Namun, yang paling dibutuhkan anak-anak bukanlah tekanan untuk berbicara lebih banyak, melainkan didengarkan dan dipahami.
"Kamu tidak pernah bercerita padaku apa yang terjadi di sekolah. Kamu selalu diam tentang segalanya. Apakah kamu akan menjadi terlalu tertutup saat dewasa nanti?"
Inilah kekhawatiran Ibu Minh Thu ( Hanoi ) karena putranya yang duduk di kelas 5 SD semakin menarik diri. Sepulang sekolah, ia makan dengan tenang lalu pergi ke kamarnya untuk membaca atau bermain Lego. Saat pertemuan orang tua-guru, guru berkomentar bahwa putranya berperilaku baik dan belajar dengan giat, tetapi tidak terlalu proaktif dalam berkomunikasi. Ketika diminta berbicara, ia sering tersipu, berbicara pelan, dan langsung duduk.
Melihat anaknya tidak seceria anak-anak seusianya, Ibu Thu mulai menekannya: "Kamu harus lebih percaya diri!", "Kenapa kamu tidak bermain dengan teman-temanmu?", "Menurutku kamu terlalu pendiam dan tertutup!". Suatu hari, di depan kerabat, ia bahkan bercanda: "Dia terlalu introvert, mungkin nanti dia akan kesulitan bergaul!".
Semakin sering diingatkan, semakin pendiam anak laki-laki itu. Suatu malam, Thu tanpa sengaja membaca esai yang ditulis putranya, yang berisi bagian berikut: "Aku tidak benci berbicara. Hanya saja terkadang aku belum selesai berpikir sebelum ditanya pertanyaan lain. Aku takut mengatakan sesuatu yang salah. Aku berharap Ibu tidak membuat komentar yang menghakimi tentangku." Thu terdiam...
Banyak orang tua saat ini memiliki kekhawatiran yang sama dengan Ibu Thu. Ketika anak-anak bersifat introvert, pendiam, jarang mengungkapkan emosi mereka, atau ragu untuk bersosialisasi, orang dewasa sering khawatir bahwa mereka akan kurang percaya diri, kesulitan untuk sukses, atau menjadi terisolasi. Namun, pada kenyataannya, menjadi pendiam bukanlah kekurangan yang perlu diperbaiki. Yang dibutuhkan anak-anak bukanlah dipaksa untuk menjadi "banyak bicara," melainkan didengarkan dan dihormati apa adanya.
Tidak semua anak yang pendiam memiliki masalah.
Dalam keluarga dengan dua anak, orang tua sering kali memperhatikan perbedaan yang jelas. Satu anak mungkin dengan antusias menceritakan kisah kepada mereka begitu sampai di rumah sepulang sekolah. Tetapi anak yang lain mungkin hanya menjawab, "Itu normal."
Banyak orang tua tanpa sadar berasumsi bahwa bersikap ramah dan terbuka sama dengan percaya diri, sementara bersikap pendiam adalah tanda malu atau kurangnya keterampilan sosial. Oleh karena itu, mereka terus-menerus menekan anak-anak mereka untuk berubah: memaksa mereka untuk berpartisipasi dalam kelompok besar, menuntut mereka untuk proaktif dalam berkomunikasi, atau mengkritik mereka karena "sulit didekati." Masalahnya adalah tekanan-tekanan ini terkadang membuat anak-anak merasa bahwa "ada yang salah" dengan diri mereka sendiri.

Anak-anak membutuhkan waktu untuk mengamati sebelum mulai terbuka - Foto ilustrasi
Menurut psikolog sekolah, beberapa anak sangat sensitif terhadap suara, tatapan, dan emosi di sekitar mereka. Mereka membutuhkan waktu untuk mengamati sebelum terbuka. Jika terburu-buru, mereka akan semakin menarik diri karena perasaan tidak aman. Banyak anak yang pendiam sebenarnya memiliki kehidupan batin yang kaya, jeli, empatik, dan bijaksana; mereka hanya tidak mengekspresikan diri dengan cara yang lantang.
Hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah membedakan antara "pendiam" dan "isolasi emosional." Jika anak masih memiliki kesenangan sendiri, masih berhubungan dengan beberapa orang terdekat, dan masih belajar dan hidup normal, maka menjadi pendiam bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Yang menakutkan adalah ketika anak merasa suaranya tidak dihargai.
Sebagian anak menjadi pendiam karena mereka sudah terlalu sering diganggu.
Pak Hoang Nam, seorang insinyur di Kota Ho Chi Minh, dulu mengira putrinya "tertutup." Ia jarang curhat kepada orang tuanya dan hampir tidak pernah membicarakan sekolah. Baru setelah menghadiri sesi konseling keluarga, ia menyadari dengan terkejut: setiap kali putrinya membuka diri, orang dewasa sering bereaksi terlalu cepat.
Ketika seorang anak bercerita tentang diejek oleh temannya, sang ayah langsung menjawab, "Menangis karena hal seperti itu?" Ketika anak itu mengatakan bahwa mereka tidak suka kelas tambahan, sang ibu langsung menanggapi, "Jika kamu tidak belajar, kamu akan tertinggal dari teman-temanmu nanti." Saat anak itu mengungkapkan perasaannya, orang dewasa menyela untuk menganalisis mana yang benar dan mana yang salah. Lambat laun, anak itu belajar untuk tetap diam, berpikir bahwa berbicara tidak akan mengubah apa pun.
