
Ribuan properti publik telah dibiarkan kosong selama bertahun-tahun, menunjukkan bahwa Kota Ho Chi Minh perlu beralih dari sekadar mempertahankan aset menjadi memanfaatkannya sebagai sumber daya untuk pembangunan.
Sumber daya sedang dibekukan.
Pengumuman dari Dinas Keuangan Kota Ho Chi Minh tentang rencana untuk meninjau, menata ulang, dan menangani gedung-gedung publik yang kosong menyusul penggabungan unit administrasi bukan hanya soal teknik pengelolaan aset. Ini adalah ujian terhadap pemikiran tata kelola perkotaan Kota Ho Chi Minh dalam fase baru ini.
Selama bertahun-tahun, paradoks terbesar Kota Ho Chi Minh adalah, meskipun terjadi kekurangan dana yang konstan untuk infrastruktur, pengendalian banjir, sistem metro, sekolah, dan perumahan sosial, banyak lahan strategis di pusat kota terbengkalai. Banyak bekas gedung perkantoran dibiarkan kosong dalam jangka waktu lama, jarang digunakan, atau disewakan tanpa transparansi.
Penting untuk dicatat bahwa aset publik bukanlah aset tanpa pemilik. Aset tersebut merupakan sumber daya yang dihasilkan dari anggaran dan kontribusi masyarakat. Ketika lahan berharga senilai ratusan atau ribuan miliar dong dibiarkan terbengkalai, pemborosan tersebut tidak hanya terletak pada nilai properti tetapi juga pada biaya peluang pembangunan.

Ketika lahan senilai ratusan atau ribuan miliar dong dibiarkan terbengkalai, pemborosan tidak hanya terletak pada nilai properti tetapi juga pada biaya peluang pembangunan.
Menurut Profesor Dang Hung Vo, mantan Wakil Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup , Negara harus memprioritaskan pelelangan bangunan dan lahan publik yang berlebih untuk mengubahnya menjadi kawasan produksi dan bisnis, sehingga menghasilkan sumber keuangan publik yang besar untuk pembangunan sosial-ekonomi. Profesor Vo juga berpendapat bahwa pengabaian aset publik menciptakan siklus "pemborosan ganda", yang mengakibatkan hilangnya sumber daya negara dan melambatnya proses transformasi lahan menjadi penggerak pertumbuhan.
Penilaian ini secara akurat mencerminkan situasi terkini di banyak daerah. Sebuah laporan yang dipresentasikan pada konferensi yang diselenggarakan oleh Departemen Pengelolaan Aset Publik pada awal Mei 2026 menunjukkan bahwa sekitar 15 daerah telah menyelesaikan atau hampir menyelesaikan tahap 2 dari proses restrukturisasi aset publik. Namun, banyak tempat hanya menyerahkan aset tersebut kepada pusat pengembangan lahan atau otoritas tingkat kecamatan untuk dikelola, tanpa menggunakannya secara nyata. Banyak fasilitas tetap kosong, mempertahankan papan nama lamanya. Bapak Nguyen Tan Thinh, Direktur Departemen Pengelolaan Aset Publik, Kementerian Keuangan, juga menyatakan bahwa kasus-kasus tersebut belum dapat dianggap telah menyelesaikan tugas.
Selama bertahun-tahun, pola pikir yang dominan di antara banyak lembaga adalah "mempertahankan lahan," "mempertahankan kantor pusat," dan "mempertahankan kendali manajemen." Pola pikir ini telah menyebabkan fragmentasi dan pemanfaatan aset publik yang kurang optimal. Sebuah kota modern tidak dapat mentolerir "zona mati" ini di pusat kotanya. Lahan dan bangunan publik yang terbengkalai tidak hanya membuang infrastruktur tetapi juga mengurangi nilai estetika, menurunkan nilai daerah sekitarnya, dan menciptakan risiko penggunaan ilegal.
Dari manajemen hingga operasional
Dari sisi positif, Kota Ho Chi Minh mulai mengubah praktik pengelolaan aset publiknya. Peninjauan proaktif terhadap seluruh dana tanah dan properti publik menunjukkan bahwa kota ini sekarang memandang aset publik dalam hal pemanfaatan yang efisien, bukan sekadar pengelolaan administratif.
Ini adalah arah yang tepat karena, dalam konteks anggaran yang ketat, aset publik merupakan "tambang emas" jika dikelola dengan benar. Tanah yang tidak lagi dibutuhkan dapat dilelang secara publik untuk menghasilkan modal bagi pembangunan infrastruktur. Banyak gedung perkantoran lama dapat diubah menjadi sekolah, fasilitas medis, ruang publik, atau perumahan sosial dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada membangun gedung baru.

