Sekitar pukul 4 sore setiap hari, saya sering melihat Pak Nguyen Van Tu, yang tinggal di gang yang sama dengan saya, membawa kursi plastik tuanya ke beranda. Dia duduk di sana cukup lama, diam-diam mengamati orang-orang yang lewat, menunggu pekerjaan atau sekolah usai… Suatu kali, saat mengobrol, dia berkata bahwa dia tidak sedang menunggu siapa pun secara khusus, dia hanya ingin duduk di sana untuk mendengarkan suara orang-orang, untuk mengurangi kesepiannya.

Komune Dong Thai menyelenggarakan upacara untuk merayakan panjang umur para lansia di komune tersebut. Foto: BAO TRAN
Saat ini, Bapak Tư tinggal bersama istrinya. Beliau memiliki dua anak, salah satunya sudah menikah dan tinggal terpisah; anak bungsu bekerja di Kota Ho Chi Minh. Dari segi kondisi materi, kehidupan mereka relatif stabil: mereka memiliki pensiun, asuransi kesehatan , dan obat-obatan disediakan oleh pusat kesehatan setempat. Namun, menurutnya, hal-hal tersebut masih belum cukup untuk mengisi kekosongan dalam kehidupan spiritual mereka. Orang lanjut usia tidak hanya membutuhkan perawatan tetapi juga didengarkan.
Sore-sore yang saya habiskan untuk mengamati Bapak Tư membuat saya lebih banyak berpikir tentang realitas populasi lansia di masyarakat. Kisah tentang kekosongan spiritual yang ditinggalkan oleh para lansia secara bertahap menjadi lebih jelas. Harapan hidup meningkat, dan jumlah lansia bertambah, tetapi suara mereka tampaknya kurang mendapat perhatian di tengah kehidupan yang serba cepat. Mereka hadir dalam keluarga dan komunitas mereka, tetapi tidak selalu hadir dalam percakapan, keputusan, atau perhatian sehari-hari.
Di dekat tempat saya bekerja tinggal Ibu Tran Thi Sau (74 tahun). Beliau tinggal bersama putranya dan dua cucu kecilnya. Selalu ada orang di rumah, tetapi beliau mengatakan sering merasa kesepian. Kisah-kisah yang ingin beliau ceritakan tentang membesarkan anak-anaknya dan tentang lingkungannya semakin jarang diceritakan karena anggota keluarga terbiasa dengan waktu mereka sendiri. Waktu yang mereka habiskan bersama semakin singkat, dan banyak perasaannya tetap tak terucapkan.
Melalui cerita-cerita Ibu Sau, saya menyadari bahwa kesepian para lansia tidak hanya berasal dari hidup sendirian. Bahkan dalam keluarga besar, mereka masih bisa merasa kehilangan jika tidak memiliki koneksi yang tulus. Kesenjangan generasi bukan hanya tentang perbedaan usia; tetapi juga tentang perbedaan kecepatan hidup dan gaya komunikasi. Sementara kaum muda terbiasa dengan pertukaran yang cepat dan singkat, para lansia membutuhkan percakapan yang lambat dan tatap muka. Ketika kedua kecepatan ini tidak bertemu, para lansia sering memilih untuk menarik diri. Banyak orang lanjut usia mengakui memiliki banyak kekhawatiran tetapi takut untuk membagikannya karena takut mengganggu anak dan cucu mereka. Di permukaan, kehidupan mereka tampak stabil, tetapi di dalam terdapat kecemasan dan kesedihan yang tidak mudah diungkapkan.
Tidak hanya di dalam keluarga mereka, tetapi juga di masyarakat, para lansia kekurangan ruang yang cukup untuk menyuarakan pendapat mereka. Beberapa kegiatan bagi mereka sebagian besar masih bersifat formal, terutama terbatas pada kunjungan dan pemberian hadiah selama liburan, tanpa interaksi yang tulus. Yang dibutuhkan para lansia adalah pendampingan jangka panjang: partisipasi dalam kegiatan masyarakat, kesempatan untuk memberikan nasihat, dan berbagi pengalaman hidup dan kerja yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun. Namun, banyak lansia masih belum menemukan saluran yang tepat untuk menyuarakan pikiran mereka, sehingga suara mereka mudah terabaikan.
Dari pengamatan saya, saya menyadari bahwa para lansia adalah kelompok yang membutuhkan bantuan sekaligus sumber daya sosial yang berharga. Di banyak daerah, mereka aktif berpartisipasi dalam pekerjaan sosial, menengahi perselisihan di tingkat akar rumput, mendidik anak dan cucu mereka, serta menjaga keamanan dan ketertiban di daerah tempat tinggal mereka. Ketika didengarkan dan diberi kesempatan, para lansia tidak hanya hidup bahagia dan sehat, tetapi juga terus berkontribusi kepada masyarakat. Yang penting adalah mereka perlu diakui sebagai pemangku kepentingan yang memiliki suara, bukan hanya sebagai penerima manfaat kebijakan.
Beberapa anak muda yang saya ajak bicara juga mengakui bahwa terkadang kurangnya perhatian mereka kepada kakek-nenek mereka bukan karena ketidakpedulian, melainkan karena tekanan kerja dan laju kehidupan yang cepat. Meskipun merawat orang tua sering dipahami terutama sebagai memenuhi kebutuhan materi mereka, kebutuhan emosional mereka terkadang tidak sepenuhnya diakui, padahal ini merupakan faktor penting dalam kualitas hidup mereka.
Seiring dengan peningkatan kebijakan jaminan sosial dan perawatan kesehatan, saya percaya bahwa kebutuhan spiritual para lansia perlu mendapat perhatian lebih. Mendengarkan tidak hanya berasal dari satu pihak saja, tetapi harus dipupuk melalui percakapan keluarga kecil, perhatian lembut dari komunitas, dan ruang di mana para lansia dapat mengungkapkan pikiran mereka. Ketika suara itu tidak lagi diabaikan, usia lanjut akan menjadi kurang sunyi, dan masyarakat, dalam proses penuaan penduduk, akan menjadi lebih manusiawi.
TRAN QUANG
Sumber: https://baoangiang.com.vn/lang-nghe-nguoi-cao-tuoi-a476523.html







Komentar (0)