
Dari pakaian dan kemasan hingga pupuk, minyak bumi hadir di hampir setiap aspek kehidupan modern. Namun, seiring memburuknya krisis energi, perubahan iklim, dan polusi, banyak ilmuwan dan bisnis bereksperimen dengan material baru yang terbuat dari jamur, rumput laut, atau limbah organik dengan harapan secara bertahap mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Revolusi material hijau mungkin diam-diam dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita.

Laboratorium Universitas Harvard sedang bereksperimen dengan menggunakan tanaman untuk menggantikan produk petrokimia. Foto: harvard.edu
Kemunculan biomaterial dalam industri mode .
Selama beberapa dekade, minyak bukan hanya sekadar bahan bakar untuk kendaraan atau pabrik. Minyak hadir di hampir semua hal di sekitar kita: pakaian, kemasan, kosmetik, elektronik, pupuk, bahan bangunan… Menurut Badan Energi Internasional (IEA), petrokimia dari minyak dan gas kini mencakup hingga 90% bahan baku yang digunakan dalam kehidupan modern. Namun, seiring dengan meningkatnya perubahan iklim dan krisis energi, banyak ilmuwan, perancang, dan bisnis mencoba menjawab pertanyaan besar: dapatkah umat manusia membangun kehidupan yang kurang bergantung pada minyak?
Kemeja yang terbuat dari serat pisang. Sepatu yang menggunakan "kulit jamur". Kemasan yang larut dalam air laut. Atau material yang dibuat dari rumput laut, bakteri, dan limbah makanan sebagai pengganti minyak bumi. Ide-ide ini, yang dulunya dianggap fiksi ilmiah, secara bertahap muncul dari laboratorium untuk menjadi jawaban atas dunia yang terlalu bergantung pada bahan bakar fosil.
Sedikit orang yang menyadari bahwa sebagian besar pakaian modern terkait dengan petrokimia. Poliester, nilon, dan elastane—bahan umum dalam fesyen cepat—semuanya terbuat dari bahan bakar fosil. Saat ini, serat sintetis mencakup sekitar 73% dari produksi tekstil global.
Oleh karena itu, industri mode menjadi salah satu lahan uji coba paling aktif untuk material alternatif. Salah satu arah yang menonjol adalah material berbasis bio yang berasal dari jamur. Mylo – sejenis "kulit" yang dibuat dari miselium jamur – telah diuji oleh banyak merek seperti Stella McCartney dan Adidas dalam produk fesyen mereka. Material ini lembut, ringan, dapat terurai secara hayati, dan tidak memerlukan proses penyamakan yang mencemari lingkungan seperti kulit hewan tradisional.
Selain jamur, para peneliti juga menciptakan serat dari nanas, jeruk, pisang, atau rumput laut. Piñatex – material yang terbuat dari serat daun nanas – saat ini digunakan untuk menggantikan kulit pada sepatu dan tas. Beberapa perusahaan Jepang dan Eropa juga mengembangkan serat berbasis rumput laut dengan harapan dapat menciptakan kain yang ramah lingkungan dan dapat terurai secara alami.
Yang perlu diperhatikan, banyak material baru tidak hanya berkontribusi mengurangi emisi karbon tetapi juga mengubah cara orang berpikir tentang pakaian. Di dunia yang terbiasa dengan kecepatan "fesyen cepat," biomaterial ini seringkali hadir dengan filosofi produksi yang lebih lambat, lebih tahan lama, dan konsumsi yang lebih rendah.

