Kejuaraan AFC U23 2026 telah berakhir, dan selain medali perunggu, hal yang paling menonjol dari tim U23 Vietnam adalah citra pelatih Kim Sang-sik – seorang warga Korea Selatan – yang berbicara tentang para pemain Vietnam dengan nada dan sikap layaknya anggota keluarga.
Tanggung jawab dan harga diri
Ketika pelatih Kim Sang-sik berbicara tentang para pemain Vietnam, ia sering menggunakan kata-kata seperti "rasa syukur," "pantang menyerah," dan "berkorban untuk satu sama lain." Ini bukan sekadar ungkapan pribadi; ini mencerminkan budaya yang menghargai hubungan guru-murid – di mana pemimpin tidak hanya memberikan pengetahuan tetapi juga bertanggung jawab atas moral tim.
Hal ini sangat mirip dengan budaya Vietnam, di mana citra seorang guru selalu dikaitkan dengan "kasih sayang" sebelum "bakat," sama seperti seseorang harus terlebih dahulu mempelajari "tata krama" sebelum mempelajari "pengetahuan." Kesamaan ini membantu pelatih Korea menghindari perasaan canggung ketika mereka datang ke Vietnam. Sebelum Kim Sang-sik, Park Hang-seo menciptakan sebuah model: tim nasional seperti sebuah keluarga.
Pelatih Park Hang-seo tidak hanya membangun taktik tetapi juga membangun kepercayaan. Ia membela para pemain dari opini publik dan menganggap kegagalan tim sebagai tanggung jawabnya sendiri. Kesuksesan sepak bola Vietnam dari tahun 2018 hingga 2022 tidak hanya terletak pada medali tetapi juga pada suasana persatuan tersebut.
Kim Sang-sik tidak sepenuhnya meniru citra pendahulunya, tetapi ia jelas melanjutkan jalan itu dengan caranya sendiri. Ketika Xiaoming cedera, ia merasa sedih. Ketika Dingbei mendapat kartu merah, ia khawatir. Ketika tim kalah dari tim U23 Tiongkok, ia tidak memarahi mereka di ruang ganti; sebaliknya, ia memilih untuk tetap diam dan hanya berbicara kepada para pemain keesokan harinya. Ini bukanlah kelemahan, melainkan cara berperilaku khas Asia Timur: menjaga martabat para pemain, dan kemudian mengingatkan mereka akan tanggung jawab dan harga diri mereka.
Menyentuh budaya
Pertandingan perebutan medali perunggu melawan Korea Selatan U23 merupakan momen yang sangat simbolis dan emosional. Ketika tim Vietnam U23 hanya memiliki 10 pemain, pelatih Kim Sang-sik hanya fokus mengingatkan para pemainnya untuk bertahan seperti yang telah mereka latih. Itulah kepercayaan – fondasi hubungan pelatih-pemain.
Ketika pertandingan berakhir, Kim Sang-sik membungkuk untuk berterima kasih kepada penonton Vietnam. Gestur itu memiliki makna budaya yang besar – seorang warga asing yang mengungkapkan rasa terima kasih kepada tempat yang telah menyambutnya.

Para penggemar berharap pelatih Kim Sang-sik akan membawa sepak bola Vietnam meraih prestasi baru. (Foto: AFC)
Kesamaan budaya antara Korea dan Vietnam, mulai dari semangat tim dan ketahanan hingga rasa hormat yang mendalam kepada guru dan mentor, telah menciptakan jembatan tak terlihat antara kedua budaya sepak bola tersebut. Vietnam belajar dari Korea tentang disiplin, kebugaran fisik, dan organisasi. Korea, melalui pelatih seperti Park Hang-seo dan Kim Sang-sik, menemukan ketulusan dan keinginan untuk berprestasi dalam diri para pemain Vietnam.
Oleh karena itu, medali perunggu di Kejuaraan AFC U23 2026 bukan hanya sebuah prestasi. Ini menandai tonggak sejarah yang menunjukkan bahwa hubungan Korea-Vietnam dalam sepak bola terus berlanjut, tetapi pada tahap yang berbeda: tidak sedahsyat era Park Hang-seo, tetapi lebih dalam ikatannya. Ketika seorang pelatih Korea berbicara tentang pemain Vietnam dengan hormat, dan pemain Vietnam berjuang untuk mendapatkan kepercayaan dari pelatih Korea, saat itulah sepak bola melampaui batas-batas olahraga dan menyentuh budaya.
Dari "keluarga Park Hang-seo" hingga "kata-kata terima kasih Kim Sang-sik," ada benang merah yang menghubungkan semuanya: kesuksesan sepak bola Vietnam bukan hanya karena taktik, tetapi juga karena pendekatannya terhadap pengembangan pemain.

Sumber: https://nld.com.vn/moi-luong-duyen-tren-san-co-196260128215354947.htm







Komentar (0)