
Pada tanggal 23 Februari, harga Bitcoin turun lebih dari 5% menjadi di bawah $65.000 setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana untuk menaikkan tarif global menjadi 15%, yang mengguncang sentimen pasar. Ether juga turun lebih dari 5%, menjadi $1.861.
Penurunan harga Bitcoin di bawah $65.000 pada pertengahan Februari memicu perintah stop-loss otomatis, yang menjerumuskan pasar ke dalam spiral negatif.
Bitcoin pernah diharapkan menjadi "emas digital," aset aman selama periode inflasi dan ketidakstabilan geopolitik . Namun, kenyataan dua bulan pertama tahun 2026 membuktikan sebaliknya. Bitcoin bereaksi seperti aset berisiko tinggi, sensitif terhadap berita makroekonomi sama seperti saham teknologi.
Ketegangan perdagangan global meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif dari 10% menjadi 15%, menyebabkan modal mengalir keluar dari aset yang sangat fluktuatif. Menurut laporan dari Franklin Templeton Institute, ketidakpastian tentang suku bunga dan likuiditas global adalah hambatan terbesar bagi pemulihan kripto.
Pakar Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, meyakini bahwa Bitcoin sedang menghadapi krisis karena gagal menembus pasar yang setara dengan emas. Ia berpendapat bahwa ketidakmampuan Bitcoin untuk mengimbangi kenaikan harga emas dan keterlambatannya di belakang indeks saham utama merupakan tanda peringatan akan pergeseran mendasar dalam sentimen investor.
Di sisi lain, sementara harga Bitcoin turun, saham-saham Asia justru naik pada perdagangan awal tanggal 23 Februari. Perkembangan ini menyoroti perbedaan antara mata uang kripto dan pasar saham di tengah ketidakpastian yang kembali muncul terkait tarif.
Sumber: https://vtv.vn/bitcoin-thung-moc-65000-usd-100260223103757829.htm







Komentar (0)