Kota Ho Chi Minh berencana melelang 50 bidang tanah milik publik pada tahun 2026 sesuai dengan Rencana 88/KH-UBND untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan dan menarik investasi.
Yang lebih penting, aset publik perlu dipertimbangkan dalam strategi pembangunan perkotaan jangka panjang, bukan ditangani berdasarkan kasus per kasus. Kota Ho Chi Minh kekurangan ruang publik, lahan pendidikan, dan perumahan sosial. Jika fokusnya hanya pada penjualan aset untuk meningkatkan pendapatan anggaran jangka pendek, kota ini mungkin akan membayar mahal di masa depan.
Oleh karena itu, banyak ahli percaya bahwa kebutuhan terbesar saat ini bukanlah seberapa banyak lahan publik yang dapat dijual, melainkan mengoptimalkan nilai sosial per meter persegi lahan publik. Untuk mencapai hal ini, Kota Ho Chi Minh harus terlebih dahulu membuat semua data aset publik transparan. Warga perlu mengetahui berapa banyak lahan dan properti publik yang dimiliki kota, bagaimana penggunaannya, dan apa rencana untuk pengelolaannya. Transparansi adalah syarat terpenting untuk mencegah kerugian dan kepentingan pribadi.
Seiring dengan itu, mekanisme pasar harus diterapkan pada pemanfaatan aset publik, tetapi dengan kontrol ketat melalui lelang publik, penilaian yang realistis, dan audit independen. Bahkan sebidang tanah publik yang dinilai 20% hingga 30% di bawah nilai pasar merupakan kerugian yang signifikan. Hambatan lain adalah ketakutan akan pertanggungjawaban dalam pengelolaan tanah publik setelah serangkaian kasus baru-baru ini. Banyak pejabat memilih opsi aman dengan tidak berani mengambil keputusan atau menandatangani dokumen. Akibatnya, aset terus terbengkalai selama bertahun-tahun. Tanpa mekanisme hukum yang jelas dan perlindungan bagi mereka yang bertindak dengan benar, prosesnya akan tetap lambat.
Menurut para ahli, yang dibutuhkan Kota Ho Chi Minh saat ini bukanlah sekadar menata ulang beberapa kantor administrasi, melainkan membangun sistem untuk mengelola dan mengoperasikan aset publik. Dengan demikian, aset publik seharusnya tidak lagi hanya menjadi aset yang disimpan, tetapi harus menjadi sumber daya untuk pembangunan, menciptakan nilai ekonomi, sosial, dan perkotaan jangka panjang. Jika hal ini tercapai, Kota Ho Chi Minh tidak hanya akan membebaskan sumber daya yang saat ini terhambat, tetapi juga menciptakan model modern pengelolaan aset publik untuk seluruh negeri.
Kota Ho Chi Minh berencana melelang 50 bidang tanah publik pada tahun 2026 sesuai dengan Rencana 88/KH-UBND untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan dan menarik investasi. Di antara bidang tanah tersebut, delapan bidang di Kawasan Perkotaan Baru Thu Thiem, dengan total luas lebih dari 138.600 m², akan dilelang untuk berbagai fungsi seperti komersial, jasa, dan perumahan. Selain itu, kota ini akan melelang 42 bidang tanah lainnya dengan total luas lebih dari 2,59 juta m² di berbagai lokasi. Yang perlu diperhatikan, ini termasuk bidang tanah seluas lebih dari 2,34 juta m² yang direklamasi dari San Miguel Pure Foods Co., Ltd., dan beberapa bidang tanah yang sebelumnya gagal dilelang untuk keperluan medis dan perumahan.
Sumber: https://vtv.vn/danh-thuc-nguon-luc-dat-cong-cho-tang-truong-kinh-te-100260514163859724.htm








Komentar (0)