
Menurut "Kamus Bahasa Vietnam": "Kebahagiaan adalah keadaan gembira karena seseorang merasa sepenuhnya terpenuhi. Misalnya: Karena kebahagiaan anak-anak. Keluarga itu sangat bahagia." "Kesederhanaan berarti memiliki sedikit komponen atau aspek, tidak rumit atau merepotkan. Misalnya: Perhitungan sederhana. Masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan sederhana."
Seabad yang lalu, penulis Nguyen Tuan (1910-1989) menulis: "Kebahagiaan dalam hidup adalah hadiah yang dibuat khusus untuk orang-orang sederhana, untuk mengkompensasi kekurangan dan kerugian yang mereka alami." Jelas, ringkasan Nguyen Tuan yang penuh belas kasih dan empati ini mengungkapkan dua gagasan yang sangat penting tentang kehidupan manusia. Pertama, jika seseorang hidup sederhana, tanpa ambisi yang berlebihan atau mempersulit hidup, mereka akan menemukan kebahagiaan. Kedua, kebahagiaan yang ditemukan dalam cara hidup sederhana ini adalah kompensasi alami atas kesulitan dan kekurangan yang dialami setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.
Di mata psikolog modern Dale Carnegie, ada perbedaan antara "kesuksesan" dan "kebahagiaan." Ia menulis: "Kesuksesan adalah mendapatkan apa yang Anda inginkan. Kebahagiaan adalah menginginkan apa yang Anda dapatkan."
Kebahagiaan dalam hidup adalah hadiah yang dirancang khusus untuk orang-orang sederhana, sebagai kompensasi atas kesulitan lain yang mungkin telah mereka hadapi.
Nguyen Tuan
Untuk memperjelas dan mempermudah pemahaman, filsuf La Cordaire (1802-1861) mendefinisikan kebahagiaan sebagai berikut: "Kebahagiaan hanyalah pengejaran manusia." Jika demikian, maka "kebahagiaan" tidak memiliki alamat spesifik; pada kenyataannya, hal-hal yang paling sederhana, mudah ditemukan, dan paling mudah dicapai adalah hal-hal yang berada dalam kemampuan dan kekuatan seseorang. Mengapa sebagian orang dengan bodohnya mempersulit hidup mereka, terus-menerus menciptakan kesulitan yang mereka buat sendiri, sehingga mereka tidak pernah menemukan kebahagiaan, atau bahkan kehilangan separuh hidup mereka?
Filsuf De Sivry dengan lugas menyatakan: "Menganggap uang sama dengan kebahagiaan berarti keliru menganggap sarana sebagai tujuan. Itu seperti berpikir bahwa pisau dan garpu membuat makanan Anda lezat." Itu adalah contoh yang menarik dan tepat.
Penulis Barat lainnya memandang "kebahagiaan" sebagai sebuah rumah yang terlalu besar tetapi hanya dipenuhi dengan ruang tunggu.
Filsuf Gustave Droz menggambarkan kebahagiaan dengan cara yang sangat sederhana dan mudah dipahami: "Seseorang hanya mencapai kebahagiaan dengan mengumpulkan secara cermat serpihan-serpihan kecil kebahagiaan." Pernyataan ini layak diulang setiap hari karena merupakan kunci, rahasia, menuju kebahagiaan.
"Setiap sedikit kebahagiaan" yang kita alami setiap hari berasal dari kegembiraan dalam berusaha keras dalam studi dan pekerjaan kita, baik di pedesaan maupun di kota. Ini juga tentang rasa syukur kepada tanah air kita, negara kita, kakek-nenek kita, orang tua kita, dan tetangga kita yang telah membantu kita mengatasi kesulitan dan tumbuh selangkah demi selangkah. Mereka yang memiliki rasa syukur akan memiliki kebahagiaan.
Begitu kita melakukan sesuatu yang baik, sesuatu yang bermanfaat, membantu orang miskin, yang membutuhkan, dan mereka yang memerlukan pertolongan untuk mengatasi kesulitan atau kesusahan tertentu, itu adalah secuil kebahagiaan, seperti yang diajarkan Gustave Droz.
Nenek moyang kita sering menasihati kita: "Cintailah orang lain seperti kamu mencintai dirimu sendiri," atau "Daun yang sehat melindungi daun yang layu," atau "Wahai labu, kasihanilah labu kuning. Meskipun berbeda jenis, mereka tumbuh di tanaman yang sama"... ini mengajarkan kita bagaimana mengumpulkan sedikit kebahagiaan yang dapat kita peroleh jika kita berusaha keras.
Bunda Teresa dari Kalkuta, dari India, adalah seorang santa yang penuh belas kasih. Ia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kaum miskin dan orang sakit. Ia pernah berkata, "Kita adalah manusia kecil; kita tidak dapat melakukan hal-hal besar, tetapi kita dapat mencapai hal-hal kecil dengan cinta yang besar." Ajaran suci Bunda Teresa dari Kalkuta ini telah menginspirasi jutaan pekerja di seluruh dunia untuk gigih dan mengatasi kesulitan demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri dan komunitas mereka.
Untuk memperjelas perbedaan tersebut, filsuf Emile de Giradin (1806-1881) secara khusus menyatakan: “Ada dua jenis kebahagiaan. Kebahagiaan materi dan kebahagiaan emosional. Yang satu bersifat sosial, yang lain bersifat internal.”
Oh, betapa mulianya cara Giradin membedakan kebahagiaan, karena hal itu telah menghibur bahkan anggota masyarakat yang paling menderita, dan telah mendorong serta menginspirasi warga negara yang jujur untuk hidup damai di tengah ironi dan kesulitan kehidupan sehari-hari. Kebahagiaan batin inilah yang sesungguhnya menjadi milik umat manusia, milik keadaan khusus "Di Sini dan Sekarang."
