Lahir pada tahun 1947 di provinsi Quang Nam, Bapak Nguyen Dinh Hoang menerima pendidikan formal di Universitas Teknologi Hanoi . Setelah bertahun-tahun belajar dan bekerja, beliau memilih Dong Nai sebagai tempat tinggalnya. Selama hampir 80 tahun, beliau telah mempertahankan ketekunan, semangat belajar mandiri, dan keinginan yang tak henti-hentinya untuk mencari kebaikan dan keindahan dalam hidup. Baginya, setiap hari adalah kesempatan untuk belajar, berkontribusi, dan hidup sepenuhnya dengan penuh semangat. Optimisme dan sikap positif inilah yang telah membentuk Nguyen Dinh Hoang menjadi sosok yang sederhana namun artistik, damai namun selalu bersinar dengan cinta terhadap kehidupan dan sesama.
Kecintaan pada puisi dan perjalanan kreatif
Lahir di Vietnam Tengah, tanah yang dipenuhi matahari dan angin, di mana sungai-sungai kecil berlumpur karena endapan lumpur selama musim hujan dan benar-benar kering selama musim kemarau, orang-orang di sana harus hidup dengan sabar dan gigih, seperti pohon myrtle ungu di bukit pasir. Mungkin itulah sebabnya Nguyen Dinh Hoang terjun ke dunia puisi sejak usia sangat muda. Karena siapa pun yang tumbuh di tengah sungai dan saluran air di Vietnam Tengah, sampai batas tertentu, membawa jiwa puitis di dalam dirinya.
Puisi-puisinya penuh dengan kerutan kenangan, napas hari-hari yang dihabiskan jauh dari rumah, penuh dengan gambaran ibunya, neneknya, dan tepian sungai tua yang menunggu seseorang untuk kembali.
Perlahan kembali ke sungai berangin di kampung halaman saya.
Asap kebiruan dari dapur melambangkan ikatan kasih sayang yang lembut.
Nenekku dulu biasa bangun pagi-pagi sekali untuk menyambut fajar.
Tempat di mana ibuku menanggung penderitaan seumur hidupnya.
Aku kembali ke tepi sungai, tempat ibuku menangis setiap malam.
Mata berkaca-kaca, menunggu ayah pulang.
Dua puluh tahun jauh dari kampung halaman saya.
Ibu menunggu ayah dengan cemas di tepi sungai yang berangin…
![]() |
| Tuan Nguyen Dinh Hoang, "pekerja kaligrafi" yang rajin. Foto: Hien Luong |
Wilayah Tengah memang keras, namun di sanalah jiwa puitis dengan tenang berakar. Dalam ingatannya, tanah kelahirannya bukan hanya tempat ia dilahirkan, tetapi juga sumber dari mana kata-katanya mengalir tanpa suara. Dan mungkin, dari hari-hari yang dihabiskannya di tepi sungai-sungai tanah kelahirannya, di mana air mengalir tanpa lelah seperti kisah tanah dan penduduknya, puisinya tumbuh lebih kaya dan dalam. Sungai menjadi tempat curahan hatinya, tempat ia mempercayakan perasaannya, tempat di mana bait-bait puisinya disucikan untuk menjadi murni dan tenang. Oleh karena itu, hari ini, ketika mengingat perjalanan itu, ia ingin meminjam citra sungai yang familiar untuk menceritakan kisah hatinya.
Saya lahir di wilayah pesisir tengah.
Kekeringan, hujan lebat, banjir, badai
Terlepas dari kesulitan dan rintangan yang ada, kebaikan hati manusia itu sungguh tulus.
Seperti biji jagung dan kentang, mereka setia dan memiliki rasa yang lezat.
Aku sudah pergi selama bertahun-tahun.
Kenangan tentang kincir air itu masih terukir jelas di benak saya.
Mimpi masa kecil telah terbang tinggi.
Ibuku berjuang menanggung beban kehidupan sehari-hari.
Seperti ulat sutra yang memintal benangnya, Nguyen Dinh Hoang telah menerbitkan tujuh jilid puisi, berisi sekitar 100 puisi, dan 18 jilid esai tentang perjalanannya, kampung halamannya di Dong Nai , dan dirinya sendiri. Setiap jilid mewakili perjalanan yang tenang namun abadi, di mana ia menyisipkan pengalaman sehari-hari, emosi kemanusiaan yang mendalam, dan kecemasan tentang perubahan hidup. Baginya, puisi bukanlah tentang pamer tetapi tentang berbagi; bukan tentang pamer, tetapi tentang memungkinkan pembaca untuk menemukan diri mereka sendiri dalam kata-kata seringan hembusan napas, sedalam jejak yang tertinggal di jiwa.
![]() |
| Bapak Nguyen Dinh Hoang (kiri) dan Bapak Nguyen Van Liet, dua orang yang selalu membicarakan puisi setiap kali bertemu. Foto: Hien Luong |
Bapak Nguyen Dinh Hoang berkata: Baginya, cinta kepada Dong Nai adalah perasaan yang sangat alami, dalam, dan abadi. Kembali ke Bien Hoa dan Tran Bien (Dong Nai), ia merasa akrab dengan segala hal, mulai dari jalanan dan sudut-sudut hingga ritme kehidupan sehari-hari; semuanya terasa dekat dan menyenangkan. Bahkan ketika jalanan menjadi lebih sepi di hari libur, ia masih merasakan sensasi yang sangat istimewa: Bien Hoa masih ada di sana, tenang namun hangat, seperti bagian yang tak terpisahkan dari darah dagingnya.
