pengaruh jurnalisme cetak. Kekuasaan Miranda belum sepenuhnya hilang, tetapi tidak lagi absolut. Film ini dengan jelas menunjukkan perasaan generasi editor tradisional yang beradaptasi dengan era di mana tren dapat diciptakan dari satu video pendek di media sosial.
Film ini sangat menyentuh hati generasi milenial, yang tumbuh dengan keyakinan bahwa kerja keras dan pengorbanan pribadi yang ekstrem akan membawa mereka ke jajaran elit kreatif. Namun, zaman telah berubah.
Di musim kedua, Andy Sachs bukan lagi wanita muda yang memasuki Manhattan dengan tatapan penasaran. Ia menjadi sosok pekerja kreatif yang dewasa, yang mulai mempertanyakan makna dari "pekerjaan impiannya." Andy lebih sukses, lebih berpengalaman, tetapi juga lebih lelah. Yang memberikan kedalaman pada karakter ini terletak pada pemahamannya tentang sistem yang ia layani, tetapi juga ketidakpastiannya tentang apakah ia masih mempercayainya.
Hal ini membuat The Devil Wears Prada 2 lebih dekat dengan film tentang krisis tenaga kerja kreatif daripada komedi mode tradisional.
![]() |
Anne Hathaway memberikan penampilan yang mengesankan. |
Dunia mode tetap glamor, tetapi kekuasaan telah bergeser.
Jika film pertama memandang fesyen sebagai dunia yang elit dan mempesona, The Devil Wears Prada 2 melihatnya sebagai industri yang mengalami transformasi berkat teknologi, data, dan media sosial.
Film ini tidak lagi mengagungkan editor mode sebagai pusat kekuasaan absolut. Sebaliknya, film ini menunjukkan bagaimana kekuasaan budaya bergeser ke platform digital, kreator konten, dan sistem operasi algoritmik.
Oleh karena itu, Miranda Priestly dalam sekuelnya digambarkan secara signifikan berbeda. Jika Miranda pada tahun 2006 adalah perwujudan dari sosok yang mengatur segalanya, artinya dia dapat memutuskan siapa yang boleh masuk ke dunia mode dan siapa yang tidak, Miranda pada tahun 2026 menyerupai ikon kekuatan zaman dulu yang mencoba mempertahankan martabatnya di era di mana setiap influencer remaja dapat menciptakan tren global dalam semalam.
Oleh karena itu, penampilan Meryl Streep berubah. Ia tidak lagi memerankan Miranda sebagai sosok yang sepenuhnya dingin dan acuh tak acuh. Kali ini, karakter tersebut kurang meledak-ledak tetapi lebih menyendiri. Kehebatan penampilan Streep terletak pada pengendalian diri dalam tatapannya, momen-momen keheningan, dan kelelahan seseorang yang memahami bahwa dunia yang pernah menjadi miliknya berubah terlalu cepat.
Anne Hathaway juga menghadirkan karakter Andy Sachs yang jauh lebih dalam daripada di film sebelumnya. Hathaway "memainkan" karakter tersebut dengan perasaan kelelahan yang sangat khas dari tenaga kerja kreatif di era pasca-2010-an, yang berarti sukses tetapi kebahagiaan yang tidak pasti, memahami aturan main tetapi tidak lagi yakin ingin terus bermain.
Sementara itu, Emily Blunt hampir menjadi perwujudan tipe wanita yang sangat cocok dengan era baru. Dia lebih cerdas, lebih strategis, dan lebih pragmatis daripada rekan-rekannya. Emily bukan lagi sekadar karakter yang dimaksudkan untuk melucu dan meredakan ketegangan film, tetapi telah menjadi simbol kemampuan beradaptasi dalam industri kreatif modern.
Patut dicatat bahwa mode dalam film tetap sangat memikat. Kostum terus digunakan sebagai alat penceritaan yang ampuh. Namun, tidak seperti film-film sebelumnya, pakaian sekarang tidak hanya menandakan status atau selera estetika, tetapi juga mencerminkan kemampuan untuk bertahan hidup di industri yang berubah dengan cepat di mana citra pribadi menjadi bagian dari strategi karier.
Mungkin itulah mengapa The Devil Wears Prada 2 lebih beresonansi dengan penonton dewasa, bersamaan dengan film pertamanya. Film ini tidak lagi menawarkan kemewahan dan gemerlap budaya mode dan majalah. Sebaliknya, film ini beralih ke rasa nostalgia untuk era yang dulunya dianggap akan bertahan selamanya.
Dan dalam sekuel ini, hal yang paling menakutkan bukanlah Miranda Priestly sendiri, melainkan kenyataan bahwa bahkan Miranda Priestly pun tidak dapat mengendalikan masa depan industri yang telah ia dedikasikan hidupnya dan yang sangat ia cintai.
Sumber: https://znews.vn/yeu-nu-da-khac-post1650838.html









Komentar (0)