
Setelah lulus dengan gelar Sarjana Ilmu Lingkungan dari Universitas Da Lat, Ibu Dung bekerja di berbagai zona pertanian berteknologi tinggi di berbagai daerah. Pengalaman ini memungkinkan beliau untuk mengakses model pertanian canggih dan memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan antara produksi, standar kualitas, dan permintaan konsumen. Sekembalinya ke kampung halaman, alih-alih melanjutkan praktik pertanian tradisional, beliau memilih untuk memulai dengan meneliti pasar dan mengidentifikasi kelompok produk yang sesuai dengan tren konsumen lokal dan kondisi pertanian. Ibu Dung berbagi: “Jika Anda hanya mengandalkan metode pertanian lama, sangat sulit untuk bersaing. Saya memilih untuk meneliti pasar terlebih dahulu, melihat apa yang dibutuhkan konsumen, tingkat produk apa yang bersedia mereka terima, sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Pertanian sekarang membutuhkan pemahaman yang jelas tentang permintaan pasar agar berkelanjutan.”
Di lahan seluas kurang lebih 1,4 hektar, Ibu Dung dengan berani menginvestasikan hampir 800 juta VND untuk membangun rumah kaca, sistem irigasi, memilih bibit unggul, dan menerapkan proses produksi yang sesuai dengan praktik pertanian yang aman dan mendekati standar GlobalGAP. Beliau menyadari bahwa investasi awal yang signifikan ini merupakan langkah penting untuk mengendalikan kualitas produk, menstabilkan hasil panen, dan memastikan produksi yang proaktif.
Mulai Juni 2025, ia mulai menanam bibit untuk persiapan pasar Tahun Baru Imlek pada tahun 2026. Di dalam rumah kaca, tanaman diatur dengan beragam namun terencana dengan cermat, memaksimalkan pemanfaatan ruang sekaligus meminimalkan risiko.
Salah satu tanaman utama adalah markisa Okinawa, varietas impor dari Jepang, yang cocok untuk budidaya di rumah kaca. Menurut Ibu Dung, keunggulan varietas ini adalah kualitas buahnya yang seragam, rasa yang mudah disukai pasar, dan pertumbuhan yang stabil jika suhu, kelembapan, dan nutrisi dikontrol dengan baik. Saat ini, kebun tersebut memiliki sekitar 20 tanaman markisa, dan panen pertama diperkirakan sekitar 20 hari lagi. Rata-rata, sekitar 6 buah menghasilkan 1 kg, dengan harga jual di kebun sekitar 100.000 VND/kg. Dengan perkiraan hasil panen sekitar 3.000 buah, setara dengan hampir 500 kg, markisa dianggap sebagai tanaman yang memberikan nilai ekonomi yang jelas di lahan yang relatif kecil.
Secara paralel, Ibu Dung menanam 70 pohon apel Thailand, varietas dengan teknik budidaya yang relatif sederhana, biaya investasi rendah, dan kebutuhan perawatan minimal, namun menghasilkan buah yang melimpah dan berkualitas tinggi secara konsisten. Kebun apel tersebut kini mulai berbuah, dengan apel yang manis dan menarik yang dibeli langsung oleh pedagang dari kebun dengan harga berkisar antara 60.000 hingga 70.000 VND per kilogram. Kombinasi tanaman tahunan dan tanaman jangka pendek memastikan aliran pendapatan yang berkelanjutan, memberikan kemandirian finansial.
Tidak puas hanya dengan pohon buah-buahan, Ibu Dung juga mengalokasikan sebagian lahannya untuk menanam bunga untuk pasar Tet (Tahun Baru Imlek). Musim Tet tahun ini, kebunnya memiliki sekitar 400 pot bunga gerbera, 100 pot bunga matahari, 100 pot bunga krisan, dan lebih dari 2.000 tanaman krisan tanah.
Salah satu ciri khas model ini adalah pendekatan produksinya yang proaktif dan terencana dengan baik, dari input hingga output. Alih-alih mengejar kuantitas, Ibu Dung berfokus pada kualitas produk, dengan mematuhi prosedur teknis dan standar keselamatan. Hasilnya, pertanian ini telah membangun pasar yang stabil, dengan produk yang sebagian besar dijual di Kota Ho Chi Minh dan sebagian kecil di pasar lokal.
Menurut Bapak Pham Van Dong, Ketua Asosiasi Petani Komune Da Teh 2, model Ibu Ngo Thi Thuy Dung merupakan contoh cemerlang dalam gerakan pengembangan ekonomi pertanian lokal. Yang patut diperhatikan adalah pola pikir produksinya yang inovatif, investasi yang berani, kemampuan memilih tanaman yang sesuai, dan keterkaitan antara produksi dan permintaan pasar. Ini adalah arah yang patut ditiru di daerah dengan lahan terbatas tetapi kebutuhan nilai ekonomi yang tinggi.
Sumber: https://baolamdong.vn/lap-nghiep-tu-cach-lam-nong-moi-421720.html







Komentar (0)