Di bawah langit biru yang luas, gugusan bunga-bunga berwarna-warni menjulang tinggi dengan bangga, warna merahnya yang cerah membawaku kembali ke masa lalu. Sebuah tempat yang dipenuhi tawa polos dan riang, suara guru yang memarahi murid karena tidak belajar... Dan sebuah tempat di mana jalan setapak menahan jejak langkah orang yang tak terhitung jumlahnya.
Semakin terang matahari bersinar, semakin banyak pohon api berbunga. Meskipun tidak terlalu harum atau memikat, pohon api memiliki kehadiran yang kuat. Bunga pohon api tidak mekar satu per satu tetapi berkelompok, mewarnai sebagian langit dengan warna merah. Diam-diam, pohon api menawarkan kepada dunia bunga-bunganya yang paling semarak. Warna bunga pohon api bagaikan nyala api yang menyalakan keyakinan dan mimpi melalui generasi siswa.
Tidak jelas kapan tepatnya, tetapi bunga ini, tanpa aroma namun memiliki warna yang cerah, telah menyimpan kenangan murni generasi siswa di dalam hatinya. Dan demikianlah, bahkan ketika waktu berlalu, hanya dengan melihat kelopak yang berguguran saja sudah menggugah jiwa kita, terbawa oleh hembusan angin lembut. Meskipun masa sekolah kita telah lama berlalu, entah mengapa, kedatangan bunga pohon flamboyan membangkitkan kerinduan yang aneh di hati kita! Kita tiba-tiba berhenti, mendapati diri kita bermandikan warna merah cemerlang dari pohon-pohon flamboyan yang berjajar di pinggir jalan. Jiwa kita tiba-tiba tenggelam dalam lautan kenangan nostalgia.
Pohon-pohon tua di sudut halaman sekolah lama, dengan gugusan bunganya yang menyala-nyala, tiba-tiba muncul di hadapan mataku. Setiap batang pohon menyimpan kenangan dan nostalgia yang tak terhitung jumlahnya untuk masa muda yang penuh kepolosan bagi generasi siswa. Di sana terukir nama-nama dengan tergesa-gesa, ada kenangan yang berharga, mungkin nama kelas, nama sekolah... tetapi semuanya membawa rasa rindu. Mungkin, dalam ingatan kita masing-masing, kelas 12 tetap menjadi tahun yang paling istimewa, dengan mudah membangkitkan emosi kita setiap kali kita memikirkannya.
Di tangga batu bata tua itu, kelopak bunga phoenix merah cerah berjatuhan di mana-mana. Aku tidak tahu apakah bunga phoenix tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi semua orang berjalan dengan hati-hati setiap kali mereka harus melewatinya. Tiba-tiba aku takut menginjak kelopak bunga itu, seolah-olah aku takut menginjak kenangan manis masa lalu.
Saat setiap istirahat, kami para gadis akan berkumpul bersama, tenggelam dalam pikiran, mencari kelopak bunga phoenix yang paling indah untuk ditekan ke dalam buku tanda tangan kami, menuangkan semua gairah dan antusiasme kami yang membara ke dalam halaman-halaman tersebut. Aku suka memetik kelopak satu per satu dan menekannya menjadi kupu-kupu kecil yang cantik, dua benang sari yang melengkung menjadi antena yang lucu. Kemudian, seiring waktu berlalu, aku tanpa diduga akan menemukan kupu-kupu yang ditekan dari kelopak bunga phoenix itu, kini berwarna cokelat tua di halaman-halaman yang menguning, dan emosi polos dan naif masa sekolah kami akan bangkit kembali dalam diriku.
Selama masa persiapan ujian, para siswa yang biasanya nakal itu tiba-tiba menjadi sangat lembut. Mereka berhenti berdebat dan menggoda, menjadi lebih tenang dan pendiam. Mereka merasa lebih dewasa, lebih matang, dan lebih peduli satu sama lain. Mereka saling bertanya tentang studi mereka, berbagi cerita tentang ujian, dan membicarakan impian serta rencana masa depan mereka di universitas. Mereka mengobrol tentang berbagai hal, mendiskusikan aspirasi mereka sendiri... Obrolan itu terus berlanjut tanpa henti.
