Memahami festival adalah kunci untuk berperilaku sewajarnya.
Meskipun telah bekerja selama lebih dari empat dekade dan memegang berbagai posisi kepemimpinan senior di perusahaan internasional, Profesor Phan Van Truong selalu menunjukkan minat khusus pada nilai-nilai budaya tradisional Vietnam. Dalam percakapan dengan kami, beliau menyatakan bahwa untuk mencegah nilai-nilai tradisional ini terkikis seiring waktu, penting tidak hanya untuk "menghadiri upacara keagamaan" tetapi juga untuk "memahami upacara-upacara tersebut."

Dalam beberapa tahun terakhir, setiap musim festival musim semi di Hanoi telah menyaksikan peningkatan jumlah peserta, terutama kaum muda. Di samping suasana yang meriah dan ramai, sebuah kenyataan semakin terlihat jelas: banyak orang menghadiri festival-festival ini sebagai kebiasaan Tahun Baru, tetapi mungkin tidak sepenuhnya memahami makna budaya di balik ritual tradisional tersebut. Berdasarkan hal ini, Profesor Phan Van Truong berpendapat bahwa inti permasalahan festival saat ini terletak bukan pada jumlah peserta, tetapi pada tingkat pemahaman saat berpartisipasi.
Menurutnya, perlu dibedakan secara jelas antara "menghadiri upacara keagamaan" dan "memahami upacara tersebut." Sementara menghadiri upacara hanyalah tindakan kebiasaan atau murni spiritual, memahami upacara tersebut adalah proses mengenali sejarah, kepercayaan, dan nilai-nilai komunitas yang terakumulasi dari generasi ke generasi. Sebuah festival bukan hanya ruang untuk ritual tetapi juga gudang ingatan budaya komunitas. Ketika para peserta tidak mengetahui siapa yang disembah, peristiwa sejarah apa yang diperingati, atau apa arti ritual tersebut, menghadiri upacara dengan mudah menjadi sekadar formalitas.
Dari perspektif budaya, ia berpendapat bahwa menghadiri upacara keagamaan pada dasarnya merupakan ekspresi kehidupan spiritual. Namun, tanpa landasan pemahaman, peserta dapat dengan mudah terbawa oleh mentalitas mencari hal-hal materi atau mengikuti arus. Ketika orang memahami makna festival tersebut, mereka secara alami akan berperilaku lebih tepat, mulai dari menjaga ketertiban hingga menunjukkan rasa hormat terhadap ruang suci.

Salah satu pengamatan penting menurut pandangannya adalah pergeseran cara kaum muda mendekati festival. Menurutnya, kaum muda saat ini menghadiri upacara keagamaan dan festival, tetapi unsur pengalaman menjadi lebih menonjol. Hal ini mencerminkan pergeseran alami dalam masyarakat modern, di mana budaya diterima tidak hanya melalui buku tetapi juga melalui gambar dan pengalaman kehidupan nyata.
Media sosial telah berkontribusi menjadikan festival ini sebagai ruang visual yang kuat, di mana kaum muda mengabadikan momen dan berbagi perasaan pribadi. Menurutnya, ini bukanlah pertanda negatif, karena mendokumentasikan pengalaman juga merupakan cara untuk terlibat dengan budaya. Masalahnya terletak pada kenyataan bahwa saluran-saluran yang menyampaikan nilai-nilai tradisional tidak cukup menarik untuk membantu kaum muda memahami konten dan makna historis festival ini secara lebih mendalam.
"Kita tidak seharusnya memandang kaum muda dengan pesimisme. Sebaliknya, kita perlu mempertimbangkan kembali peran orang dewasa dalam membentuk pendekatan mereka terhadap budaya. Ketika kisah-kisah sejarah di balik festival diceritakan dengan gamblang, kaum muda secara alami akan tertarik. Budaya, menurut saya, tidak dapat ditransmisikan melalui slogan, tetapi melalui pengalaman dan emosi," tegasnya.
Budaya selalu memiliki banyak lapisan interpretasi.
Dari kenyataan itu, permasalahannya bukan hanya tentang seberapa banyak partisipasi dalam festival terjadi, tetapi tentang kedalaman pemahaman yang diperoleh dari partisipasi tersebut. Profesor Phan Van Truong berpendapat bahwa nilai budaya suatu festival tidak akan langsung hilang jika peserta tidak sepenuhnya memahami makna ritual tersebut, tetapi akan secara bertahap berkurang jika partisipasi hanya bersifat dangkal.

