Desa bukan hanya tempat tinggal. Desa adalah kenangan, adat istiadat, rumah komunal, kuil, sumur, pohon beringin, tepi sungai, sawah, peraturan desa, tradisi keluarga, dan semangat komunitas; desa adalah pembawa 'DNA budaya' bangsa melalui perubahan sejarah yang tak terhitung jumlahnya. Oleh karena itu, reorganisasi dusun mungkin diperlukan, tetapi sama sekali tidak ada desa yang boleh dihancurkan.

Dalam beberapa hari terakhir, isu reorganisasi dan konsolidasi desa dan daerah pemukiman telah banyak dibahas di berbagai daerah. Beberapa daerah sedang mengembangkan rencana untuk reorganisasi dan konsolidasi desa dan daerah pemukiman, yang terkait dengan reorganisasi cabang Partai dan komite Front Tanah Air, yang akan diselesaikan sebelum 30 Juni 2026; orientasi umumnya adalah untuk merampingkan struktur organisasi dan meningkatkan efisiensi manajemen di tingkat akar rumput.

Hal ini diperlukan dalam konteks reformasi pemerintahan daerah menuju efektivitas dan efisiensi yang lebih besar. Namun justru pada saat inilah kita harus tetap tenang dan membedakan dengan jelas antara reorganisasi unit administratif dan penghapusan entitas budaya. Sebuah dusun mungkin merupakan organisasi yang mengatur dirinya sendiri dalam sistem administrasi akar rumput, tetapi sebuah desa adalah entitas budaya dan sejarah. Penggabungan unit administratif bukan berarti kita diizinkan untuk menghapus nama desa, ingatan desa, ruang desa, adat istiadat desa, atau lapisan warisan budaya yang telah membentuk fondasi Vietnam.

Lang 1.jpg
Jika keluarga adalah sel masyarakat, maka desa adalah sel budaya nasional.

Sepanjang sejarah bangsa, desa Vietnam telah menjadi salah satu institusi yang paling bertahan lama. Ada dinasti yang berkembang dan kemudian runtuh, perang yang berkepanjangan, periode dominasi asing, perpecahan, dan kehancuran, namun desa tetap ada.

Di desa inilah bahasa Vietnam dilestarikan dalam lagu pengantar tidur ibu, lagu-lagu rakyat dan peribahasa, bentuk sapaan, festival, serta adat dan tradisi. Di desa inilah kepercayaan akan pemujaan leluhur, pemujaan dewa pelindung desa, dan pemujaan terhadap mereka yang telah berjasa bagi bangsa dan desa dipertahankan sebagai bentuk pendidikan sejarah melalui emosi. Di desa inilah norma-norma "menghormati orang tua dan mengalah kepada yang lebih muda," "saling membantu di saat dibutuhkan," "saling peduli," dan "menolong mereka yang membutuhkan" diwariskan dari generasi ke generasi, bukan melalui ceramah yang membosankan, tetapi melalui kehidupan sehari-hari.

Mengatakan bahwa desa adalah sel budaya suatu bangsa bukanlah ungkapan kiasan. Ini adalah pernyataan dengan dasar historis, sosial, dan budaya yang sangat dalam. Jika keluarga adalah sel masyarakat, maka desa adalah sel budaya nasional. Keluarga memelihara karakter individu; desa memelihara karakter komunitas. Keluarga mewariskan garis keturunan; desa mewariskan kenangan komunitas. Keluarga mengajarkan orang untuk mencintai kerabat mereka; desa mengajarkan orang untuk hidup bersama komunitas, dengan tanah air mereka, dengan negara mereka.

Dari desa, orang-orang Vietnam menjelajah ke seluruh negeri. Dari rumah komunal desa, rumpun bambu, jalan tanah, tepi kolam, pohon beringin, tepi sungai, orang-orang belajar pelajaran pertama mereka tentang identitas: Di mana mereka berada, kepada siapa mereka bertanggung jawab, dan bagaimana mereka harus hidup agar tidak mempermalukan leluhur mereka, tetangga mereka, dan tanah air mereka.

Kita telah mengalami masa-masa penindasan nasional, tetapi bukan kehilangan budaya. Salah satu alasan mendasar adalah bahwa budaya Vietnam tidak terbatas pada istana kerajaan, tidak hanya pada buku, tidak hanya pada lembaga negara, tetapi berakar kuat di desa-desa.