Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri Josep Borrell, Presiden Serbia Aleksandar Vucic dan pemimpin Kosovo Vjosa Osmani bertemu pada tanggal 1 Juni di sela-sela konferensi Komunitas Politik Eropa di Moldova.
Presiden Prancis Emmanuel Macron, pemimpin Kosovo Vjosa Osmani dan Kanselir Jerman Olaf Scholz pada sebuah konferensi di Bulboaca, Moldova pada tanggal 1 Juni.
Di sana, kedua pemimpin Prancis dan Jerman menyerukan Kosovo untuk mengadakan pemilihan umum baru di empat kota di utara tempat orang Serbia menjadi mayoritas, menurut Reuters.
Sekitar 90% penduduk Kosovo adalah etnis Albania, tetapi di utara, mayoritas adalah orang Serbia yang setia kepada Serbia. Kosovo secara sepihak mendeklarasikan kemerdekaan dari Serbia pada tahun 2008, tetapi Beograd belum mengakuinya.
Pemilihan wali kota yang disengketakan pada bulan April memicu protes dan bentrokan berdarah baru-baru ini. Warga Serbia memboikot pemilihan tersebut, yang mengakibatkan jumlah pemilih kurang dari 3,5% dan kemenangan mudah bagi para kandidat Albania.
"Kami telah meminta kedua belah pihak untuk mengadakan pemilihan umum baru di keempat kotamadya ini sesegera mungkin, dengan komitmen dari Kosovo untuk partisipasi Serbia dalam pemilihan umum ini secara jelas," ujar Presiden Macron setelah pertemuan pada 1 Juni. Kosovo juga diminta untuk memenuhi komitmennya memberikan otonomi yang lebih besar kepada warga Serbia di utara. Macron mengatakan Kosovo dan Serbia memiliki waktu seminggu untuk menanggapi proposal Eropa tersebut.
Ibu Osmani menuduh para pemimpin Serbia "mengeluh dan tidak mengatakan kebenaran". Namun, ia mengatakan Kosovo siap menyelenggarakan pemilu baru di wilayah utara dengan partisipasi Serbia jika dilaksanakan sesuai proses hukum.
Osmani mengatakan dia telah memberi tahu para pemimpin Eropa bahwa pemilu itu akan sepenuhnya sah jika para pemimpin Beograd tidak menyerukan warga Serbia untuk memboikot pemilu.
Osmani mengatakan solusi untuk de-eskalasi sudah dekat, tetapi Serbia harus memenuhi komitmennya berdasarkan perjanjian Maret yang telah mengembalikan hubungan normal. "Kita harus memastikan implementasi seluruh perjanjian, bukan hanya sebagian," ujarnya.
Presiden Vucic meninggalkan konferensi tanpa berkomentar mengenai pertemuannya dengan Ibu Osmani. Sebelumnya, ia telah meminta pemerintah Kosovo untuk menarik wali kota dari wilayah utara dan menyatakan unit polisi khusus Kosovo di sana ilegal.
[iklan_2]
Tautan sumber
Komentar (0)