![]() |
Menatap Bulan - sebuah cetakan kayu tradisional Jepang. (Gambar ilustrasi: JP) |
Ihara Saikaku (1642-1693) adalah seorang penyair dan novelis Jepang terkemuka pada abad ke-17. Ia memainkan peran utama dalam gerakan kebangkitan sastra. Dijuluki "santo puisi," Ihara Saikaku mampu menggubah 16 baris haiku dalam satu menit, sehingga mendapatkan kekaguman dari banyak penyair sezamannya. Ia adalah penulis serbaguna, sukses baik dalam puisi maupun fiksi.
Ihara Saikaku meletakkan dasar bagi genre yang sepenuhnya baru: "ukiyo-zoshi" (novel fujoshi). Genre ini juga membuka jalan bagi sastra Jepang realis dan populer. Ketika membahas novel ukiyo-zoshi karya Ihara Saikaku, kita tidak dapat mengabaikan "Dua Puluh Perbuatan Tidak Hormat ". Karya ini menawarkan refleksi mendalam, mengungkapkan banyak penyimpangan sosial di Jepang periode Edo awal.
Merenungkan asal usul bakti kepada orang tua.
Dua Puluh Empat Contoh Bakti kepada Orang Tua adalah karya terkenal Tiongkok yang disusun oleh Guo Juye pada masa Dinasti Yuan. Ihara Saikaku menggunakan karya terkenal ini sebagai tandingan. Sementara orang sering memuji contoh-contoh bakti kepada orang tua, ia menggali dan menganalisis kisah-kisah anak-anak yang durhaka, yang dibenci dan dikutuk oleh masyarakat. Baik bakti kepada orang tua maupun perilaku durhaka memiliki penyebab yang mendasarinya.
![]() |
Buku "Dua Puluh Perbuatan Tidak Hormat Terhadap Bakti kepada Orang Tua" karya Ihara Saikaku. Ilustrasi: IPM. |
Tokoh-tokoh dalam buku ini semuanya adalah individu-individu tercela yang melakukan berbagai macam perbuatan jahat dan tidak menghormati orang tua mereka. Apa yang membuat mereka menjadi "anak-anak yang tidak taat"? Itu adalah perlakuan terlalu manja dari orang tua mereka yang mencegah mereka membedakan yang benar dari yang salah, secara bertahap menuntun mereka ke jalan yang salah, mengubah mereka menjadi orang jahat, dan yang lebih buruk lagi, menyebabkan mereka kehilangan kemanusiaan mereka.
Para ayah dan ibu yang digambarkan dalam karya tulis Ihara Saikaku tidak tahu bagaimana menjadi orang tua. Mereka pada dasarnya adalah individu jahat yang mengabaikan moralitas dan etika. Tokoh ayah dan ibu dalam karyanya sebagian besar adalah pencuri dan pedagang yang tidak bermoral, penuh tipu daya dan muslihat. Beberapa di antaranya lemah kemauan, malas, dan hanya tahu bagaimana mengeluh tentang nasib mereka.
Anak-anak adalah cerminan dari orang tua mereka. Bagaimana mungkin orang jahat dan hina bisa membesarkan anak-anak yang baik? Dalam lingkungan seperti itu, mudah dipahami mengapa anak-anak menjadi pemberontak.
Tidak menghormati orang tua adalah dosa besar. Tetapi sebelum mengutuk mereka yang durhaka, Ihara Saikaku ingin pembaca mencari akar penyebab masalah tersebut. Sebelum mengejek individu-individu tercela ini, mari kita telusuri alasan mengapa mereka menjadi orang jahat. Tanpa diajarkan apa yang benar dan salah, orang bisa tersesat. Ketidaktaatan seorang anak sering kali berasal dari kegagalan orang tua dalam memberikan pendidikan yang layak.
Gaya penulisan yang jelas dan ringkas, penuh dengan nuansa peringatan.
Dua Puluh Perbuatan Tidak Hormat karya Ihara Saikaku ditulis dengan gaya yang jelas dan mendalam. Ia tidak ragu untuk mengomentari dan menawarkan pendapat serta penilaiannya sendiri tentang peristiwa dan tindakan para tokoh. Dari situ, ia meninggalkan peringatan dan nasihat bagi para pembaca untuk menghindari jalan yang salah dan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip moral.
Buku ini mengumpulkan banyak kisah yang dicatat selama perjalanannya, menghasilkan latar yang kaya dan karakter yang beragam. Dari pegunungan tinggi dan hutan belantara hingga kota-kota yang ramai, kita dapat menjumpai orang-orang jahat dan durhaka di mana-mana. Baik kaya maupun miskin, orang dapat menghadapi godaan, yang menyebabkan mereka menjadi rusak dan durhaka.
Penulis mengambil sudut pandang yang sangat netral dengan memasukkan beragam karakter dari berbagai kelas sosial dalam buku tersebut. Menurutnya, semua manusia pada dasarnya baik; hanya melalui didikan dan gaya hidup mereka menjadi egois dan jahat. Jika diajarkan apa yang benar dan adil, siapa pun dapat menjadi baik.
Ihara Saikaku sangat menekankan hukum sebab dan akibat. Menurutnya, orang tua adalah "sebab," dan anak-anak adalah "akibat." Orang tua yang berbuat jahat menabur benih buruk dan tidak akan pernah menuai buah yang manis. Sebaliknya, orang tua yang hidup berbudi luhur adalah pelajaran terbesar bagi anak-anak mereka.
Anak-anak yang pember rebellious menyebabkan kesedihan bagi orang tua mereka dan mencegah mereka menikmati masa tua; dalam beberapa kasus, mereka bahkan meninggal dalam kepahitan dan rasa malu. Inilah "konsekuensi" yang harus ditanggung orang karena "karma" yang telah mereka tabur. Untuk menuai buah yang manis, seseorang harus menanam benih yang sehat dari kebaikan dirinya sendiri.
Selain menceritakan kisah-kisah moral dan membahas kehidupan, Ihara Saikaku juga dengan cermat mengamati kehidupan masyarakat setempat, mendokumentasikan banyak kebiasaan menarik di tempat-tempat yang dikunjunginya. Banyak dari kebiasaan tersebut kini telah hilang.
Sumber: https://znews.vn/moi-quan-he-nhan-qua-chu-hieu-giua-cha-me-va-con-cai-post1634534.html












Komentar (0)