
Astronot Harrison Schmitt mengumpulkan sampel batuan bulan selama misi Apollo 17 pada Desember 1972 - Foto: AFP/nASA
Baru-baru ini, Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) secara resmi melarang warga negara Tiongkok untuk berpartisipasi dalam semua program luar angkasa, bahkan jika mereka memiliki visa AS.
Keputusan ini telah merampas akses mahasiswa, peneliti, dan kontraktor Tiongkok ke fasilitas, jaringan, dan dokumen NASA, serta menyoroti meningkatnya perlombaan ruang angkasa antara AS dan Tiongkok.
$19 juta/kg
Baik AS maupun China sedang berupaya mengirim astronot ke bulan dalam beberapa tahun ke depan. NASA berencana meluncurkan misi Artemis 2 pada awal tahun depan, mengirim astronot untuk mengorbit bulan dan kembali ke Bumi, diikuti oleh misi Artemis 3 untuk mendaratkan manusia di kutub selatan bulan pada tahun 2027 (yang juga akan menjadi pendaratan manusia pertama di bulan sejak misi Apollo 17 pada Desember 1972).
Sementara itu, China telah berjanji untuk mendaratkan pesawat ruang angkasa berawak pertamanya di bulan pada tahun 2030, dan baru-baru ini mengumumkan kemajuan signifikan pada peralatan yang diperlukan, termasuk roket Long March 10 dan wahana pendarat bulan Lanyue.
Kedua negara ini memimpin misi untuk menjelajahi kutub selatan Bulan, dengan tujuan mendarat di lokasi strategis untuk membangun pangkalan dan mengakses sumber daya seperti es air dan sinar matahari—unsur-unsur penting untuk mempertahankan kehadiran jangka panjang di permukaan Bulan.
Situs web The Conversation berpendapat bahwa negara yang tiba lebih dulu dapat memperoleh pengaruh dalam membentuk aturan masa depan yang mengatur ruang angkasa dan ekonomi bulan, khususnya untuk perusahaan swasta. Hal ini telah memicu diskusi tentang "perlombaan infrastruktur strategis" atau bahkan "perang dagang" di ruang angkasa.
Perlombaan ini tidak hanya terbatas pada negara. Pada awal September, Forbes melaporkan bahwa Interlune, sebuah perusahaan rintisan yang berbasis di AS, "berlomba untuk menjadi yang pertama menambang helium di Bulan."
Helium dapat diaplikasikan di banyak bidang, mulai dari komputasi kuantum hingga fusi nuklir. Helium-3 adalah isotop langka dan non-radioaktif di Bumi, tetapi lebih umum di Bulan, dengan nilai $19 juta per kilogram.
Satu ton helium-3 mampu menghasilkan energi 1,5 kali lebih besar daripada senjata nuklir Tsar Bomba milik Uni Soviet.
Perusahaan rintisan juga mengembangkan metode untuk mengekstraksi air dan mineral di Bulan untuk menghasilkan bahan bakar roket atau membangun struktur di sana, seperti Starpath dan iSpace. Perusahaan lain, seperti AstroForge, ingin menambang logam mulia dari asteroid, dengan tujuan mengurangi kebutuhan penambangan sumber daya di Bumi.
Balapan yang menegangkan
Para pejabat senior NASA mengakui bahwa dunia sedang menyaksikan "perlombaan ruang angkasa kedua." Administrator NASA Sean Duffy menyatakan bahwa China bertujuan untuk mendaratkan astronot di bulan sebelum Amerika Serikat.
"Orang Tiongkok ingin kembali ke bulan sebelum kita. Itu tidak akan terjadi. Amerika telah menjadi pemimpin di bidang antariksa di masa lalu, dan kita akan terus menjadi pemimpin di masa depan," katanya pada 10 September.
Jadwal waktu yang ditetapkan AS untuk rencana pendaratan di bulan tampaknya menempatkan Washington di posisi terdepan, tetapi dalam sidang di hadapan Komite Perdagangan Senat AS pada awal September, para ahli menyimpulkan bahwa ada kemungkinan nyata AS akan kalah dari China dalam perlombaan ke bulan.
Salah satu alasan yang disebutkan adalah perkembangan pesat pesawat ruang angkasa Starship milik SpaceX (yang akan berfungsi sebagai wahana pendarat bulan untuk misi Artemis 3), serta kebutuhan akan beberapa misi pengisian bahan bakar untuk membawa Starship ke Bulan.
Beberapa senator AS telah memperingatkan bahwa dominasi China atas sumber daya bulan dapat menimbulkan ancaman serius bagi kepentingan strategis dan teknologi AS.
Sebaliknya, para pejabat Tiongkok berpendapat bahwa kekhawatiran AS telah dibesar-besarkan. Tahun lalu, Li Yingliang, direktur Biro Teknologi Administrasi Antariksa Berawak Tiongkok, mengatakan bahwa eksplorasi ruang angkasa harus dianggap sebagai "misi bersama umat manusia."
Namun, Beijing juga tidak merahasiakan ambisinya untuk membangun pangkalan permanen di Bulan dan mengembangkan misi luar angkasa berawak jarak jauh.
Selama bertahun-tahun, Kongres AS telah membatasi kerja sama NASA dengan China, dengan alasan risiko keamanan nasional. Kecurigaan Washington terhadap Beijing semakin meningkat seiring dengan kemajuan pesat program luar angkasa China.
Sumber daya berharga
Bulan dikenal kaya akan sumber daya berharga seperti mineral tanah jarang, titanium, besi, dan terutama helium, yang memainkan peran penting dalam banyak industri, mulai dari elektronik canggih hingga teknologi medis.
Menurut beberapa perkiraan, total nilai sumber daya ini sangat bervariasi dari miliaran hingga triliunan dolar AS. Para analis mencatat bahwa meskipun Bulan dapat menjadi sumber pendapatan yang menguntungkan, ini akan menjadi investasi jangka panjang, karena teknologi yang dibutuhkan untuk mengekstrak dan mengangkut sumber daya dari Bulan kembali ke Bumi masih jauh dari tahap pengembangan.
Sumber: https://tuoitre.vn/cuoc-dua-khai-thac-helium-3-tren-mat-trang-20250914232545838.htm







Komentar (0)