Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

'Petualangan Ikan Mas Merah Muda'

Kumpulan dongeng anak-anak "Petualangan Ikan Mas Merah Muda" karya Pham Hong Diep (Penerbit Tri Thuc, 2026), yang baru saja dirilis, memiliki karakter unik dalam genre sastra anak-anak.

ZNewsZNews25/05/2026

Melalui petualangan ikan dan upaya untuk membangun pandangan dunia akuatik secara menyeluruh dengan aspirasi untuk eksplorasi dan bentuk pemikiran serta wacana yang baru.

Chep Hong anh 1

Buku anak-anak "Petualangan Ikan Mas Merah Muda" adalah hadiah yang bermakna untuk Hari Anak Internasional pada tanggal 1 Juni.

Kritikus sastra Bui Viet Thang, dalam pengantar bukunya *Petualangan Ikan Mas Merah* , menyebut buku itu sebagai "sebuah wacana tentang air." Ini hampir menjadi kunci penting untuk memahami keseluruhan karya seni tersebut. Dalam * Petualangan Ikan Mas Merah* , air menjadi struktur dinamis dari jaringan kehidupan. Setiap makhluk hidup harus belajar mengalir, berubah, dan melarikan diri seperti air. Dari Kolam Buaya hingga parit terapung, dari sawah hingga daerah air payau, dari hutan bakau hingga transformasi naga yang berputar-putar di akhir karya, seluruh perjalanan Ikan Mas Merah pada dasarnya adalah perjalanan untuk mempelajari sifat cair dari eksistensi. Air adalah lingkungan hidup, identik dengan gerakan, adaptasi, penempatan diri, dan restrukturisasi diri yang konstan.

Dalam *Petualangan Ikan Mas Merah* , air membawa kenangan akan kehidupan bersama, kenangan budaya, dan kegelisahan akan hubungan yang semakin bertentangan antara manusia dan alam. Oleh karena itu, meskipun buku ini tentu saja ditulis untuk anak-anak, buku ini juga ditulis untuk orang dewasa, terutama karena kita hidup di era perubahan iklim, intrusi air asin, polusi, dan jurang pemisah yang semakin lebar antara umat manusia dan biosfernya sendiri.

Salah satu isu yang sering diangkat saat ini adalah bahwa sastra anak sering kali memaksakan perspektif orang dewasa, dan anak-anak hanyalah penerima kebenaran, bukan benar-benar mengalami kehidupan melalui mata mereka sendiri yang polos dan jujur. Petualangan Ikan Mas Merah secara sadar menjauhi pendekatan ini. Realitas dalam cerita sebagian besar dilihat dari "sudut pandang internal" makhluk air. Ketakutan, intuisi, firasat, pengalaman bertahan hidup, perubahan lingkungan perairan… semuanya dirasakan oleh komunitas ini. Buku ini mencoba menempatkan manusia pada posisi di mana mereka harus "mengakui" perspektif mereka. Manusia bukan lagi subjek tertinggi yang mengamati alam dari jauh, tetapi hanya satu organisme dalam jaringan kehidupan yang saling terhubung.

Sejak awal, *Chép Hồng* (Ikan Mas Merah) ditempatkan dalam latar yang sama sekali tidak seperti dongeng. Kolam Ikan Mas, meskipun luas, tetap merupakan tempat di mana ikan-ikan bersaing untuk bertahan hidup. Penulis tidak hanya menyajikan protagonis dengan jalan lurus yang dipenuhi bunga, sebuah kerajaan yang benar-benar seperti mimpi, tetapi juga menempatkannya dalam situasi yang menantang, sesuai dengan semangat "api menguji emas, kesulitan menguji kekuatan." Inilah yang memberikan karya ini nuansa kontemporer.

Buku ini tidak meninabobokan anak-anak ke dalam dunia yang penuh keamanan dan kebaikan mutlak. Sebaliknya, kehidupan akuatik di sini beroperasi berdasarkan mekanisme yang sangat mirip dengan semangat lembut Darwinisme: untuk bertahan hidup, seseorang harus tahu cara mengatur diri sendiri; untuk berkembang, seseorang harus belajar membaca sinyal lingkungan, dan harus tahu cara bergerak, membentuk aliansi, dan beradaptasi.

Pelajaran berharga yang secara bertahap dipelajari Chép Hồng setelah banyak perjalanan menyentuh filosofi bertahan hidup di era tersebut. Namun, karya tersebut tidak mengubah filosofi tersebut menjadi dogma yang kaku.

Chep Hong anh 2

Penulis Pham Hong Diep (kiri) di acara peluncuran buku di Hanoi bersama penulis Hoang Du.

