Ada kalanya di siang hari, di tengah kesibukan kerja dan perjalanan yang tak berujung, saya tiba-tiba melambat karena kerinduan yang sangat familiar. Kerinduan itu adalah untuk ibu saya. Tidak tajam, tidak ganas, hanya tenang seperti angin yang berhembus melalui beranda tua, tetapi cukup untuk membuat hati saya sakit.
Ibuku telah tiada, tetapi bayangannya tetap hadir di setiap sudut ingatanku, di setiap momen tenang yang langka dalam hidupku. Ketika ia masih hidup, aku biasa berpikir bahwa waktu adalah hal yang paling berlimpah. Aku percaya bahwa setelah satu perjalanan bisnis lagi, satu artikel lagi, satu periode sibuk lagi, aku akan bisa pulang dan duduk di sampingnya untuk waktu yang lama. Aku terbiasa dengan janjinya tentang "lain kali," terbiasa dengan penantiannya yang sunyi, tanpa memahami bahwa beberapa "lain kali" itu tidak akan pernah datang.
Saya memilih jurnalisme sebagai profesi. Itu adalah pilihan yang naluriah sekaligus didorong oleh cita-cita. Ibu saya tidak keberatan. Dia hanya khawatir dalam diam. Sejak saya memulai karier, perjalanan saya menjadi lebih sering, dan kunjungan saya ke rumah menjadi lebih jarang. Setiap kali saya mengemasi tas dan pergi, ibu saya akan berdiri di beranda, mengawasi sampai sosok saya menghilang dari pandangan. Saat itu, saya tidak tahu bahwa di balik tatapan itu terdapat malam-malam tanpa tidur yang tak terhitung jumlahnya baginya, menunggu telepon untuk memberi tahu saya bahwa saya selamat dan sehat.
Menjadi seorang jurnalis berarti menerima tekanan, bahaya, dan kesepian yang sangat nyata. Ada malam-malam di mana aku begadang, makan sambil menangis, dengan hati-hati menimbang setiap kata antara benar dan salah, antara kebenaran dan garis tipis. Aku mencurahkan masa mudaku ke dalam perjalanan tanpa tanggal kembali, ke dalam kisah-kisah yang perlu diceritakan. Tetapi sebagai gantinya, aku kehilangan begitu banyak momen bersama ibuku.
Saat ibuku sakit, aku tidak ada di sana. Aku hanya bisa mengecek keadaannya melalui telepon, dengan pesan-pesan singkat dan terburu-buru. Di ujung telepon, ia masih berusaha berbicara lembut untuk menenangkanku, meskipun kesehatannya telah memburuk secara signifikan. Aku tidak melihat sosoknya semakin kurus setiap tahunnya, dan aku juga tidak mendengar desahannya saat malam tiba. Rumah yang familiar, tempat aku mengenal setiap batu bata dan setiap sudut dapur, tiba-tiba menjadi tempat yang jauh dalam perjalananku yang tak berujung. Beberapa malam, di kota asing, aku bermimpi pulang. Ibuku masih duduk di dekat perapian, memanggilku untuk makan malam. Mimpi itu begitu sederhana sehingga ketika aku bangun, aku terkejut menyadari itu hanyalah mimpi. Tangan yang dulu membelai kepalaku saat aku kecil sudah tidak ada lagi, hanya menyisakan kerinduan yang sunyi dan terus-menerus.
Sebagai seorang anak, aku memikul hutang yang tak akan pernah bisa kubayar lunas sepenuhnya. Pada peringatan kematian kakek-nenekku, aku izin tidak masuk kerja karena pekerjaanku belum selesai. Aku berjanji akan pulang untuk makan masakan ibuku, tetapi aku terus saja melewatkan janji temu. Ibuku tidak pernah menyalahkanku. Ia hanya meminta adikku untuk bertanya pelan-pelan, "Apakah kakakmu akan pulang?" Itu pertanyaan sederhana, tetapi setiap kali aku mendengarnya, hatiku terasa sakit. Ibuku hanya menginginkan satu hal sederhana: agar aku tenang. Tetapi justru keinginan sederhana itulah yang berkali-kali kulanggar janjinya.
Aku pikir aku masih punya waktu, bahwa penantian ibuku tak berujung. Aku percaya bahwa ketika aku punya lebih banyak waktu luang, aku akan pulang dan menghabiskan waktu lama bersamanya. Tapi hidup tidak berjalan sesuai rencana yang belum terpenuhi. Pada hari aku menerima kabar meninggalnya ibuku, semua suara di sekitarku menjadi sunyi. Tidak ada tangisan keras, tidak ada ratapan pilu. Hanya ruang kosong di hatiku – tempat di mana kehangatan ibuku pernah bersemayam. Tiba-tiba aku mengerti bahwa perjalanan terpanjang dalam hidup seseorang bukanlah jalan yang telah mereka lalui, tetapi perjalanan ibu mereka – sebuah perjalanan tanpa kembali.
Hari itu, aku pulang. Rumah itu masih ada, beranda masih ada, tetapi orang yang menungguku telah pergi. Dapur terasa dingin. Meja makan kosong. Aku duduk dalam diam untuk waktu yang lama, mendengarkan suara samar waktu yang berlalu. Semuanya terasa sangat familiar, tetapi hal terpenting telah hilang. Sekarang setelah aku kembali kepada ibuku, dia sudah tidak ada lagi. Ibu, kau telah pergi ke Nirvana. Dan mulai sekarang, kau telah pergi dariku selamanya.
Saya menulis baris-baris ini sebagai penghormatan. Bukan untuk terpaku pada masa lalu, bukan untuk mengeluh, tetapi untuk mengingatkan diri sendiri agar hidup lebih lambat, untuk lebih sering berhenti sejenak di tengah hiruk pikuk. Karena ketika orang tua masih hidup, di sanalah kita dapat kembali. Ketika orang tua telah tiada, itu hanyalah tempat untuk mengenang. Di suatu tempat yang damai, saya percaya ibu saya masih mengawasi saya – dengan tatapan lembut yang sama seperti hari ia mengantar saya pergi. Dan saya percaya bahwa jika saya hidup lebih baik, hidup lebih penuh untuk mereka yang masih ada, itulah cara paling terlambat namun tulus yang dapat saya tunjukkan sebagai bentuk bakti kepada ibu saya!
Sumber: https://baophapluat.vn/me-di-qua-ben-kia-mua-gio.html






Komentar (0)