
Mulai dari pembayaran bunga atas deposito emas hingga model perbankan emas khusus, India, Turki, dan Indonesia menawarkan pelajaran praktis yang patut diperhatikan.
India: Ambisi untuk "memonetisasi" 25.000 ton emas dan hambatan budaya.
Sebagai konsumen emas terbesar kedua di dunia , India diperkirakan memiliki sekitar 23.000-25.000 ton emas, tetapi sebagian besar aset ini dianggap sebagai investasi yang tidak menghasilkan nilai produktif. Untuk mengurangi tekanan impor, yang menelan biaya hampir $60 miliar setiap tahunnya, pemerintah India telah menerapkan Skema Monetisasi Emas (Gold Monetization Scheme/GMS) sejak tahun 2015.
Melalui mekanisme ini, masyarakat dapat membawa perhiasan emas mereka ke pusat pengujian untuk menukarkannya dengan sertifikat deposito di delapan bank yang ditunjuk. Fitur menariknya adalah penabung menerima pembayaran bunga secara berkala, dengan jangka waktu menengah dan panjang (5-15 tahun) yang dibayarkan oleh pemerintah dengan tingkat bunga 2,25-2,5% per tahun. Saat jatuh tempo, nasabah dapat memilih untuk menerima kembali pokok investasi mereka dalam bentuk emas atau uang tunai.
Namun, kelemahan krusial yang menyebabkan kegagalan program tersebut terletak pada aspek spiritual dan budaya. Untuk memasukkannya ke dalam sistem, emas milik masyarakat akan dilebur, menghancurkan nilai spiritual sakral perhiasan yang sering diwariskan dari generasi ke generasi.
Akibatnya, setelah hampir satu dekade, GMS hanya berhasil mengumpulkan 37,8 ton emas, angka yang jauh di bawah ekspektasi, memaksa pemerintah untuk menangguhkan jatuh tempo jangka panjang karena meningkatnya biaya bunga.
Turki: Upaya yang tidak berhasil dalam menghadapi badai inflasi.
Di Turki, di mana warga negaranya diyakini menyimpan hingga 5.000 ton emas di rumah, pemerintah juga telah melakukan intervensi yang kuat dengan kebijakan yang mendorong konversi emas menjadi mata uang lokal.
Mulai Maret 2022, masyarakat dapat dengan mudah membawa tabungan emas mereka ke 1.500 toko perhiasan atau bank untuk membuka rekening.
Beberapa bank swasta, seperti alBaraka dan Ziraat, bahkan menerima deposito perhiasan emas yang dikonversi menjadi emas 24 karat, dan beberapa bahkan menawarkan program deposito emas jangka tetap dengan bunga.
Namun, para ahli percaya bahwa upaya-upaya ini belum membuahkan hasil yang signifikan. Alasan utamanya berasal dari hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan ekonomi di tengah hiperinflasi. Bagi mereka, memegang emas fisik tetap menjadi tempat berlindung yang jauh lebih aman dan menarik daripada suku bunga rendah yang ditawarkan oleh bank karena harga emas terus meningkat.

Indonesia: Langkah baru yang berani dengan model perbankan emas.
Berbeda dengan metode tradisional, Indonesia telah memilih jalur baru dengan secara resmi meluncurkan dua bank bullion pada awal tahun 2025. Model ini mengintegrasikan seluruh rantai pasokan domestik, memungkinkan masyarakat untuk menyimpan emas, mendapatkan pinjaman dengan jaminan emas, berdagang, atau sekadar menyimpan emas mereka dengan aman.
Hasil awalnya cukup menjanjikan, dengan jumlah pelanggan yang mengakses layanan tersebut meroket menjadi 5,7 juta hanya dalam satu tahun. Yang menarik, jumlah emas yang digadaian di Pegadaian mencapai 144,7 ton.
Menurut para ahli, keberhasilan ini tidak hanya berasal dari kemudahan mengakses pembiayaan, tetapi juga dari ketidakstabilan global yang menyebabkan harga emas meroket, sehingga mendorong kebutuhan investasi dan penggalangan dana.
Ekonom Indonesia Wisnu Setiadi Nugroho menyimpulkan bahwa kunci keberhasilan tidak hanya terletak pada keuntungan, tetapi juga pada kemampuan membangun kepercayaan, memastikan keamanan aset dan likuiditas yang lebih tinggi, sehingga membawa manfaat nyata bagi perekonomian.
Sumber: https://baovanhoa.vn/kinh-te/cac-nuoc-huy-dong-vang-trong-dan-nhu-the-nao-232587.html








Komentar (0)