Berhasil mengendalikan robot untuk menangkap bola di kelas robotika "LEGO Science and Robotics".

Anak-anak dapat belajar robotika di Eureka Experiential Science Center, Human Resource Training and Development Center, atau Hue City Information Technology Center (Hue CIT), dengan 30% waktu belajar didedikasikan untuk teori dan hingga 70% untuk pelatihan praktik.

Di Eureka Experiential Science Center, suasana di kelas robotika biasanya cukup meriah. Di atas meja terdapat set LEGO, sensor, roda, motor listrik, dan tablet untuk pemrograman. Selama kurang lebih satu jam, siswa merakit robot berdasarkan tema yang dipandu oleh guru, kemudian memprogramnya untuk melakukan tugas-tugas seperti bergerak, menghindari rintangan, menavigasi labirin, atau mengumpulkan objek.

Bagian paling menarik biasanya terjadi di akhir pelajaran, ketika kelompok-kelompok siswa membawa "kreasi" mereka untuk berpartisipasi dalam tantangan simulasi. Beberapa kelompok mengendalikan robot untuk mengatasi rintangan, sementara yang lain mencoba memprogram robot untuk menemukan jalur terpendek. Sorak-sorai dan tepuk tangan membuat ruang kelas terasa seperti taman bermain teknologi mini, tempat anak-anak belajar dan bereksplorasi dengan rasa ingin tahu yang alami.

Tuệ Tâm, seorang siswa kelas empat di Sekolah Dasar Trường An, mengatakan bahwa hal yang paling ia sukai adalah membuat dan mengendalikan robotnya sendiri. “Terkadang robotnya mengalami kerusakan atau tidak berfungsi, jadi kami harus membongkarnya dan memperbaikinya. Awalnya, saya merasa kesulitan, tetapi saya terbiasa dan merasa sangat menikmatinya,” kata Tuệ Tâm.

Menurut para guru, robotika adalah bidang pendidikan yang mengintegrasikan banyak elemen seperti mekanika, elektronika, pemrograman, dan pemikiran logis. Namun, yang terpenting bukanlah apakah siswa dapat membangun robot yang lengkap, melainkan proses belajar untuk mengamati, bereksperimen, menerima kesalahan, dan menemukan solusi sendiri untuk masalah.

Berbeda dengan pembelajaran berbasis teori, robotika memungkinkan anak-anak mengakses pengetahuan melalui pengalaman langsung. Ketika sebuah robot tidak berfungsi seperti yang diharapkan, siswa harus memeriksa setiap detailnya sendiri, mulai dari perakitan dan koneksi motor hingga perintah pemrograman. Proses ini membantu anak-anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kesabaran, dan kerja tim.

Menurut Ibu Ngo Thi Thuan, yang mengajar robotika di Eureka, kurikulum biasanya dirancang sesuai dengan usia dan kemampuan belajar siswa. Pada tahap awal, anak-anak terutama dikenalkan dengan model perakitan sederhana dan operasi pemrograman dasar pada perangkat pintar. Pada tingkat yang lebih tinggi, siswa mulai belajar pemrograman menggunakan Scratch di komputer, menggunakan sensor, dan membangun model robot yang mampu menangani situasi yang lebih kompleks.

Selain pengetahuan teknologi, robotika juga membantu siswa mengembangkan banyak keterampilan lunak. Dalam pelajaran kelompok atau kompetisi, siswa harus bertukar ide, membagi tugas, dan berkoordinasi untuk menyelesaikan produk. Ini juga merupakan kesempatan bagi anak-anak untuk melatih keterampilan komunikasi, presentasi, dan kerja tim.

Namun, pengajaran robotika juga menuntut fasilitas dan personel yang cukup besar. Karena sifatnya yang praktik langsung, guru perlu memantau setiap siswa dengan cermat untuk memberikan dukungan selama perakitan dan pemrograman. Oleh karena itu, jumlah siswa di setiap kelas biasanya dibatasi agar pembelajaran tetap efektif.

Meskipun robotika masih merupakan bidang yang relatif baru di banyak daerah, meningkatnya minat dari orang tua dan siswa menunjukkan bahwa tren pendidikan yang terkait dengan pengalaman teknologi secara bertahap berkembang. Robotika tidak hanya menumbuhkan kecintaan pada sains, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan pemikiran kreatif, keterampilan pemecahan masalah, dan proaktivitas pada anak-anak di era digital.

Teks dan foto: Phuoc Ly

Sumber: https://huengaynay.vn/giao-duc/khoi-mo-tu-duy-cong-nghe-tu-robotics-166140.html