Rumah-rumah tradisional melestarikan jiwa bangsa.
Saat liburan dan festival, dapur kecil keluarga Duyen menjadi sangat ramai dan nyaman. Aroma manis kue berbentuk burung yang baru dipanggang memenuhi ruangan, membangkitkan kenangan indah. Melihat dapur itu, kita tidak hanya melihat ruang memasak yang sederhana, tetapi juga merasakan kehangatan kasih sayang keluarga dan ikatan yang kuat antar generasi.
![]() |
| Suasana hangat dan nyaman keluarga Duyen berkumpul untuk membungkus kue berbentuk merpati untuk hari raya istimewa. |
Pada kesempatan Festival Pertengahan Musim Gugur, keluarga Duyen berkumpul untuk membuat kue bulan tradisional. Suaminya, Lam Van Quan, dengan hati-hati membersihkan setiap daun pandan. Di sampingnya, putri mereka, Lam Thi Kim Khanh, dengan terampil menggulung tali untuk membungkus kue bulan yang indah itu. Suasana keluarga semakin hangat berkat cerita dongeng yang lembut dari Duyen dan celoteh riang anak-anak.
![]() |
| Bapak Lam Van Quan dan putrinya memperkenalkan produk anyaman rotan dan bambu tradisional keluarga mereka. |
Bagi Ibu Duyen, mewariskan budaya dimulai dari hal-hal yang paling sederhana. Ia memanfaatkan kesempatan untuk mengajari anak-anaknya lagu pengantar tidur dan melodi khas masyarakat Cao Lan. Baginya, ini bukan hanya pelajaran musik , tetapi juga cara untuk memupuk kecintaan pada akar etnisnya. "Bahasa adalah jiwa suatu bangsa, jembatan yang menghubungkan keturunan dengan leluhur mereka," kata Ibu Duyen sambil tangannya dengan cekatan membungkus kue. Sentimen sederhana ini merupakan pengingat yang mendalam tentang pentingnya melestarikan bahasa ibu dan adat istiadat tradisional.
Menyebarkan kecintaan terhadap budaya.
Tidak terbatas pada keluarganya saja, "api" budaya yang terpancar dari rumah Ibu Duyen menyebar dengan kuat ke seluruh komunitas. Setiap sore, suara tawa, percakapan, dan celoteh anak-anak yang akrab saat mereka belajar menyanyikan lagu-lagu Sình memenuhi rumah panggung itu. Dari orang tua hingga kaum muda di desa, semua orang datang ke sini seolah-olah menemukan kembali sebagian dari kenangan mereka sendiri. Mereka duduk bersama, berbagi cerita tentang panen, anak-anak mereka, dan kemudian bersenandung mengikuti lagu-lagu Sình. Di ruang pedesaan itu, budaya Cao Lan "dihidupkan kembali" melalui setiap lagu, setiap kostum, dan setiap percakapan sehari-hari.
![]() |
| Kim Khánh (di tengah) tampil dalam program budaya "Melestarikan Identitas Etnis Cao Lan". |
Kecintaan terhadap budaya itu telah diwariskan secara alami. Kim Khanh, putri Duyen, yang kini duduk di kelas 12, dengan bangga berbagi: "Setiap kali saya mengenakan pakaian tradisional dan menampilkan tarian tradisional, saya merasa sangat bangga. Bagi saya, ini bukan hanya hobi, tetapi juga cara untuk mengekspresikan cinta dan penghargaan saya terhadap identitas budaya bangsa." Kim Khanh adalah salah satu perwakilan generasi muda yang aktif mewariskan dan menyebarkan keindahan budaya bangsa.
Keluarga Duyen juga secara rutin berpartisipasi dalam kegiatan budaya, menampilkan pakaian adat tradisional dalam festival dan kompetisi lokal. Melalui tindakan sederhana namun gigih ini, keluarga Duyen tidak hanya membawa rasa bangga akan identitas etnis mereka, tetapi juga berkontribusi dalam menyebarkan kebanggaan itu kepada masyarakat, menumbuhkan kecintaan terhadap budaya pada generasi muda masyarakat Cao Lan.
Teks dan foto: Canh Truc
Sumber: https://baotuyenquang.com.vn/van-hoa/du-lich/202510/diem-hen-van-hoa-cao-lan-o-dong-son-18a61c2/









Komentar (0)