Pengetahuan yang diperoleh dalam Petualangan Ikan Mas Merah sebagian besar didapatkan melalui pengalaman. Setiap perairan yang dilalui Ikan Mas Merah memiliki pelajaran hidup yang berbeda. Danau Croaker adalah ruang persaingan bertahan hidup yang primitif; parit terapung mengajarkan ikan cara beradaptasi dengan arus yang berfluktuasi; air payau membuka pengalaman hidup dalam percampuran air asin dan air tawar; dan hutan bakau adalah sekolah tempat berlindung bersama. Dalam struktur petualangannya ini, Ikan Mas Merah tidak "diajari" dengan cara yang dipaksakan, tetapi belajar melalui interaksinya dengan kehidupan.

Di sini, subjek dewasa tetap hadir sebagai kekuatan pengorganisasian yang mendasari petualangan Ikan Mas Merah. Banyak bagian masih memiliki nada yang agak bersifat penutup; banyak pelajaran dinyatakan agak formal, dan terkadang karakter senior, seperti Paman Ikan Lele dan Paman Ikan Gabus, masih lebih menyerupai "mentor" sosiologis daripada makhluk alami.

Namun, mungkin ini bukanlah kekurangan dari karya tersebut. Karena, seperti yang telah disebutkan, *Petualangan Ikan Mas Merah Muda* tidak hanya bertujuan sebagai sastra anak-anak semata. Karya ini juga bercita-cita menjadi semacam "fabel filosofis," di mana cerita petualangan digunakan untuk menyampaikan refleksi, pertanyaan, dan dialog tentang komunitas, ekologi, dan pembangunan masa depan.

Tokoh-tokoh seperti Paman Lele dan Paman Barakuda tidak hanya berperan sebagai pemandu tetapi juga berfungsi sebagai penyimpan kenangan sungai, tempat pengalaman bertahan hidup diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, dunia perairan dalam karya ini tidak ada sebagai panggung khayalan anak-anak, tetapi beroperasi sebagai sebuah komunitas dengan fondasi, sejarah, ingatan, dan aturan eksistensinya sendiri.

Seluruh dunia perairan yang digambarkan dalam karya ini pada dasarnya adalah mikrokosmos masyarakat: terdapat persaingan, aliansi, migrasi, transmisi pengalaman, dan perjuangan hidup dan mati melawan bahaya. Manusia modern menjadi sumber trauma yang hebat bagi ekosistem alam yang kaya dan harmonis.

Di balik petualangan Ikan Mas Merah, terselip rasa gelisah ekologis yang halus namun jelas. Lanskap perairan dalam karya ini bersifat inklusif sekaligus berbahaya; setiap habitat rentan terhadap perubahan dunia dan ilusi kekuatan manusia untuk menaklukkan dan mengubah.

Namun, jika hanya berfokus pada tema bertahan hidup, buku ini akan mudah menjadi kering dan dingin. Yang membuat *Petualangan Ikan Mas Merah* tetap terasa lembut seperti dongeng adalah semangat simbiosis yang mengalir di sepanjang karya tersebut. Ikan Mas Merah tumbuh dewasa bukan melalui kekuatan individu yang sendirian, tetapi melalui kesadaran akan resonansi dan kerja sama tim (seperti sarang burung dengan "jerami kering yang terikat erat, tampak rapuh pada pandangan pertama tetapi kuat dan tahan lama"), saling mendukung, terutama mendukung yang lemah, sehingga ketika mereka pergi jauh, mereka pergi bersama, dan tidak ada yang tertinggal.

Chep Hong anh 3

Buku anak-anak "Petualangan Ikan Mas Merah Muda".

Pada tingkat yang lebih luas, ini juga merupakan filosofi Asia Timur tentang "harmoni dengan alam": diri tidak memisahkan diri dari kolektif; ia tidak merebut kekuasaan, tetapi berharmoni dengan lingkungannya.

Menariknya, sementara studi kontemporer seperti "hidrofisiologi" mulai memandang air sebagai konstruksi identitas dan pemikiran, peradaban pertanian padi Vietnam telah hidup dengan model tersebut sejak tahap yang sangat awal.

Karya ini secara halus mengisyaratkan karakteristik sebuah "epik sejarah air" tentang peradaban pertanian padi Vietnam. Seluruh latar karya ini—Danau Ca Cheo, sawah, kanal, daerah air payau, hutan bakau—sangat membangkitkan struktur peradaban aluvial dan peradaban sungai.

Ikan mas merah tidak hanya berenang di air ("dari sawah yang tenang hingga sungai besar dan kemudian ke samudra luas"); ia berenang dalam ingatan budaya Vietnam - sebuah budaya yang oleh peneliti Tran Dinh Huou disamakan dengan "budaya air": fleksibel, mudah beradaptasi, dan responsif.

