Menurut riset Piper Sandler, 87% anak muda Amerika memiliki iPhone, dan 88% mengatakan mereka akan membeli iPhone lagi saat membeli ponsel berikutnya. Hasil survei ini didasarkan pada 9.193 individu Generasi Z (lahir antara tahun 1997 dan 2010), dengan usia rata-rata 15,7 tahun dan pendapatan rumah tangga rata-rata $70.725. Di antara mereka yang disurvei, 42% menggunakan aplikasi transfer uang Apple Pay, dan 34% melaporkan memiliki Apple Watch.
Namun, ketika ditanya tentang niat pembelian di masa mendatang, hanya 10% yang menyatakan rencana untuk membeli Apple Watch dalam enam bulan ke depan, turun dari 16% pada tahun 2022. Meskipun demikian, Apple tetap menjadi merek jam tangan nomor satu di kalangan anak muda berpenghasilan tinggi, mengalahkan merek-merek seperti Casio, Garmin, dan bahkan Rolex.
Popularitas iPhone di kalangan anak muda merupakan kabar baik bagi Apple.
Namun, Apple Music, layanan streaming tersebut, masih belum populer di kalangan anak muda. Lebih dari 70% peserta survei menggunakan Spotify untuk mendengarkan musik, sementara kurang dari 40% menggunakan Apple Music.
Tahun lalu, wakil presiden senior Google, Hiroshi Lockheimer, menuduh Apple mengeksploitasi tekanan teman sebaya dan perundungan untuk menjual produknya, setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa kaum muda merasa tertekan untuk membeli iPhone. Apple menampilkan pesan antar perangkat yang menjalankan iOS atau macOS dengan warna biru dan pesan melalui SMS dengan warna hijau, sehingga remaja yang menggunakan Android menjadi sasaran ejekan.
Lockheimer menyatakan bahwa strategi "pemblokiran iMessage" Apple tidak jujur, terutama mengingat fokus perusahaan yang konsisten pada kemanusiaan dan kesetaraan dalam strategi pemasarannya. Para pesaing percaya bahwa Apple telah secara tidak adil membangun dominasi di pasar ponsel pintar.
Terlepas dari daya tarik iPhone bagi konsumen muda, beberapa pakar teknologi mempertanyakan apakah "kegilaan" terhadap alat kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT merupakan tren selanjutnya di industri teknologi. Karena AI semakin terintegrasi ke dalam produk perangkat keras, banyak pemimpin teknologi menyebutnya sebagai "momen iPhone." Namun, sejarawan teknologi Thomas Haigh berpendapat bahwa ponsel pintar akan tetap dominan setidaknya selama 10 tahun lagi.
Tautan sumber







Komentar (0)