
Pahami siswa Anda dengan penuh kasih sayang.
Setelah bekerja sebentar di taman kanak-kanak, secara kebetulan, pada tahun 2001 Ibu Thu dipindahkan untuk bekerja di Sekolah Khusus Tuong Lai di kota Da Nang dan telah bekerja di sana sejak saat itu.
Memasuki lingkungan pendidikan yang sama sekali baru, Ibu Thu mau tidak mau menghadapi tantangan dan ketidakpastian awal. Mengenal psikologi, kepribadian, dan gaya komunikasi para siswa membutuhkan kesabaran yang besar. Tekanan mengajar terkadang membuatnya merenung dan merefleksikan pekerjaannya.
Awalnya, Ibu Hoai Thu terutama mengajar siswa tunarungu. Bagi siswa-siswa ini, tantangan terbesar adalah hambatan komunikasi. Mereka tidak dapat mengekspresikan diri secara verbal, sehingga mereka sering kali menjadi gelisah secara emosional ketika orang lain tidak memahami mereka. Untuk terhubung lebih baik dengan murid-muridnya, ia mempelajari bahasa isyarat dan cara mengamati setiap pandangan dan gerak tubuh mereka. Dari momen-momen canggung awal itu, ia dan murid-muridnya secara bertahap saling memahami dengan lebih baik, dan pembelajaran siswa pun meningkat. Banyak siswa menjadi lebih terbuka, percaya diri, dan terintegrasi ke dalam masyarakat.
Ia menyadari bahwa di balik perilaku pemberontak itu terdapat jiwa-jiwa yang terluka dan kurang beruntung. Kekhawatiran awalnya secara bertahap berubah menjadi kasih sayang kepada anak-anak tersebut. Dengan ketekunan, Ibu Thu terbiasa dan secara bertahap membenamkan dirinya dalam dunia mereka, dan kecintaannya pada profesinya mulai berakar tanpa ia sadari.

Guru itu mengenang bahwa ketika ia pertama kali mulai mengajar, seorang murid menampar dirinya sendiri begitu keras hingga kedua pipinya memerah. Saat itu, ia masih kurang berpengalaman dan tidak tahu bagaimana cara bertindak efektif. Perasaan tak berdaya itu melekat padanya selama bertahun-tahun dan juga menjadi motivasi baginya untuk terus meningkatkan keterampilan profesionalnya, mengikuti pelatihan, dan mempelajari metode pendidikan baru untuk lebih memahami murid-muridnya.
Kemudian, ia ditugaskan untuk mengajar kelas yang berisi anak-anak autis dan anak-anak dengan keterlambatan perkembangan. Ini juga merupakan periode yang penuh tekanan baginya, karena hampir semua metode lama tidak lagi sesuai. Para siswa kesulitan berkonsentrasi, sering berperilaku individualistis di kelas, dan tidak ingin berinteraksi dengan siapa pun; setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda.
Dengan tekad untuk mendampingi dan mendukung anak-anak, guru selalu sabar, tenang, dan jeli, menggunakan pendekatan individual untuk setiap anak guna memastikan pengajaran yang efektif. Ini adalah keterampilan dan pelajaran yang diajarkan berulang kali, puluhan atau bahkan ratusan kali. Bahkan peningkatan kecil pada siswa, seperti duduk diam selama beberapa menit tambahan atau aktif bermain dengan teman-teman, membawa kegembiraan bagi guru selama berhari-hari.
Ketika cinta menjadi metode pendidikan terbaik.
Selama dua tahun terakhir, ia telah merawat Vy Thi Thu Thuy, seorang anak tunarungu dari Kon Tum, yang dititipkan kepadanya oleh orang tuanya. Baginya, tekanan terbesar bukanlah perawatan itu sendiri, melainkan tanggung jawabnya. Anak-anak berkebutuhan khusus tidak dapat mengekspresikan emosi atau kebutuhan mereka seperti anak-anak normal. Melalui kesabaran dan kedekatan sehari-hari, gadis kecil itu perlahan berubah. Dari seorang anak yang pemalu, ia mulai berbaur dengan teman-temannya, berpartisipasi dalam kegiatan seni dan budaya, dan dengan gembira pergi ke sekolah setiap hari.

Dalam beberapa tahun terakhir, guru Nguyen Thi Hoai Thu terus belajar dan mengeksplorasi metode pengajaran baru dan inisiatif yang tepat untuk membantu kemajuan siswanya. Contoh tipikalnya meliputi: "Inisiatif Model Geometris untuk Membantu Siswa Sekolah Dasar Tunarungu di Sekolah Khusus Tuong Lai Mempelajari Matematika dengan Baik" pada tahun ajaran 2021-2022; atau inisiatif "Jendela Multifungsi untuk Siswa Tunarungu di Sekolah Khusus Tuong Lai"... Inisiatif-inisiatif ini bukan sekadar metode pendukung pengajaran, tetapi juga berakar dari kecintaannya kepada murid-muridnya.
Selama lebih dari 20 tahun mengabdikan diri di Sekolah Khusus Tuong Lai di Da Nang, Ibu Nguyen Thi Hoai Thu telah mendampingi banyak generasi siswa dengan latar belakang dan kepribadian yang beragam. Melalui interaksinya dengan para siswa ini, beliau menyadari bahwa hal terpenting bukanlah memaksa mereka untuk berubah seketika, tetapi benar-benar mendengarkan dan memahami alasan di balik setiap perilaku. Para siswa sendirilah yang telah mengajarkannya untuk lebih sabar dan mencintai dengan empati yang tulus.
Sepanjang perjalanan mengajarnya yang tak kenal lelah, ia dianugerahi gelar Guru Teladan Da Nang untuk tahun ajaran 2021-2022. Namun, baginya, penghargaan terbesar bukanlah gelar-gelar tersebut, melainkan menyaksikan murid-muridnya tumbuh dan menjadi lebih percaya diri dalam hidup dari hari ke hari.
Ibu Hoai Thu berbagi: "Selama 20 tahun terakhir, saya menyadari bahwa 'pencapaian' terbesar saya sebagai seorang guru adalah mampu memberikan pengetahuan dan kasih sayang, membantu anak-anak yang dulunya pemalu dan pendiam untuk tersenyum, berharap, dan melangkah dengan percaya diri menuju masa depan."
Sumber: https://nhandan.vn/25-nam-cung-cac-em-hoa-nhap-cuoc-song-post965553.html








Komentar (0)