| Pham Nguyen Thanh Lam (baris depan, paling kanan) dan neneknya tinggal di sebuah kamar di asrama Universitas Pendidikan, Universitas Da Nang . Kamar tersebut disewakan secara gratis oleh universitas. Foto: TD |
Cahaya dari cinta
Terlahir dengan penglihatan normal, kehidupan Phạm Nguyễn Thanh Lam berubah total sekitar tahun 2019 ketika, saat duduk di kelas 8, ia tiba-tiba jatuh sakit. Hanya dalam 10 hari, mata kanannya kehilangan penglihatan sepenuhnya, sementara mata kirinya hanya memiliki penglihatan 2/10. Pada pertengahan kelas 9, ia menjadi buta total. Dokter mendiagnosis Lam menderita glaukoma, penyakit yang umum ditemukan pada lansia, dan kasusnya sangat langka pada usianya.
Tragedi mendadak itu membuat Lam dan keluarganya terkejut. Dari seorang gadis yang ceria, Lam perlahan menjadi tidak percaya diri dan menarik diri dari dunia sekitarnya. Dia harus menghadapi kegelapan dan belajar beradaptasi dengan kehidupan dengan gangguan penglihatan. Tetapi dalam perjalanan yang berat ini, Lam tidak sendirian. Keluarga, guru, dan teman-temannya menjadi sistem pendukung yang kuat, membantunya mengatasi kesulitan selangkah demi selangkah.
Di masa-masa tersulit, Ibu Nguyen Thi Thanh Tuong (lahir tahun 1977, ibu Lam) bukan hanya seorang ibu tetapi juga seorang teman dan sumber dukungan emosional bagi putrinya. Setiap akhir pekan selama musim panas setelah kelas sembilan Lam, Ibu Tuong mengantar Lam dari Quang Nam ke Da Nang untuk belajar Braille. Selama dua tahun lamanya, beliau dengan sabar menemani putrinya, mengatasi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Dalam perjalanan bolak-balik itu, beliau selalu membisikkan kata-kata penyemangat kepada putrinya: "Kehilangan penglihatan bukan berarti kehilangan segalanya." Kata-kata sederhana namun penuh kasih ini memberi Lam kekuatan untuk tidak menyerah.
Ketika Lam lulus ujian masuk Universitas Pendidikan (Universitas Da Nang), keluarganya diliputi kegembiraan. Namun, kegembiraan itu juga disertai kekhawatiran yang menghantui: "Bagaimana dia bisa mengurus dirinya sendiri di kota asing ketika dia tidak bisa melihat?" Karena tidak tega meninggalkan cucunya menghadapi kesulitan sendirian, Ibu Huynh Thi Bich Hong (lahir tahun 1937, nenek dari pihak ibu Lam, dari komune Tien Canh, distrik Tien Phuoc), yang belum pernah meninggalkan tanah kelahirannya, memutuskan untuk mengemasi barang-barangnya dan pindah ke Da Nang bersama Lam. Setiap hari, ia menemani Lam dari kamar sewaan mereka ke ruang kuliah dan kembali lagi. Wanita tua berambut abu-abu dan bertubuh lemah itu menjadi mata dan penopang emosional bagi cucunya.
Gambar nenek dan cucu perempuan yang diam-diam bergandengan tangan dalam perjalanan ke sekolah menyentuh hati banyak orang. Merasa simpati dengan situasi Lam, Universitas Pendidikan memberikan mereka akomodasi gratis di asrama. Kamar yang luas dan dilengkapi dengan baik itu bukan hanya tempat tinggal tetapi juga bukti kepedulian dan dukungan masyarakat terhadap mereka berdua. Profesor Madya Vo Van Minh, Rektor universitas tersebut, berbagi: "Kisah Lam adalah sumber inspirasi yang kuat tentang kemauan dan ketekunan dalam hidup. Kami berharap melalui kisah ini, kaum muda akan menyadari bahwa keadaan tidak menentukan kesuksesan, tetapi usaha dan semangat untuk mengatasi kesulitan akan membuka pintu menuju masa depan."
Cahaya dari kekuatan untuk mengatasi kesulitan
Sepanjang perjalanan hidupnya yang penuh tantangan, Lam tidak pernah membiarkan kegelapan mengalahkannya. Ia memahami bahwa hanya melalui pendidikan ia dapat menjadi mandiri dan membuka masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, siswi tunanetra ini gigih mengejar mimpinya. Ibu Tuong masih mengingat dengan jelas kata-kata putrinya di masa-masa sulit: "Bu, jangan sedih, meskipun aku buta, aku masih hidup bersama Ibu dan Ayah." Optimisme dan kekuatan Lam menjadi pendorong bagi seluruh keluarga untuk terus maju.
Lam memilih untuk belajar Psikologi karena ia ingin dapat membantu orang-orang dalam situasi serupa di masa depan. Ia mengatakan bahwa pengalamannya sendiri membantunya memahami trauma emosional yang dihadapi oleh penyandang tunanetra dan ia ingin berbagi hal itu dengan mereka. Awalnya, Lam cukup cemas ketika memulai kuliah, tetapi dukungan dari teman-teman dan gurunya membantunya mendapatkan kepercayaan diri. Nguyen Thi Khanh Linh, teman sekelas dan teman sekamar Lam di asrama, berbagi: "Lam sangat rajin dan cerdas. Setiap kali kami mengerjakan tugas kelompok, ia selalu memberikan banyak ide bagus. Lam adalah panutan bagi kami untuk menghargai apa yang kami miliki dan berusaha lebih keras untuk masa depan."
Meskipun masih banyak tantangan di depan, Lam tidak pernah berhenti berusaha. Lam berbagi: "Saya merasa beruntung karena meskipun penglihatan saya telah hilang, saya masih memiliki tubuh yang sehat. Saya masih bisa bersekolah, dan yang terpenting, saya selalu menerima kasih sayang dan dukungan dari keluarga, guru, teman, dan bahkan orang asing. Hal-hal ini membantu saya untuk tidak pernah menyerah."
Cahaya telah padam selamanya dari mata Lam, tetapi cahaya lain tidak pernah padam. Itu adalah cahaya ketahanan yang luar biasa, keyakinan akan masa depan. Dan lebih dari itu, itu adalah cahaya cinta – cahaya hangat yang telah menerangi jalannya, membantu Lam untuk terus melangkah menuju hari esok yang lebih cerah.
THU DUYEN
Sumber: https://baodanang.vn/channel/5433/202504/anh-sang-cua-lam-4003535/






Komentar (0)