Agar pemerintahan daerah dua tingkat dapat beroperasi dengan lancar dan efektif, mata rantai terpenting dan fundamental adalah tim kader dan pegawai negeri sipil tingkat kecamatan—mereka yang secara langsung bekerja sama dengan masyarakat. Tidak lagi mengelola wilayah kecil, hanya beberapa kelompok warga, kader tingkat kecamatan kini harus memikul tanggung jawab mengelola wilayah yang bisa berkali-kali lipat lebih luas, dengan beban kerja yang meningkat pesat, membutuhkan penanganan yang beragam. Kurangnya kedekatan, respons yang lambat, penanganan situasi yang tidak memadai, dan kurangnya pengetahuan—dapat dengan mudah mengikis kepercayaan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, gambaran sumber daya manusia tingkat kecamatan saat ini tidak seragam, terutama dalam hal keahlian dan profesi; terdapat perbedaan kualifikasi dan keterampilan. Menurut Kementerian Dalam Negeri , sekitar 70% kader dan pegawai negeri sipil tingkat kecamatan saat ini merupakan tenaga kecamatan (dulu), hanya 30% yang merupakan mutasi dari tingkat provinsi dan kabupaten (dulu). Lebih lanjut, di antara 30% ini, tidak semua orang diatur dan ditugaskan untuk bekerja sesuai dengan keahlian dan profesinya.
Hal ini menyebabkan kelebihan sekaligus kekurangan pejabat dan pegawai negeri sipil. Oleh karena itu, di banyak daerah, pejabat masih harus "memegang jabatan rangkap", melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang spesialisasinya. Bahkan, ada tempat-tempat yang "kekurangan" pejabat dan pegawai negeri sipil dengan kualifikasi profesional di bidang-bidang penting.
Perbedaan ini menyebabkan kurangnya sinkronisasi keterampilan, terutama dalam konteks tugas-tugas baru seperti transformasi digital, mendorong reformasi administrasi, dan menangani catatan tanpa memandang batas-batas administratif, yang mengharuskan pejabat tingkat komune dan pegawai negeri sipil memiliki kapasitas profesional yang tinggi dan pemikiran yang fleksibel.
Pada konferensi pembagian tugas kerja Agustus lalu, Menteri Dalam Negeri Pham Thi Thanh Tra menginformasikan bahwa Kementerian Dalam Negeri akan memilih dan menunjuk 34 pejabat yang cakap, berkualitas, berdedikasi, dan bertanggung jawab untuk mendukung provinsi dan kota selama 3 bulan. Kementerian Dalam Negeri juga menginstruksikan pemerintah daerah untuk meninjau, mengevaluasi, dan mengklasifikasikan tim pejabat, pegawai negeri sipil, dan pegawai negeri sipil di tingkat kecamatan berdasarkan kriteria dan standar tertentu. Selanjutnya, Kementerian Dalam Negeri akan menyaring dan menangani kasus-kasus yang tidak memenuhi persyaratan, sekaligus merekrut pejabat baru untuk melengkapi sumber daya manusia yang berkualitas.
Banyak daerah telah mengambil tindakan proaktif. Provinsi Thanh Hoa telah memobilisasi dan memindahkan ratusan pejabat berkualifikasi tinggi ke komune-komune yang kekurangan sumber daya manusia. Ketua Komite Rakyat Kota Ho Chi Minh, Nguyen Van Duoc, juga telah meminta para pimpinan departemen dan cabang untuk meningkatkan pengiriman pejabat dan pegawai negeri sipil ke daerah-daerah guna mendukung tingkat komune. Sementara itu, Kota Hue telah meninjau dan menilai situasi terkini pegawai negeri sipil tingkat komune dalam hal kualifikasi profesional, kapasitas untuk melaksanakan tugas publik, posisi pekerjaan, dll.
Pejabat tingkat komune adalah "wajah" pemerintah di mata rakyat. Kebijakan yang baik dan keputusan yang tepat, tetapi jika sampai ke rakyat melalui aparat tingkat komune yang lemah, efektivitasnya akan berkurang. Pemerintah tingkat komune adalah tempat yang paling dekat dengan rakyat, paling memahami rakyat, dan memiliki dampak paling langsung terhadap kehidupan rakyat.
Agar pemerintahan daerah dua tingkat dapat berjalan efektif, tim kader tingkat komunal harus cukup kuat, berkualitas, dan senantiasa didukung oleh mekanisme dan kebijakan yang memadai. Di saat yang sama, desentralisasi dan pendelegasian wewenang juga harus jelas, disertai mekanisme inspeksi, supervisi, dan evaluasi yang transparan. Hanya dengan demikian, kader akar rumput akan berani mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan kreatif dalam bekerja.
Penyederhanaan aparatur akan memberikan hasil yang sangat nyata, tetapi tanpa investasi yang tepat pada sumber daya manusia, manfaat dari penyederhanaan aparatur akan sulit untuk dimanfaatkan sepenuhnya. Sebuah tim kader akar rumput yang memiliki semangat, visi, dan keterampilan yang memadai adalah kunci untuk menciptakan fondasi bagi pembangunan berkelanjutan di tingkat akar rumput.
Sumber: https://www.sggp.org.vn/cuoc-sat-hach-nang-luc-can-bo-post807902.html
Komentar (0)