Mengikuti jejak anak-anak, aku berjalan menyusuri jalan tanah merah yang panjang dan berkabut, dedaunan keemasan berkilauan tertiup angin saat melayang turun dari dahan. Tawa riang anak-anak memecah keheningan hutan karet yang luas, yang sedang memasuki musim pergantian warna daun. Daun-daun keemasan menutupi tanah di bawah kakiku, membuatku merasa seolah-olah telah tersesat ke alam mimpi yang dipenuhi pepohonan dan dedaunan, tempat yang hanya ditemukan dalam cerita-cerita dari negeri yang jauh.
Berawal dari awal abad ke-20, selain menanam, memanen, memasok bahan baku dan layanan yang terkait dengan industri karet, hutan seluas lebih dari 10.000 hektar ini juga memainkan peran penting dalam membersihkan udara dan menyaring debu dari kota-kota besar di sekitarnya.
Untuk mengambil foto yang menakjubkan, wisatawan sering memilih waktu tertentu, baik saat fajar dengan kabut pagi atau saat matahari terbenam dengan sinar matahari yang menerobos. Jalan-jalan yang berkelok-kelok tampak lebih indah dalam foto, menyerupai lukisan cat minyak dengan nuansa warna yang memikat.
Aspek menarik lainnya adalah ketika mengunjungi hutan karet, wisatawan dapat mencicipi madu yang diproduksi dalam kondisi alami hutan tersebut. Selama musim panen madu, setiap kelompok peternakan lebah biasanya memiliki puluhan pekerja yang membawa peralatan untuk menghindari sengatan lebah, mesin pengasap, dan ratusan wadah plastik untuk menampung madu saat diangkut ke pabrik.
Hutan karet yang luas merupakan destinasi ideal bagi koloni lebah. Lebah-lebah ini memakan getah pohon karet, menghasilkan madu dengan warna kuning pucat, rasa manis yang lembut, dan aroma yang halus. Pengunjung dapat menikmati pemandangan romantis, lingkungan alam yang segar, dan mencicipi produk lokal, serta jangan lupa membeli oleh-oleh unik ini sebagai hadiah.







Komentar (0)