Banyak orang tua lebih cenderung "mengajar" daripada "mendengarkan." Namun, bagi anak-anak yang introvert, perasaan didengarkan sangatlah penting. Ketika anak-anak merasa aman secara emosional, mereka lebih cenderung terbuka. Mendengarkan di sini tidak hanya berarti mendengar dengan telinga; itu juga berarti memiliki sikap tidak menghakimi dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
Di beberapa malam, alih-alih menghujani anak-anak mereka dengan pertanyaan seperti, "Nilai apa yang kamu dapat hari ini?" atau "Apakah ada kejadian di sekolah?", orang tua dapat duduk di samping anak-anak mereka, berbagi camilan buah, atau berjalan-jalan, dan memulai percakapan dengan lembut. Anak-anak sering kali lebih terbuka dalam momen-momen biasa seperti itu.
Seorang ibu bercerita bahwa putranya hampir tidak pernah berbagi hal-hal secara langsung. Tetapi setiap malam sebelum tidur, dia akan berbaring di sampingnya dan bertanya dengan santai, "Bu, apakah guru Ibu pernah memarahi Ibu ketika Ibu masih kecil?" Dari percakapan yang tampaknya tidak berhubungan ini, keduanya secara bertahap mulai saling memahami dengan lebih baik.
Anak-anak yang pendiam bukan berarti mereka tidak mau berinteraksi. Mereka hanya membutuhkan tempo yang lebih lambat untuk membangun kepercayaan.
Jangan jadikan keluarga sebagai tempat di mana anak-anak selalu "benar."
Banyak anak menjadi pendiam karena takut dihakimi. Ketika seorang anak melakukan kesalahan, orang dewasa menertawakannya. Ketika seorang anak berperilaku canggung, orang tua menceritakannya di depan banyak orang seolah-olah itu adalah cerita lucu. Beberapa orang tua bahkan membandingkan: "Saudaramu jauh lebih ramah!", "Anak sepupumu berbicara dengan sangat percaya diri!". Hal-hal yang tampaknya kecil ini secara halus menyebabkan anak-anak menarik diri.
Keluarga seharusnya menjadi tempat di mana anak-anak diperbolehkan membuat kesalahan, untuk lambat, untuk berbeda, dan tetap merasa dihargai. Jika seorang anak belum berbicara dengan lancar, tunggulah dengan sabar sampai mereka dapat mengekspresikan diri sepenuhnya. Jika seorang anak belum terbiasa berada di tengah keramaian, jangan memaksa mereka untuk langsung berbaur. Anak yang percaya diri tidak dibangun di atas tekanan untuk menjadi sempurna, tetapi di atas perasaan bahwa, "Apa pun yang terjadi, orang tua saya tetap mencintai dan menghormati saya."
Hal yang menakjubkan adalah ketika anak-anak diterima, mereka seringkali menjadi lebih percaya diri dengan cara yang paling alami. Setelah membaca esai putranya, Ibu Minh Thu mengubah cara bicaranya kepada anaknya. Ia tidak lagi menghujani anaknya dengan pertanyaan atau mengomentari kepribadiannya di depan orang lain. Di akhir pekan, ia menghabiskan waktu bersamanya di toko buku, duduk di kafe yang tenang, atau memasak bersama. Suatu hari, anak laki-laki itu secara proaktif bercerita kepadanya tentang tugas yang diberikan gurunya untuk merawat tanaman kelas. Ceritanya tidak panjang, tetapi bagi ibu itu, itu adalah pertanda berharga: putranya merasa didengarkan.
Beberapa anak tidak tumbuh di bawah tekanan yang keras. Mereka menjadi dewasa melalui kelembutan, kesabaran, dan rasa aman dalam keluarga mereka sendiri. Dan terkadang, yang paling dibutuhkan oleh anak yang pendiam bukanlah "bicara lebih banyak," tetapi tatapan pengertian yang memberi tahu mereka: "Jadilah dirimu sendiri, orang tuamu akan selalu ada di sini."
3 hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak-anak mereka berteman dengan percaya diri.
1. Hormati kecepatan interaksi sosial anak Anda: Jangan memaksa anak Anda untuk segera menjadi seorang yang pandai bergaul atau "penghibur". Beberapa anak hanya membutuhkan satu atau dua teman dekat untuk merasa bahagia dan aman.
2. Ajarkan keterampilan komunikasi kepada anak Anda melalui situasi-situasi kecil: Orang tua dapat berlatih menyapa orang, memulai percakapan singkat, menanyakan kabar teman, atau menangani penolakan bersama anak-anak mereka. Keterampilan kecil ini membantu anak-anak mengurangi kecemasan saat berkomunikasi.
3. Ciptakan peluang bagi anak Anda untuk memiliki pengalaman positif: Izinkan anak Anda bergabung dengan klub, kelas bakat, atau kegiatan yang sesuai dengan minat mereka. Ketika mereka bertemu orang-orang dengan minat yang sama, anak-anak cenderung lebih terbuka dan menjadi lebih percaya diri.
Sumber: https://phunuvietnam.vn/dieu-cha-me-hieu-sai-va-ung-xu-sai-voi-con-tram-tinh-238260519173534709.htm









Komentar (0)