Cuaca perlahan berubah menjadi musim gugur. Setelah hujan semalam, halaman depan bersih tanpa cela, seolah-olah baru saja disapu. Buah sấu kuning yang matang, entah kapan jatuh, terhampar rapi di sudut halaman, sudut-sudutnya yang sedikit retak memperlihatkan tetesan air—pemandangan yang membangkitkan selera makanku. Aku duduk di beranda, memungut beberapa buah sấu, mengenang masa lalu.
Dulu, ketika saya masih berusia sembilan atau sepuluh tahun, pohon sấu di depan rumah kami sudah besar dan berbuah lebat. Saat musim gugur tiba, buah sấu matang dan berubah kuning, berjatuhan di seluruh halaman. Nenek saya biasanya bangun paling pagi di rumah, jadi ketika kami membuka pintu untuk menyambutnya di pagi hari, halaman dan gerbang sudah disapu bersih olehnya.
Setelah sarapan, ia mengeluarkan semangkuk buah ambarella matang, dikupas dan direndam dengan gula, bumbu penyedap, dan berbagai rempah lainnya. Irisan bulat ambarella yang direndam dalam bumbu tersebut memberi kami energi setiap hari.
Pada hari-hari ketika buah sấu berlimpah, nenek saya akan mengupas dan membersihkannya, lalu memasukkannya ke dalam toples kaca untuk direndam dalam gula. Setelah beberapa hari, sấu akan menyerap gula dan dapat dicampur dengan sedikit air yang disaring untuk membuat minuman yang menyegarkan. Setiap kali kami pulang dari menggembala kerbau atau memotong rumput, nenek akan memberi kami segelas jus sấu yang manis dan dingin. Setelah menghabiskan jusnya, kami akan mengunyah daging buah sấu yang renyah, meninggalkan rasa yang lingering di lidah kami.
Saya dan saudara-saudari saya memiliki masa kecil yang damai dikelilingi oleh buah sấu yang sedang matang. Kami tumbuh dewasa tanpa menyadarinya. Nenek saya meninggal dunia pada usia lebih dari 90 tahun. Ketika kami membangun rumah baru, ayah saya memastikan untuk melestarikan pohon sấu agar tetap rimbun dan berbuah hingga sekarang.
Dalam beberapa tahun terakhir, para pedagang tidak datang untuk membeli sấu (sejenis buah), jadi selama musim panen, ayah saya memetiknya dan memberikannya kepada tetangga, hanya menyisakan beberapa buah di pohon untuk matang. Ketika musim gugur tiba, hembusan angin sepoi-sepoi saja sudah cukup untuk membuat buah sấu yang matang jatuh ke halaman dengan suara gemerisik lembut.
Mendengar suara buah matang yang jatuh di halaman mengingatkan saya pada nenek saya, dan pada kenangan masa kecil yang damai yang telah berlalu.
Sumber







Komentar (0)