Beban yang tak terlihat
Generasi Z (lahir antara tahun 1997 dan 2010) dan Generasi Alpha (lahir setelah tahun 2010) tumbuh bersamaan dengan ledakan media sosial, yang telah menjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Generasi ini juga mengalami tahun-tahun pembelajaran daring karena pandemi, ketika ruang digital menjadi saluran utama koneksi. Bagi mereka, batas antara realitas dan virtualitas menjadi lebih kabur dari sebelumnya. Akibatnya, tekanan untuk membuat kesan, untuk menonjol, atau yang sekarang disebut "bersinar," telah menjadi tantangan utama untuk menghindari tertinggal dari teman sebaya mereka, terutama teman-teman daring.

Cara paling mudah bagi banyak anak muda untuk "bersinar" adalah dengan cermat mengelola profil media sosial mereka agar selalu menonjol: foto yang diedit dengan hati-hati, check-in di lokasi mewah, atau barang-barang bermerek. Gambar-gambar ini dengan mudah mendapatkan banyak like dan komentar yang mengagumi. Namun, bagi banyak anak muda, "bersinar" di media sosial ini terkadang hanyalah fasad yang dibangun dengan hati-hati. Di baliknya terdapat tekanan finansial, pola pikir kompetitif, dan kebutuhan konstan untuk membuktikan diri.
Nguyen Quynh Phuong H. (28 tahun, desainer grafis, tinggal di Kelurahan Tan Binh), yang pernah menjalani gaya hidup mewah, mengenang: "Setelah lulus kuliah, saya beruntung mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus. Karena mudah mendapatkan uang, saya menjadi lengah dan menghabiskan uang dengan bebas. Mulai dari makan di restoran mewah hingga membeli gadget teknologi mahal. Misalnya, pekerjaan saya sebenarnya hanya membutuhkan laptop kelas menengah, tetapi saya tetap menghabiskan lebih dari 70 juta VND untuk sebuah laptop kelas atas, hanya untuk membuat video unboxing yang akan diunggah online. Akibatnya, selama lebih dari setahun bekerja, seluruh penghasilan saya hanya cukup untuk membayar utang kartu kredit."
Kecepatan atau daya tahan?
Ini juga merupakan bentuk tekanan "megah", tetapi tekanan ini tidak berasal dari citra glamor di media sosial atau barang-barang gaya hidup. Banyak anak muda menetapkan target pencapaian untuk perkembangan karier yang cepat: mereka harus segera menjadi pemimpin tim atau kepala departemen, dan mencapai posisi serta prestasi di usia yang sangat muda.
Dalam lingkungan masyarakat modern yang kompetitif dan serba cepat, kecepatan terkadang menjadi ukuran kesuksesan. Kisah-kisah tentang kemajuan karier yang mudah membuat banyak orang merasa bahwa jika mereka tidak bergerak cepat, mereka akan tertinggal. Tetapi perbandingan inilah yang juga menjebak banyak anak muda dalam siklus tekanan, selalu merasa bahwa mereka tidak cukup baik, tidak cukup cepat.
Setelah lulus dari universitas, Nguyen Thanh T. (32 tahun, insinyur kimia organik, tinggal di komune Binh Hung) menemukan pekerjaan yang memuaskan dan menetapkan tujuan untuk menjadi kepala tim penelitian senyawa hanya dalam waktu setengah tahun setelah mulai bekerja. T. menceritakan: “Saat itu, mantan ketua tim saya mengatakan bahwa ia akan beremigrasi bersama keluarganya ke luar negeri, jadi saya bekerja siang dan malam di laboratorium untuk bersaing memperebutkan posisi ini dengan rekan-rekan saya. Hasil usaha saya memang ada, tetapi konsekuensinya adalah penurunan kesehatan yang signifikan.” Saat ini, T. harus mengeluarkan banyak uang untuk mengobati bronkitis yang disebabkan oleh kerja berlebihan akibat kurang tidur. Baginya, gaji dan posisi tidak lagi penting. “Saya memilih untuk mengurangi kecepatan, tetap berjuang dalam pekerjaan saya tetapi menemukan keseimbangan yang lebih baik antara kerja dan istirahat. Semuanya menjadi lebih menyenangkan, dan semangat saya tidak lagi setegang sebelumnya,” ujar Nguyen Thanh T.
Banyak profesional SDM percaya bahwa karier bukanlah hasil dari lari cepat, melainkan perjalanan panjang. Kecepatan mungkin menciptakan momen-momen gemilang, tetapi ketahananlah yang menentukan jalan yang kokoh menuju pengembangan diri. Ketika kaum muda mengumpulkan pengalaman, mengasah keterampilan mereka, dan memahami kecepatan perkembangan mereka sendiri, kesuksesan mungkin datang sedikit lebih lambat, tetapi biasanya lebih berkelanjutan.
Di dunia di mana setiap pencapaian mudah dipamerkan dan dibandingkan, tekanan untuk "bersinar" telah menjadi perasaan yang familiar bagi banyak anak muda. Tetapi "bersinar" tidak selalu berarti kemajuan pesat atau harta benda yang mahal. Terkadang, itu hanya tentang menemukan ritme sendiri dan memiliki ketekunan untuk menyelesaikan jalan yang dipilih hingga akhir.
Sumber: https://www.sggp.org.vn/ap-luc-ruc-ro-de-nang-nguoi-tre-post843389.html






Komentar (0)