"Bagi saya, Bien Hoa dan Tran Bien bukan hanya tempat untuk dikunjungi kembali, tetapi tempat di mana setiap jalan dan setiap momen tenang membangkitkan perasaan kedekatan yang sulit dilupakan," kata Bapak Hoang.
Ketika menulis menjadi jiwa
Selain menulis puisi dan prosa, Bapak Nguyen Dinh Hoang juga seorang kaligrafer, yang menyediakan jasa kaligrafi di berbagai acara budaya. Sebagian orang memilih kaligrafi untuk memperindah halaman. Tetapi beliau memilihnya untuk memperindah hati manusia. Selama 25 tahun memegang kuas, beliau telah menjadi kaligrafer yang tekun. Setiap goresan ke bawah adalah napas. Setiap goresan ke atas adalah pesan. Baginya, memberikan kaligrafi bukan hanya tentang memberikan benda materi, tetapi tentang memberikan kebaikan, kemurahan hati, dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Kaligrafi harus tulus agar indah. Memberikan kaligrafi berarti memberikan keyakinan. Dan seorang kaligrafer bukan hanya seorang penulis, tetapi juga jembatan yang menghubungkan benang tak terlihat antara tradisi dan masa kini.
"Tradisi para kaligrafer di masa lalu adalah menyampaikan pemikiran dan prinsip moral melalui setiap goresan pena. Kaligrafi bukan hanya tentang menulis dengan indah, tetapi tentang menulis dengan jiwa orang yang memegang pena, sehingga meskipun setiap orang berada di ruang yang berbeda dan berbicara bahasa yang berbeda, mereka tetap dapat merasakan dan memahami," ungkap Bapak Hoang.
Bapak Ngo Tuan Hien (berdomisili di Kelurahan Tran Bien), seorang murid Bapak Nguyen Dinh Hoang, berbagi: “Saya belajar kaligrafi dengan Bapak Hoang bukan hanya untuk memperbaiki tulisan tangan saya, tetapi juga untuk mempelajari hati dan makna di balik setiap karakter. Setiap karya yang beliau tulis menyampaikan filosofi hidup, yang jelas mencerminkan karakternya dan kedalaman budaya yang selalu beliau junjung tinggi.”
Terpesona oleh teknologi digital
Dengan musik, Bapak Nguyen Dinh Hoang selalu mempertahankan kecintaan yang abadi dan segar, tanpa memandang waktu. Di usia hampir 80 tahun, beliau tetap bersemangat mengeksplorasi dan bereksperimen, terutama dengan berani terjun ke dunia teknologi digital untuk menciptakan karya-karyanya.
Meskipun banyak orang yang lebih tua ragu-ragu menggunakan ponsel pintar, Bapak Hoang mahir dalam perangkat lunak produksi dan aransemen musik, dan bahkan menggunakan kecerdasan buatan (AI) sebagai pendamping. Teknologi telah membuka lebih banyak pintu bagi melodi-melodinya. Dari kamar kecilnya, ia dengan sabar menyesuaikan setiap nada, mendengarkan saran AI, dan mengubahnya menjadi karya dengan gaya uniknya sendiri. Usia tidak dapat menghambat kreativitas, dan teknologi, jika berani maju, akan selalu menjadi sahabat bagi setiap generasi.
"Bagi saya, AI adalah alat bantu. Saya menggunakannya untuk membuat musik, untuk menangani aspek teknis. Berkat itu, saya menghemat waktu, dan saya dapat mencurahkan lebih banyak waktu untuk emosi dan pemikiran kreatif saya," ujar Bapak Hoang.
Bapak Nguyen Van Liet, mantan Wakil Ketua Persatuan Asosiasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Provinsi Dong Nai, berkomentar: "Dalam inovasi, manusia tetap menjadi pusat perhatian, sementara teknologi hanyalah alat bantu. Bapak Hoang tahu bagaimana memanfaatkan teknologi sambil tetap mempertahankan kedalaman kreativitasnya, yang sangat terpuji dan menginspirasi generasi muda."
Ia tidak hanya menunjukkan kemampuan beradaptasi tetapi juga menginspirasi orang lain bahwa teknologi tidak mengecualikan siapa pun; selama jantung masih berdetak, kita masih dapat berkreasi dan mengikuti laju kehidupan baru setiap hari. Dan semangat belajar dan kreativitas inilah yang membawanya pada banyak pertemuan menarik dalam kehidupan sehari-harinya.
Setelah berkiprah di Dong Nai selama lebih dari empat dekade, ia meninggalkan jejak yang tenang namun abadi melalui puisi, prosa, esai, dan kaligrafinya. Ia menulis secara ekstensif dan menerima penghargaan, tetapi tidak pernah menganggap itu sebagai tujuan utama. Baginya, pengakuan terbesar adalah mampu terus berkarya dan hidup dengan kata-kata dengan sepenuh hati.
"Hidup tanpa puisi akan terasa sangat hampa. Puisi membantu saya mempertahankan bagian diri saya yang paling murni," katanya.
Kisah penyair dan penulis Nguyen Dinh Hoang adalah sumber inspirasi yang indah bagi para seniman masa kini: pendiam, gigih, terus-menerus menemukan jati dirinya kembali, namun tetap mempertahankan integritas sebagai seorang penulis.
Hien Luong
Sumber: https://baodongnai.com.vn/dong-nai-cuoi-tuan/202512/mot-doi-giu-lai-chu-va-tho-f680d49/









Komentar (0)