Menjelang hari kelahiran Buddha, banyak kuil menjadi lebih ramai dari biasanya. Selain umat Buddha lanjut usia dan orang-orang yang datang untuk berdoa memohon perdamaian, dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi peningkatan jumlah anak muda yang mencari kuil untuk mengikuti retret jangka pendek, terutama mereka yang mempraktikkan Delapan Sila.

Banyak orang memilih mengunjungi kuil untuk berdoa memohon perdamaian, berpartisipasi dalam kegiatan spiritual, dan merasakan suasana istimewa musim perayaan ini. Foto: Nguyen Hue
Oleh karena itu, banyak anak muda memilih untuk menghabiskan hari itu dengan cara yang berbeda dari rutinitas biasanya: bangun pagi, makan makanan vegetarian, mendengarkan ajaran Buddha, menjaga ketenangan, dan membatasi penggunaan telepon. Bagi mereka, musim ulang tahun Buddha bukan lagi sekadar hari raya keagamaan, tetapi juga waktu bagi pikiran untuk beristirahat setelah berbulan-bulan sibuk bekerja dan belajar dalam kehidupan.
Kebutuhan akan istirahat bagi pikiran.
Perkembangan pesat media sosial dan teknologi telah mengubah kehidupan kaum muda dengan sangat cepat. Pekerjaan menjadi lebih menegangkan, kehidupan menjadi lebih sibuk, dan banyak orang lebih rentan terhadap stres berkepanjangan.
Sebagian orang begadang hingga larut malam tetapi kesulitan tidur. Sebagian lainnya menghabiskan waktu berjam-jam menjelajahi media sosial tetapi tetap merasa kesepian. Dan kemudian ada orang-orang yang terus berusaha tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya sangat kelelahan di dalam.
Di antara mereka, banyak anak muda memilih mengunjungi kuil sebagai tempat di mana pikiran mereka dapat menemukan kedamaian.
Banyak anak muda mengatakan bahwa hal tersulit dalam menjalani Delapan Sila setiap hari bukanlah makan makanan vegetarian atau bangun pagi, tetapi belajar untuk meletakkan ponsel dan duduk tenang sendirian.
Di era di mana orang hampir selalu menanggapi pesan, memperbarui informasi, dan mengikuti laju pekerjaan, menjaga keheningan selama beberapa jam terkadang bisa menjadi tantangan yang cukup besar.
Delapan Prinsip dan Perjalanan Menuju Gaya Hidup Lambat
Delapan Sila adalah praktik Buddhis bagi umat awam, yaitu menjalankan delapan sila selama satu hari dan satu malam untuk mengembangkan kehidupan yang lebih dekat dengan gaya hidup suci para biarawan.
Para peserta akan mempraktikkan ajaran-ajaran seperti tidak membunuh, tidak berbohong, tidak minum alkohol, tidak makan setelah tengah hari, membatasi kesenangan duniawi, dan menjaga pikiran yang murni.
Bertentangan dengan kepercayaan umum bahwa pergi ke kuil hanya untuk berdoa memohon kedamaian atau keberuntungan, mempraktikkan Delapan Sila mengharuskan pesertanya untuk benar-benar memperlambat dan melepaskan diri dari ritme kehidupan sehari-hari.
Selama waktu itu, mereka mempraktikkan kehidupan yang lebih sederhana, membatasi paparan mereka terhadap teknologi, dan meluangkan lebih banyak waktu untuk mendengarkan ajaran Dharma, bermeditasi, dan mengamati diri sendiri.

Retret Delapan Sila untuk siswa muda dan umat Buddha di Kuil Phat Quoc Van Thanh (lingkungan Xa Cam, kelurahan Binh Long, provinsi Dong Nai ). Foto: Phat Su Online.
Di era di mana orang dapat online hampir sepanjang hari, mendedikasikan 24 jam untuk gaya hidup santai, menjaga batasan, dan membatasi penggunaan teknologi menjadi semakin sulit bagi banyak anak muda.
Mungkin itulah sebabnya mengapa mempraktikkan Delapan Sila saat ini bukan hanya aktivitas spiritual tetapi juga memenuhi kebutuhan banyak anak muda modern untuk sementara waktu melepaskan diri dari dunia digital.
Delapan Sila bukan hanya praktik keagamaan.
Banyak anak muda yang mengikuti retret meditasi mengatakan bahwa mereka mengunjungi kuil-kuil selama hari ulang tahun Buddha bukan semata-mata untuk berdoa memohon kekayaan atau kesuksesan. Setelah tekanan hidup, yang terkadang mereka butuhkan hanyalah momen kedamaian untuk meringankan pikiran mereka.
Berdasarkan pengamatan, banyak kuil melaporkan bahwa jumlah anak muda yang berpartisipasi dalam retret meditasi selama musim ulang tahun Buddha telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda saat ini tidak lagi memandang kunjungan ke kuil hanya sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai cara untuk menyeimbangkan emosi dan menemukan ketenangan pikiran.
Dalam masyarakat di mana segala sesuatu terjadi begitu cepat, orang mudah terjebak dalam tekanan untuk sukses, untuk menjadi lebih baik dari orang lain, atau untuk memenuhi standar yang ditetapkan di media sosial.
Namun seiring bertambahnya usia, banyak orang menyadari bahwa kedamaian batin terkadang jauh lebih penting daripada hal-hal yang bersifat dangkal.
Oleh karena itu, menjalankan Delapan Sila selama musim kelahiran Buddha secara bertahap menjadi pilihan populer bagi banyak anak muda...
Retret Delapan Sila adalah bentuk pelatihan monastik bagi umat awam, yang mengharuskan mereka untuk menjalankan delapan sila selama satu hari dan satu malam. Selama musim kelahiran Buddha (biasanya dari tanggal 8 hingga 15 bulan ke-4 kalender lunar), kuil-kuil sering menyelenggarakan retret ini pada tanggal 8, 14, atau 15 untuk membantu umat Buddha membersihkan pikiran dan tubuh mereka.

Mengapa ada ritual memandikan patung Buddha selama perayaan ulang tahun Buddha? Ritual memandikan patung Buddha bukanlah sekadar "memandikan" patung dalam arti konvensional, melainkan sebuah upacara simbolis; ini adalah cara bagi umat Buddha untuk memperingati kelahiran Buddha, dan pada saat yang sama, mengingatkan setiap orang untuk membersihkan tubuh dan pikiran mereka.
Sumber: https://vietnamnet.vn/mua-phat-dan-nguoi-tre-chon-mot-ngay-tu-bat-quan-trai-2519575.html
Komentar (0)