Orang tua mengantar siswa baru ke sekolah untuk menyelesaikan prosedur penerimaan. Foto ilustrasi |
Selama bertahun-tahun, Sejarah telah dikaitkan dengan stereotip yang membosankan, berfokus pada menghafal fakta dan angka, sehingga banyak siswa menganggapnya sebagai mata pelajaran yang kurang diminati. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tentang risiko generasi muda mengabaikan sejarah nasional.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi perubahan yang nyata. Program pendidikan telah direformasi ke arah yang mendorong pemikiran kritis, dan pendekatan pengajaran menjadi semakin hidup. Banyak guru muda dengan berani menerapkan metode bercerita, memanfaatkan dokumen dan film, dipadukan dengan teknologi digital, mengubah lembaran sejarah yang kering menjadi pelajaran yang dekat dengan kehidupan. Bersamaan dengan itu, masyarakat lebih tertarik untuk "melestarikan jiwa bangsa", menegaskan bahwa Sejarah bukan hanya sebuah mata pelajaran, tetapi juga fondasi budaya.
Nilai acuan yang tinggi untuk jurusan Pendidikan Sejarah tidak hanya menunjukkan daya tarik jurusan ini, tetapi juga mencerminkan kebutuhan sosial. Menjadikan Sejarah sebagai mata kuliah wajib dalam Program Pendidikan Umum yang baru merupakan dorongan penting, yang membuka peluang karier yang stabil bagi mahasiswa. Di saat yang sama, pengembangan penelitian, media, museum, dan pariwisata budaya juga menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi mereka yang mempelajari Sejarah.
Terpilihnya para kandidat tahun ini menunjukkan bahwa generasi muda tertarik pada Sejarah bukan hanya karena "mencari pekerjaan mudah" atau "berpenghasilan tinggi", melainkan karena kesadaran yang mendalam akan peran pengetahuan sejarah dalam pembangunan bangsa. Hal ini merupakan sinyal positif, yang menunjukkan kecintaan dan tanggung jawab kaum muda terhadap masyarakat dan memori nasional.
Dari sana, kita dapat mengharapkan perubahan dalam pilihan ini untuk berkontribusi dalam mengatasi kekurangan guru sejarah di banyak daerah, sebuah isu yang telah menjadi perhatian sektor pendidikan akhir-akhir ini.
Tentu saja, skor acuan yang tinggi tidak cukup untuk memastikan kualitas pelatihan atau memastikan peluang karier yang terbuka. Isu pentingnya adalah bagaimana mengubah "gelombang cinta" menjadi motivasi nyata untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran Sejarah.
Untuk melakukannya, perguruan tinggi keguruan perlu terus berinovasi dalam metode pelatihan, meningkatkan praktik, menghubungkan pembelajaran dengan ruang budaya dan situs bersejarah; dan pada saat yang sama menginspirasi minat dan keterampilan penelitian siswa.
Melampaui kisah skor, kebangkitan Pendidikan Sejarah mencerminkan perubahan kesadaran sosial akan peran ilmu sosial dan humaniora, yang menempatkan Sejarah sebagai pusatnya. Ketika masa lalu diakui akan nilai sejatinya, masa kini memiliki fondasi yang kokoh untuk membangun masa depan.
Sumber: https://baothainguyen.vn/giao-duc/202508/lich-su-len-ngoi-66a5c8c/
Komentar (0)