
Bagi Mai Thi Kim Anh, ketua tim, perjalanan itu dimulai dengan "pertemuan kebetulan" yang sangat sederhana. Selama shift kerjanya, ia sering melihat orang asing memungut sampah di jalanan dan pantai Da Nang.
Pertama kali karena rasa ingin tahu, kedua kalinya karena ingin memperhatikan, dan pada kali ketiga, dorongan yang kuat membuatnya tidak mungkin lagi mengabaikannya. Sebuah pertanyaan bergema di benaknya: mengapa orang asing bersedia melakukan ini di Vietnam, sementara dia – seorang penduduk – hanya berdiri di pinggir lapangan? Sejak saat itu, dia berbalik, bergabung dengan mereka, dan secara bertahap terlibat tanpa menyadarinya.
Ketika memulai inisiatif ini, yang membuat Ibu Anh tetap terlibat bukanlah hanya pekerjaan memungut sampah, tetapi juga semangat positif yang terpancar dari setiap anggota. Antusiasme, kegembiraan, dan motivasi diri setiap orang membuatnya menyadari bahwa sekadar berpartisipasi untuk dirinya sendiri tidaklah cukup. Ia perlu bertindak lebih kuat, menginspirasi lebih banyak orang, dan mengajak masyarakat untuk bergandengan tangan. Da Nang adalah kota yang layak huni, dan sebagai kota yang layak huni, lingkungannya perlu dilestarikan agar tetap hijau, bersih, dan indah.
Dengan demikian, dari awal yang sederhana dengan hanya beberapa anggota inti, Trash Hero Da Nang secara bertahap berkembang menjadi komunitas yang terbuka dan beragam. Saat ini, grup ini memiliki lebih dari 200 anggota, termasuk lebih dari 100 warga asing yang tinggal dan bekerja di Da Nang, bersama dengan penduduk lokal dan wisatawan.
Setiap sesi bersih-bersih mungkin memiliki jumlah peserta yang berbeda-beda tergantung pada ketersediaan masing-masing individu, tetapi setiap orang yang datang membawa serta semangat kesukarelaan dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Metode kerja kelompok ini sangat fleksibel. Ketika mereka menemukan "titik rawan" sampah – baik itu pantai, area perumahan, atau sudut jalan yang terabaikan – Ibu Anh atau para anggota akan secara proaktif mengusulkan solusi.
Informasi mengenai lokasi dan waktu akan diposting di halaman Trash Hero Da Nang dan dibagikan secara luas di antara kelompok relawan lokal dan komunitas ekspatriat. Jam operasional juga akan disesuaikan secara musiman: dari pukul 16.00 hingga 17.00 di musim dingin, dan dari pukul 17.00 hingga 18.00 di musim panas, untuk memastikan kenyamanan dan kesejahteraan para peserta.
Salah satu aspek unik yang membedakan Trash Hero Da Nang adalah kelompok ini tidak menerima sponsor. Peralatan untuk kegiatan mereka, seperti sarung tangan, alat pemungut sampah, kemasan, dan seragam, disediakan oleh restoran vegetarian seperti Loving Vegan dan No Waste, atau dibeli secara sukarela oleh para anggota sendiri.
Selain itu, Trash Hero World juga menyediakan dukungan dan sumber daya untuk membantu kelompok tersebut mempertahankan operasinya dalam jangka panjang. Transparansi dan pendekatan non-materialistis membantu kelompok tersebut tetap setia pada tujuan awalnya: membersihkan lingkungan melalui tindakan nyata, bukan untuk keuntungan pribadi.
Di antara para peserta terdapat banyak wajah muda. Truong My Diem, seorang siswa kelas 6, mengikuti kerabatnya ke acara bersih-bersih akhir pekan, kegembiraannya terlihat jelas di wajahnya. Diem berbagi bahwa ia merasa senang dapat membersihkan jalanan dan pantai secara pribadi dan berharap semua orang akan menahan diri dari membuang sampah sembarangan sehingga kota ini akan selalu tetap indah.
Pemikiran yang polos namun tulus ini merupakan bukti nyata bahwa kesadaran lingkungan dapat ditanamkan sejak usia sangat muda, hanya melalui tindakan nyata.
Kelompok ini juga secara rutin menyambut anggota baru yang bergabung untuk pertama kalinya, termasuk Mateus dari Brasil. Dia mengatakan bahwa dia mengetahui tentang Trash Hero Da Nang secara kebetulan, ketika dia mencari informasi tentang kegiatan pembersihan sampah di Da Nang di Google.
“Ini pertama kalinya saya berpartisipasi, tetapi rasanya sangat istimewa. Semua orang ramah, bekerja dengan serius namun tetap bersenang-senang. Saya pikir jika semua orang bersedia meluangkan sedikit waktu seperti ini, lingkungan akan banyak berubah,” kata Mateus, sambil tangannya sibuk mengumpulkan sampah di pantai.
Di antara banyak sesi bersih-bersih yang telah dilakukan, beberapa kenangan menonjol bagi para anggota. Salah satunya adalah hari yang berbadai dengan angin laut yang kencang dan cuaca buruk, tetapi kelompok tersebut tetap memutuskan untuk keluar dan membantu.
Bahkan ada seseorang yang berkendara jauh dari Hoi An ke Da Nang hanya untuk berada di sana. Semua orang basah kuyup dan kelelahan, tetapi tidak ada yang mengeluh. Sebaliknya, kegembiraan tampak jelas di wajah semua orang, karena semua orang merasakan makna dari tindakan mereka, sekecil apa pun, namun penuh nilai.
Bagi Ibu Mai Thi Kim Anh, memungut sampah hanyalah permulaan. Cita-cita yang lebih besar dari beliau dan anggota lainnya adalah untuk menyelenggarakan lebih banyak kegiatan peningkatan kesadaran di sekolah-sekolah dan kawasan permukiman di masa mendatang, menjalin kerja sama dengan pemerintah setempat untuk berbagi dan menyebarkan pesan perlindungan lingkungan kepada anak-anak, siswa, dan masyarakat umum.
Menurutnya, hal terpenting bukanlah seberapa banyak sampah yang dikumpulkan, tetapi bagaimana mencegah terjadinya perilaku membuang sampah sembarangan dalam kesadaran setiap individu.
Oleh karena itu, Trash Hero Da Nang bukan hanya kelompok sukarelawan, tetapi juga simbol solidaritas, tanggung jawab komunitas, dan kecintaan terhadap lingkungan.
Sumber: https://baodanang.vn/chung-tay-lam-sach-duong-pho-da-nang-3326750.html






Komentar (0)