"Sekarang dan di sini" adalah cara berpikir yang konkret dan sederhana bagi setiap orang yang benar-benar ingin berjuang untuk mencapai impian dan kebahagiaan mereka melalui usaha sendiri, melalui motivasi diri dan perjuangan yang gigih. Cara berpikir ini akan lebih berkelanjutan dan lebih kecil kemungkinannya untuk hancur daripada mengandalkan bantuan dari orang lain atau pengaruh eksternal.
Pada titik ini, kita dapat memikirkan kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti saat kita makan, berbicara, dan berpikir. Dengan pepatah Prancis kuno yang telah banyak dipelajari, diketahui, dan dihafal: "Manusia makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan." Oleh karena itu, esensi makan dan minum haruslah cukup, tepat waktu, perlahan, dikunyah dengan saksama, makanan yang dimasak, dan air yang direbus. Jika seseorang terlalu mementingkan makanan sehari-hari, mengonsumsi alkohol dan minum berlebihan, mereka akan menderita kemalangan berupa penyakit, seperti yang diajarkan orang-orang zaman dahulu, "penyakit masuk melalui mulut," artinya orang tertular berbagai penyakit melalui makanan mereka.
Saat berbicara, seseorang harus belajar berpikir dengan cermat sebelum berbicara. Lebih baik mengatakan satu hal daripada dua hal. Kata-kata harus ringkas, jelas, dan tepat sasaran, memastikan orang lain memahami masalahnya dan dapat dengan mudah merespons. Hindari bertele-tele, metafora yang tidak bermakna, atau percakapan panjang lebar yang membosankan dan tidak menghasilkan apa pun.
Saat berpikir, seseorang juga harus belajar untuk melihat langsung masalah yang ada, bukan berpikir tanpa tujuan atau mengoceh. Misalnya, jika prestasi akademik Anda buruk, fokuslah untuk lulus dari kelas 12 untuk mencapai tonggak penting yaitu menyelesaikan sekolah menengah atas. Setelah mendapatkan ijazah, Anda dapat memikirkan dan merencanakan langkah selanjutnya. Beberapa siswa dengan prestasi akademik buruk memaksa orang tua mereka untuk menjual tanah dan rumah agar mereka dapat pergi ke kota untuk mengikuti berbagai kelas persiapan ujian. Pada akhirnya, mereka kehilangan uang dan menderita konsekuensi, membuang waktu bertahun-tahun jauh dari rumah, tanpa tujuan dan sia-sia.
Mempelajari cara makan, berbicara, dan berpikir secara ringkas adalah keterampilan yang akan tetap bersama kita sepanjang hidup.
Penyair besar Prancis Nicolas Boileau (1636-1711) pernah memberi nasihat: "Berpikirlah sederhana. Bersikaplah mulia tanpa kesombongan. Tampillah cantik secara alami tanpa riasan." Tentu saja, ini adalah patokan untuk semua usaha, tetapi juga mudah dipahami, sangat praktis, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam program-program yang memuji orang baik dan perbuatan baik, satu hal yang jelas: mereka adalah orang-orang biasa, orang-orang kelas pekerja yang berjuang untuk mencari nafkah setiap hari. Tetapi perbedaan besar pada setiap orang ini adalah kecintaan mereka pada tanah air, kasih sayang mereka kepada sesama warga negara di daerah terpencil, dan kecintaan mereka kepada mereka yang masih bekerja keras dan menghadapi kesulitan.
Rasa persaudaraan itulah kekuatan yang membantu para pejuang kesetaraan dan pahlawan buruh untuk berjuang dan berkontribusi, seperti yang dianalisis Boileau: "Mulia tanpa kesombongan." Kita akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang telah membawa kebahagiaan kepada orang lain dalam masyarakat "satu untuk semua" kita.
Filsuf Ralph Waldo Emerson pernah berkata, "Tidak seorang pun dapat memberi Anda kedamaian dan kebahagiaan kecuali diri Anda sendiri." Semakin kita menganalisis dan mengupas kutipan ini, semakin benar jadinya. Mengapa? Karena kutipan ini membimbing orang menuju keterampilan yang lebih tinggi: "dari memberi kepada diri sendiri menjadi menjadi diri sendiri."
Begitu seseorang bertransisi dari masa remaja ke dewasa dan kemudian melewati usia paruh baya, mereka menjadi sangat stabil dan telah mengalami sendiri bahwa mekanisme "kemandirian" sepenuhnya benar dan otentik. Ketergantungan, ketergantungan, atau dukungan apa pun akan gagal total jika individu tersebut tidak dapat berdiri teguh menghadapi kenyataan pahit waktu, perubahan alam, dan keadaan sosial.
Sebagai penutup artikel tentang "Kesederhanaan dan Kebahagiaan," ingatlah kutipan terkenal dari William Hazlitt (1778-1830): "Inti dari kesederhanaan adalah kesimpulan alami dari pemikiran yang mendalam." Karena merupakan kesimpulan alami dari pemikiran yang mendalam, "kesederhanaan" sulit ditemukan dan dilihat dalam kehidupan sehari-hari orang biasa. Satu-satunya cara adalah dengan berusaha, tekun, dan sabar belajar berpikir sederhana dalam segala hal untuk mencapai kebahagiaan bagi diri kita sendiri.
Sumber: https://daidoanket.vn/don-gian-va-hanh-phuc-10278480.html






Komentar (0)