Hatiku tiba-tiba dipenuhi kenangan akan sore-sore itu ketika kita berjalan bersama di jalan setapak yang dipenuhi bunga-bunga merah. Banyak musim bunga telah berlalu, namun kita tak pernah mengucapkan kata-kata cinta satu sama lain, hanya berdiam diri di sisi satu sama lain. Kita belajar bersama, dengan tekun mempersiapkan ujian di hari-hari terakhir, dan bersama-sama kita merancang aspirasi indah kita untuk masa depan. Rasa malu, keraguan, mimpi, dan momen-momen bimbang di hari-hari itu begitu polos dan menggemaskan sehingga siapa pun akan merindukan untuk mengalaminya lagi.
Kemudian hari perpisahan yang sesungguhnya akhirnya tiba. Kami menangis dan tertawa bersama, saling berpegangan, perasaan kami begitu kuat sehingga kami tak dapat menemukan kata-kata untuk mengungkapkannya. Setelah bertahun-tahun belajar bersama, bahkan saat-saat ketika kami sangat tidak menyukai satu sama lain, kini kami tak sanggup berpisah!
Pohon-pohon flamboyan tua di halaman, yang dulunya bermekaran dengan warna-warni, kini bergoyang lembut tertiup angin, seolah mengucapkan selamat tinggal kepada para siswa yang telah bersama mereka selama bertahun-tahun.
Tidak jelas kapan tepatnya, tetapi bunga ini telah menjadi simbol masa sekolah. Diam-diam, pohon flamboyan telah menyaksikan kenangan pahit manis dari generasi siswa yang tak terhitung jumlahnya. Hari ketika pohon flamboyan mekar di langit biru yang dalam juga merupakan waktu ketika para siswa dengan tekun mempersiapkan ujian. Mereka bertukar pesan perpisahan, mata mereka dipenuhi kerinduan di bawah langit yang sendu, di antara bunga-bunga yang dipetik terburu-buru. Hanya ketika berpisah para siswa mengungkapkan perasaan terdalam mereka, hal-hal yang tidak berani mereka ucapkan... Kita berjalan bergandengan tangan melewati musim ujian itu! Dan pada akhirnya, masing-masing dari kita membawa kekosongan di hati kita yang tidak akan pernah bisa terisi.
Musim bunga-bunga yang bermekaran memikat kita, mendorong kita untuk mengenang masa lalu. Ini adalah waktu untuk mengobrak-abrik buku catatan lama, mencari tulisan tangan yang familiar. Ini adalah waktu untuk berjalan-jalan tanpa tujuan di sore hari yang berangin. Namun, bahkan bunga-bunga merah yang semarak itu pun tidak cukup untuk mempertahankan kenangan musim panas.
Musim mekarnya pohon flamboyan – musim bunga-bunga mempesona yang menerangi sebagian langit, musim gairah, kerinduan, dan penyesalan yang membara. Warna merah cerah bunga-bunga ini, berlatar langit biru jernih, seolah merangkul seluruh masa kanak-kanak, kenangan, dan hari-hari tak terlupakan dari era yang indah.
Di dalam diri kita masing-masing, tak seorang pun tak menyimpan kenangan sekolah dengan pohon-pohon flamboyan merah menyala di musim panas. Setiap kali pohon-pohon flamboyan itu mekar, hati kita dipenuhi nostalgia dan kerinduan akan hari-hari riang di masa sekolah...
Dan ketika matahari musim panas yang menyilaukan bersinar, memandang gugusan pohon api merah yang menghiasi setiap sudut langit, hati kita dipenuhi nostalgia dan kerinduan. Kenangan musim panas tetap selembut warna bunga pohon api di hadapan sinar matahari pagi yang murni.
Konten: Ha Dan
Foto: Sumber internet
Grafis: Mai Huyen
Sumber: https://baothanhhoa.vn/e-magazin-mau-cua-nho-250972.htm







Komentar (0)