Suatu festival ada bukan hanya karena ritualnya, tetapi juga karena makna yang diberikan masyarakat terhadap ritual tersebut. Ketika makna itu dilupakan, ritual tersebut menjadi kebiasaan. Ketika ritual tersebut hanya sekadar kebiasaan, festival tersebut mudah dipengaruhi oleh faktor komersial atau psikologi pragmatis.
Namun, ia juga menekankan bahwa budaya memiliki banyak lapisan interpretasi. Tidak semua orang yang berpartisipasi dalam sebuah festival perlu memahaminya secara mendalam sejak awal. Beberapa hadir karena alasan keagamaan, beberapa karena tradisi keluarga, dan beberapa untuk pengalaman. Yang penting adalah masyarakat perlu menciptakan peluang bagi para peserta untuk belajar lebih banyak, alih-alih hanya mengulangi kegiatan yang murni bersifat seremonial.
Dari perspektif pendidikan, ia percaya bahwa festival tetap menjadi ruang yang sangat efektif untuk menyampaikan nilai-nilai budaya, bahkan mengandung unsur-unsur yang sulit digantikan oleh ruang kelas tradisional. Festival menawarkan aspek pengalaman langsung, memungkinkan orang untuk merasakan budaya melalui suasana, gambar, dan emosi.
Namun, liputan media saat ini tentang festival masih lebih berfokus pada "acara" daripada "nilainya." Informasi sering kali berputar di sekitar jumlah peserta, skala organisasi, atau gambar ruang festival, sementara penjelasan tentang signifikansi historis dan budayanya tidak diberikan perhatian yang semestinya. Menurutnya, setiap festival dapat menjadi cerita yang menarik jika diceritakan dengan benar.

Mengenai meningkatnya pengaruh lingkungan digital terhadap kehidupan budaya, Profesor Phan Van Truong mengatakan: “Hal itu seharusnya tidak dilihat sebagai tantangan tetapi sebagai alat. Media sosial tidak mengurangi nilai-nilai budaya; media sosial hanya mencerminkan bagaimana orang mendekati budaya. Jika konten yang disebarkan hanya berfokus pada citra dangkal, tanggung jawab terletak pada mereka yang bekerja di bidang budaya karena gagal menyediakan konten mendalam yang memadai.”
Menurutnya, melestarikan budaya bukan berarti mempertahankan bentuk penyelenggaraan festival yang sama. Bentuknya mungkin berubah seiring waktu, tetapi nilai-nilai intinya perlu terus ditegaskan. Ketika maknanya dilestarikan, festival akan selalu memiliki vitalitas dalam kehidupan modern.
Dari perspektif itu, kisah tentang "memahami ritual" atau "menghadiri upacara keagamaan" bukan hanya urusan kaum muda, tetapi kisah bersama bagi seluruh masyarakat. Karena, menurutnya, budaya hanya benar-benar ada ketika orang masih ingin memahami dan terus berbagi nilai-nilai yang telah terakumulasi dari waktu ke waktu.
Profesor Phan Van Truong adalah seorang ilmuwan dan profesor Vietnam terkemuka dengan banyak kontribusi penting di bidang sains dan pendidikan. Atas kontribusinya yang luar biasa, beliau dianugerahi medali penghargaan "Untuk Tujuan Pendidikan" oleh Presiden Republik Sosialis Vietnam. Beliau juga merupakan penulis buku-buku terkenal seperti: "Angin Pusaran Manajemen," "Kehidupan Manajemen," "Kehidupan Negosiasi," "Kehidupan Menemukan Jalan," dan lain-lain. Pada saat yang sama, beliau telah menyampaikan banyak pesan bermakna tentang pengembangan diri bagi kaum muda, dari perspektif pendidikan dan ekonomi .
Sumber: https://hanoimoi.vn/gioi-tre-ha-noi-hieu-le-hay-chi-di-le-734439.html







