Setelah sekian lama dinantikan, tim nasional Brasil akhirnya menyelesaikan susunan pemainnya untuk Piala Dunia 2026. Namun, daftar tersebut telah memicu kontroversi yang cukup besar.

Tim nasional Brasil menuju Piala Dunia 2026 dengan tekad untuk memenangkan kejuaraan.

Poin pertama yang menjadi perdebatan terletak pada keputusan pelatih Carlo Ancelotti untuk membawa Neymar kembali ke tim nasional Brasil setelah absen lama karena cedera. Sementara itu, beberapa bintang yang bermain bagus di Eropa justru tidak dipanggil sama sekali.

Namun hal itu tidak secara signifikan memengaruhi kedatangan mereka di ajang sepak bola terbesar di planet ini sebagai salah satu kandidat juara.

Secara historis, Brasil selalu menjadi tim yang paling menarik perhatian di Piala Dunia, dan akibatnya, tekanan pada mereka sangat besar. Bagi banyak tim, melaju jauh di turnamen dianggap sebagai sebuah kesuksesan, tetapi standar bagi Selecao adalah memenangkan kejuaraan.

Di Piala Dunia 2026, keraguan tentang tim nasional Brasil bukanlah tanpa dasar. Brasil menjalani kampanye kualifikasi yang kurang ideal, hanya finis di posisi ke-5 dari 10 tim dan tertinggal 10 poin dari rival abadi mereka, Argentina. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mempertahankan konsistensi.

Skuad Brasil saat ini juga kekurangan banyak bintang dalam performa puncak, karena mantan pilar seperti Neymar dan Casemiro semakin tua. Sementara itu, banyak pemain kunci lainnya tidak dalam kondisi fisik atau performa terbaik mereka.

Namun, meremehkan Brasil di Piala Dunia 2026 akan menjadi kesalahan besar. Meskipun mereka tidak lagi memiliki figur ikonik dari generasi sebelumnya, tim Amerika Selatan ini masih memiliki skuad berkualitas tinggi dengan nama-nama seperti Vinicius Junior, Raphinha, Gabriel Martinelli, Matheus Cunha, dan Endrick.

Selain itu, di turnamen mendatang di Amerika Utara, Brasil akan dipimpin oleh pelatih berbakat Carlo Ancelotti, dan ini bisa menjadi perbedaan terbesar. Pelatih ini memahami cara mengelola ruang ganti, mengendalikan ego pemain bintang, dan mengubah sekelompok individu besar menjadi tim yang bermain untuk tujuan bersama. Hal ini telah terbukti ketika ia memimpin Real Madrid.

Bagi Brasil, ini sangat penting. Perlu dicatat bahwa mereka tidak pernah kekurangan pemain berbakat, tetapi penampilan mereka di Piala Dunia baru-baru ini kurang berhasil, menunjukkan bahwa mereka kekurangan ahli strategi yang dapat mengubah individu-individu luar biasa tersebut menjadi tim yang tangguh.

Dua juara Piala Dunia terbaru, Prancis dan Argentina, telah menunjukkan kepada dunia bahwa, di level sepak bola tertinggi, organisasi, disiplin, dan keseimbangan terkadang lebih penting daripada bakat dan kemampuan individu.

Kemenangan Argentina di Piala Dunia 2022 bukan semata-mata karena kehebatan individu sang superstar Lionel Messi; di belakangnya ada tim yang tahu bagaimana berjuang dan berkorban untuk satu sama lain. Kesuksesan Prancis selama bertahun-tahun tidak didasarkan pada pemain luar biasa seperti Mbappe atau Dembele, melainkan pada struktur permainan yang pragmatis dan efektif.

Melihat hal itu, jelas bahwa jika Brasil ingin sukses, mereka perlu mengikuti jalan tersebut. Tentu saja, mereka tidak perlu sekadar meniru formula Argentina atau Prancis, tetapi mereka perlu melepaskan diri dari cangkang tim yang hanya tahu cara bermain individual dan mengandalkan momen-momen jenius dari Neymar atau Vinicius. Sebaliknya, mereka perlu belajar mengendalikan risiko, menang dengan berbagai cara, dan lebih tenang dalam pertandingan besar.

Itulah salah satu alasan mengapa pelatih Ancelotti menerima begitu banyak harapan. Di bawah pelatih kelahiran Italia ini, Brasil memiliki kesempatan untuk menjadi versi yang lebih kuat, lebih percaya diri, efektif, dan lebih solid.

Sebagian besar pemain kunci Brasil saat ini bermain di level tertinggi di Eropa, di mana sepak bola menuntut tingkat kesadaran taktis yang sangat tinggi. Mereka sudah terbiasa dengan pressing, transisi, kontrol posisi, dan disiplin tim. Jika Ancelotti dapat menyatukan elemen-elemen ini, Brasil bisa menjadi tim yang kaya akan karakter Amerika Selatan dan cukup pragmatis menurut standar Eropa.

Namun tantangan terbesar Brasil terletak pada identitasnya. Selama bertahun-tahun, Brasil terjebak di antara masa lalu dan masa kini. Mereka ingin mempertahankan citra sepak bola menyerang yang flamboyan, tetapi mereka tidak lagi memiliki cukup pemain jenius untuk mengalahkan lawan hanya melalui inspirasi. Mereka juga ingin menjadi lebih modern dan disiplin, tetapi mereka kekurangan sistem yang benar-benar stabil. Oleh karena itu, Ancelotti tidak hanya berada di sini untuk memilih tim, tetapi juga untuk menjawab pertanyaan tentang tim seperti apa yang ingin Brasil wujudkan di era baru ini.

Melihat hal itu, jelas bahwa Brasil masih memiliki banyak masalah yang perlu diatasi sebelum Piala Dunia 2026. Namun tak diragukan lagi, mereka tetap menjadi pesaing sejati untuk gelar juara, dan lawan mana pun yang meremehkan mereka bisa membayar mahal.

    Sumber: https://www.qdnd.vn/the-thao/worldcup-2026/brazil-tai-world-cup-2026-ga-khong-lo-thuc-giac-1042221