Indonesia meresmikan ibu kota barunya, Nusantara, pada 17 Agustus, bertepatan dengan peringatan 79 tahun Kemerdekaannya. Namun, proyek "relokasi ibu kota" senilai $32 miliar di negara kepulauan ini baru akan selesai sepenuhnya pada tahun 2045 sesuai rencana.
Presiden Joko Widodo (tengah) berbicara kepada pers di ibu kota baru Nusantara pada 12 Agustus. (Sumber: The Jakarta Post) |
Pada 12 Agustus, Presiden Joko Widodo, yang memimpin megaproyek tersebut, mengadakan rapat kabinet pleno pertamanya di Istana Garuda, Nusantara. Rapat tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan para menteri kabinet, termasuk Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, yang terpilih sebagai Presiden dan dijadwalkan untuk menjabat pada 20 Oktober di Nusantara.
Bapak Subianto telah memilih Bapak Gibran Rakabuming Raka - putra Presiden Widodo - sebagai "wakilnya" dan berjanji untuk melanjutkan kebijakan pendahulunya, termasuk proyek ibu kota baru.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Jokowi menekankan bahwa ibu kota baru Nusantara menandai babak baru dalam sejarah Indonesia. Tidak semua negara memiliki kesempatan atau kemampuan untuk membangun ibu kota baru "dari nol".
Menurut Presiden, Nusantara memiliki posisi strategis yang penting dan akan mendorong pemerataan pembangunan ekonomi Indonesia. Menyatakan bahwa penyelesaian proyek raksasa ini bukanlah pekerjaan cepat melainkan proses yang panjang dan sulit, beliau berjanji untuk terus mendampingi penerusnya, Prabowo Subianto, dalam proses pembangunan ibu kota baru dan mengajak investor asing untuk berinvestasi dalam proyek tersebut.
Proyek Nusantara dibangun di tengah hutan di provinsi Kalimantan Timur, sekitar 1.200 km dari ibu kota Jakarta saat ini. Namun, proyek ini menghadapi banyak kendala, terutama konstruksi yang lambat dan kurangnya modal investasi. Rencana pemindahan ibu kota Indonesia pertama kali diusulkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) pada awal April 2019 dan digagas oleh Presiden Joko Widodo dalam Pidato Kenegaraan pada 16 Agustus 2019, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-74.
Gagasan pemindahan ibu kota sebenarnya telah dibahas selama puluhan tahun oleh berbagai presiden, sejak zaman presiden pertama negara ini, Bapak Sukarno. Gagasan tersebut terwujud dan menjadi mendesak di bawah Presiden Widodo.
Rencana "pemindahan ibu kota" muncul di tengah berbagai permasalahan Jakarta, seperti pencemaran lingkungan, banjir, dan kemacetan lalu lintas yang parah. Selain itu, karena letaknya yang rendah, Jakarta kerap dilanda pasang surut air laut dan banjir selama musim hujan.
Pengambilan air tanah yang berlebihan menyebabkan kota ini tenggelam dengan kecepatan yang semakin cepat. Para peneliti mengatakan Jakarta Utara telah tenggelam 2,5 m dalam 10 tahun terakhir dan terus tenggelam rata-rata 18 cm per tahun. Diperkirakan sebagian besar wilayah perkotaan Jakarta dapat tenggelam sepenuhnya pada tahun 2050.
Pernah menjadi ibu kota kerajaan Sunda pada abad pertengahan, kemudian kota pelabuhan Batavia pada masa penjajahan Belanda, dan kemudian ibu kota pada tahun 1940-an ketika Indonesia mendeklarasikan kemerdekaan, Jakarta sekarang menjadi kota terbesar di Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 10 juta orang, tiga kali lebih besar daripada jumlah penduduk kota-kota tetangga.
Oleh karena itu, ketika menyinggung rencana pemindahan ibu kota, Presiden Joko Widodo menekankan bahwa ibu kota bukan hanya simbol identitas nasional, tetapi juga representasi kemajuan negara. Pemilihan ibu kota baru juga mencerminkan visi negara, yaitu mewujudkan tujuan ekonomi masa depan.
Menurut Presiden Joko Widodo, ibu kota baru Indonesia dirancang sebagai kota pintar yang berkelanjutan, dengan transportasi umum yang efisien, sistem air dan listrik yang ramah lingkungan. Pemerintah Indonesia bertujuan menjadikan ibu kota baru ini salah satu dari 10 kota paling layak huni di dunia dan menarik talenta asing, terutama dari negara-negara Asia Tenggara.
[iklan_2]
Sumber: https://baoquocte.vn/indonesia-doi-do-ve-dong-kalimantan-282677.html
Komentar (0)