Bagiku, kenangan tentang desa diperkaya oleh perjalanan-perjalananku. Aku ingat suatu kali kembali ke sebuah desa terpencil, setengah hari perjalanan dari kota, yang terletak dengan tenang di sebuah lembah di tengah perbukitan dan pegunungan. Di sepanjang jalan tanah merah yang berkelok-kelok menuju desa, terbentang hamparan hijau yang luas bercampur dengan warna merah perkebunan kopi di musim panen. Saat berjalan, aku mendengarkan obrolan dan tawa riang yang berasal dari pohon-pohon kopi yang sarat dengan buah matang.
Di seberang jalan, mataku tertuju pada sosok seorang wanita, setengah terburu-buru, setengah santai, berjalan tanpa alas kaki dengan keranjang penuh kayu bakar di punggungnya. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki. Melihatku berhenti untuk memulai percakapan, dia membalas dengan senyum yang sedikit malu-malu namun cerah dan hangat.

Sore harinya, saya mengikuti para ibu dan saudari ke sumber air. Dari jauh, saya bisa mendengar suara riuh desa yang ramai. Bagaimanapun, selama beberapa generasi, sumber air itu telah menjadi tempat kegiatan sehari-hari penduduk desa berlangsung. Kebiasaan menggunakan air dari sumber itu telah berkontribusi pada kekompakan komunitas. Terlebih lagi, dalam benak penduduk desa, sumber air itu memiliki nilai spiritual yang sangat besar, mewakili aspek budaya yang unik. Gambaran itu terasa akrab sekaligus sakral.
Dari setetes air ini, tak terhitung banyaknya orang yang tumbuh besar, dibesarkan oleh air yang lembut dan menyegarkan, kehangatan rumah panggung, dan persahabatan dalam komunitas. Oleh karena itu, bahkan ketika mereka dewasa dan bepergian jauh, mereka tetap mengingat air desa mereka. Sentimen ini tertanam dalam benak mereka, menjadi bagian yang tak terlupakan dari kenangan mereka. Selama bertahun-tahun, kenangan tentang desa ini diperkaya, menyalakan api yang menghangatkan hati dan membangkitkan cinta akan tanah air dan akar mereka.
Aku ingat malam-malam di desa. Di ruang yang luas dan tenang, malam semakin gelap dengan hembusan sunyi pegunungan dan hutan. Angin terasa semakin kencang, menembus setiap jejak kabut putih tebal yang menyelimuti perbukitan. Dalam cuaca dingin, di dekat api unggun yang bergemuruh di rumah panggung, aku duduk mendengarkan para tetua menggumamkan cerita-cerita tentang desa.
Potongan-potongan kenangan muncul kembali, dikenang dengan kasih sayang dari mereka yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk pegunungan, mencintainya dengan napas dalam di dada mereka, dan percaya bahwa pegunungan dan hutan adalah tempat perlindungan bagi kehidupan manusia. Kisah masa lalu dan masa kini saling terkait, terhubung dan berlama-lama seperti aliran jernih yang tak pernah berakhir di tepi hutan. Aku ingat suatu kali, di bawah terik matahari siang, aku duduk di tepi sungai dan dengan santai meminum airnya yang sejuk dan jernih, menyadari dengan lebih jelas betapa aku menghargai tanah air kedua ini.
Seiring waktu, perjalanan saya kembali ke desa menjadi lebih sering. Ikatan antara saya dan penduduk desa, dan antara desa dan saya, tumbuh semakin kuat, lebih tulus, dan lebih mendalam. Dari perjalanan-perjalanan ini, saya memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang adat dan tradisi kuno masyarakat saya, membenamkan diri dalam ruang yang sarat dengan legenda, dengan suara gong yang saling berjalin dan tarian lingkaran berirama di sekitar api unggun yang hangat, diiringi oleh guci-guci anggur beras yang harum.
Saat-saat penting di desa, seperti upacara persembahan air, perayaan panen padi baru, atau festival Pơ Thi... Dan di saat-saat menandai masuknya saya ke kehidupan desa, berbagi pikiran dan perasaan dengan penduduk desa, saya sangat memahami cinta mendalam yang mereka miliki untuk komunitas mereka. Cinta ini diungkapkan secara paling mendalam melalui nilai-nilai budaya yang dilestarikan dan diwariskan bersama oleh setiap individu dan seluruh komunitas desa.
Dari semua perjalanan itu, aku semakin merindukan desa-desa tempat aku singgah. Dan kemudian, di saat-saat rentan, hatiku sakit karena rindu akan rumah, tempat aku dibesarkan bersama nenekku yang pekerja keras. Desaku terletak di tepi Sungai Tra Ly. Kakekku mengatakan bahwa Sungai Tra Ly adalah anak sungai dari Sungai Merah, yang bermula di persimpangan Pham Lo, beberapa puluh kilometer dari desaku.
Sungai itu berkelok-kelok dengan lembut melewati desa-desa, terkadang mengalir tepat melewati desa saya sebelum bermuara ke Laut Timur. Sungai yang tenang dan mengalir sepanjang tahun ini menyimpan kenangan tak terhitung generasi yang tumbuh di wilayah penghasil padi ini, terikat pada ladang, berlumuran keringat kerja keras mereka – seperti kakek-nenek saya, bibi dan paman saya, seperti orang-orang di desa saya. Puluhan tahun jauh dari rumah, sungai itu masih membangkitkan kerinduan yang mendalam dalam diri saya. Kerinduan yang menggetarkan hati saya!
Manusia terkadang aneh; ketika di kota, mereka merindukan desa mereka, dan ketika di tempat baru, mereka mendambakan rumah lama mereka. Dan saat kerinduan itu semakin kuat, saya menghabiskan waktu berjalan-jalan di bawah sinar matahari keemasan dan angin sepoi-sepoi di sepanjang jalan yang hijau dan rimbun, kembali ke desa saya dengan tawa riang yang dipicu oleh banjir kenangan.
Sumber: https://baogialai.com.vn/ky-uc-lang-post575029.html






Komentar (0)