Sepatu yang terbuat dari jamur. Foto: Earth.com
Lautan menjadi "pabrik material" yang baru.
Jika minyak bumi pernah menjadi fondasi industri plastik, maka masa depan bahan kemasan mungkin akan berasal dari… rumput laut.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan rintisan di seluruh dunia mulai mengembangkan bioplastik dari rumput laut, bakteri, atau limbah organik. Perusahaan Australia, Uluu, menciptakan plastik dari gula yang diekstrak dari rumput laut, sementara banyak kelompok penelitian lain mengembangkan PHA – plastik yang diproduksi oleh bakteri ketika mereka "mengonsumsi" lemak atau gula.
Berbeda dengan plastik tradisional yang dapat bertahan selama ratusan tahun di lingkungan, bahan-bahan ini dapat terurai secara alami di tanah atau laut.
Menariknya, lautan—yang tengah berjuang menanggung beban polusi plastik—kini menjadi sumber inspirasi untuk alternatif plastik.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa memanen sebagian kecil saja dari pasokan rumput laut cokelat global dapat menghasilkan bahan yang cukup untuk menggantikan kemasan plastik sekali pakai secara signifikan.
Selain itu, rumput laut tumbuh dengan cepat dan tidak memerlukan lahan pertanian atau air tawar untuk budidaya. Hal ini menjadikannya kandidat yang menarik dalam konteks sumber daya yang semakin tertekan oleh perubahan iklim.
Di banyak laboratorium, para ilmuwan juga bereksperimen dengan kemasan yang terbuat dari kulit pisang, ampas kopi, biji zaitun, atau sisa makanan. Bahan-bahan yang dulunya dianggap sebagai limbah kini menjadi bahan baku untuk ekonomi sirkular yang baru.

Kotak ini terbuat dari rumput laut. Foto: Earth.com
Sistem pertanian yang kurang bergantung pada bahan bakar fosil.
Bukan hanya plastik atau fesyen; pertanian modern juga sangat bergantung pada bahan bakar fosil.
Saat ini, sekitar setengah dari produksi pangan global bergantung pada pupuk nitrogen sintetis – pupuk yang diproduksi menggunakan gas alam melalui proses Haber-Bosch. Proses ini, yang pernah dianggap sebagai "keajaiban" untuk memberi makan penduduk dunia pada abad ke-20, juga mengonsumsi sejumlah besar bahan bakar fosil.
Saat ini, banyak negara sedang bereksperimen dengan "pupuk hijau" yang menggunakan hidrogen yang dihasilkan dari energi terbarukan sebagai pengganti gas alam. Beberapa pabrik dapat sebagian mengkonversi hidrogen menjadi hidrogen hijau tanpa mengubah keseluruhan sistem.
Di samping itu, ada pendekatan lain seperti pertanian sirkular, pemanfaatan limbah organik, atau optimalisasi penggunaan pupuk.
Menurut banyak ahli, masalahnya bukan hanya terletak pada pencarian material baru, tetapi juga pada bagaimana manusia menggunakan sumber daya secara lebih efisien. Saat ini, sejumlah besar pupuk masih terbuang ke lingkungan alih-alih diserap oleh tanaman.
Dalam konteks kejadian cuaca ekstrem yang semakin berdampak pada ketahanan pangan, solusi seperti itu dipandang sebagai langkah yang diperlukan untuk membangun pertanian yang lebih berkelanjutan.

Tas tangan kulit yang terbuat dari jamur. Foto: Earth.com
Lebih hemat, tahan lama, dan lebih lambat.
Namun, banyak ahli percaya bahwa transisi ini tidak akan berhasil jika masyarakat mempertahankan pola konsumsi mereka saat ini.
Tas yang dapat terurai secara alami atau kemeja yang terbuat dari jamur tidak akan membuat perbedaan besar jika dunia terus memproduksi dan mengonsumsinya dalam skala besar seperti sekarang.
Dalam industri fesyen, jumlah pakaian yang diproduksi setiap tahun telah berlipat ganda hanya dalam waktu sekitar dua dekade. Banyak barang dibuang setelah hanya beberapa kali dipakai. Demikian pula, industri pengemasan terus menghasilkan jutaan ton plastik sekali pakai setiap tahunnya.
"Kita tidak bisa menggunakan daur ulang untuk menghindari krisis yang disebabkan oleh kelebihan produksi," demikian pernyataan banyak aktivis lingkungan.
Mungkin itulah sebabnya masa depan pasca-minyak bukan hanya kisah tentang teknologi material baru, tetapi juga pergeseran gaya hidup: menggunakan lebih sedikit, lebih berkelanjutan, dan lebih lambat.
Sumber: https://vtv.vn/cuoc-cach-vat-lieu-xanh-thay-the-hoa-dau-100260527153835355.htm








Komentar (0)