Dalam pengertian itu, "Petualangan Ikan Mas Merah" adalah petualangan di perairan, dan sekaligus metafora yang cukup khas untuk kecerdasan bertahan hidup masyarakat Vietnam: tidak menghadapi semua perubahan secara langsung, tetapi belajar mengalir melewatinya seperti air. Adaptasi dalam karya ini tidak memiliki konotasi kompromi, tetapi merupakan kapasitas budaya yang ditempa oleh sejarah panjang kehidupan di sungai.

Oleh karena itu, buku ini bukan lagi perjalanan seorang individu, melainkan menjadi proses seluruh komunitas makhluk hidup yang beradaptasi dan toleran, siap untuk hidup berdampingan dan terlibat dalam dialog dengan "dunia yang berbeda".

Jika "melewati gerbang naga" adalah simbol klasik dari aspirasi untuk berubah menjadi naga, dari mitos pendakian pribadi, maka "mimpi menyeberangi tanggul" dalam *Petualangan Ikan Mas Merah* membawa metafora untuk semangat perjuangan menuju puncak, dari era kontemporer, bukan hanya mengatasi keterbatasan geografis tetapi "lompatan ke depan" dari peradaban pertanian padi: membebaskan diri dari tempat berlindung yang aman… untuk siap menghadapi samudra luas dan gelombangnya yang bergejolak, untuk mengenal diri sendiri dan orang lain, dan untuk menemukan cakrawala dan kemungkinan baru.

Gambar ini sangat simbolis. Gambar ini mengubah ikan mas merah dari ikan yang polos dan riang dalam dongeng menjadi simbol sebuah bangsa yang belajar untuk menjelajah dunia di era baru, sambil tetap membawa kenangan peradaban sungainya dan prinsip-prinsip kehidupan komunal. Oleh karena itu, "memecah bendungan" pada dasarnya adalah hasil yang tak terhindarkan dari sejarah panjang pengalaman bertahan hidup yang terakumulasi dan kerinduan akan pandangan ke depan, yang dipersiapkan secara diam-diam sehingga kekuatan internal menjadi kekuatan pendorong kemajuan.

Hidup itu rapuh, namun tak terbatas. "Red Carp" karya Pham Hong Diep tidak membiarkan daya tarik hal-hal baru menutupi peluang dalam masa kini yang familiar dan nyaman. Setelah perjalanannya melintasi lautan, Red Carp memahami: "Ternyata danau tempat saya tinggal menyimpan begitu banyak hal menarik yang belum ditemukan." Pernyataan sederhana ini mengandung keyakinan yang mendalam: perjalanan tidak bertentangan dengan menetap; perluasan tidak meniadakan pendalaman; pembebasan tidak berarti memutuskan identitas seseorang; bertemu dengan lautan tidak berarti merasa tidak berarti.

Di balik kisah Chép Hồng, muncul citra penulis yang cukup unik: bukan penulis yang meromantiskan alam, melainkan subjek dengan pola pikir konstruktif dan manajerial. Oleh karena itu, bahkan ketika menulis fabel, Phạm Hồng Điệp memandang kehidupan sebagai ruang dinamis yang saling berdampingan: di mana semua makhluk hidup harus belajar menyeimbangkan persaingan dan kerja sama, perkembangan dan pelestarian, aspirasi untuk melangkah jauh dan kebutuhan untuk mempertahankan akar mereka. Terasa seolah-olah Phạm Hồng Điệp tidak menulis tentang air sebagai objek deskriptif, melainkan dengan pola pikir air itu sendiri: lembut namun tangguh, tersebar namun saling terhubung. Dengan demikian, fabel-fabel di sini lembut dan kokoh secara struktural. Perjalanan Chép Hồng mencerminkan mekanisme kehidupan ekonomi, sosial, pasar, dan bahkan pasca-industri saat ini.

Mungkin aspek paling berharga dari perjalanan Ikan Mas Merah bukanlah terletak pada mimpinya untuk berubah menjadi naga, tetapi dalam mempelajari kearifan air: mengetahui cara beradaptasi tanpa kehilangan esensinya; mengetahui cara mengubah arah sambil tetap terhubung. Mungkin makna dan pesan sejati dari "Perjalanan Ikan Mas Merah" terletak di sana: bukan dalam mengajari anak-anak cara menang, tetapi dalam mengajari umat manusia cara hidup harmonis dengan dunia.

Sumber: https://znews.vn/cuoc-phieu-du-cua-chep-hong-post1653427.html


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Kebahagiaan seorang prajurit wanita

Kebahagiaan seorang prajurit wanita

Kolega

Kolega

Persatuan Pemuda Komune Thien Loc

Persatuan Pemuda Komune Thien Loc