Pada 2 Juni, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan konflik di Ukraina dapat segera berakhir jika tentara Ukraina setuju untuk menarik diri dari wilayah yang diklaim Rusia sebagai wilayah yang dianeksasi.



Para pejabat Rusia dalam sebuah pertemuan di Kremlin.
Menurut Peskov, Rusia memprioritaskan pencapaian tujuannya melalui negosiasi perdamaian. Namun, jika Ukraina terus menolak untuk bernegosiasi, operasi militer khusus Rusia akan berlanjut.




Pemandangan kehancuran setelah serangan di Ukraina.
Peskov juga menyatakan bahwa pertempuran "bisa saja berakhir hari ini," sambil menegaskan bahwa serangan sistematis masih menargetkan infrastruktur militer di Kyiv dan kota-kota Ukraina lainnya.

Rusia menyatakan kes readinessnya untuk bernegosiasi perdamaian jika Ukraina menarik pasukannya (Foto: Reuters)
Pernyataan tersebut muncul di tengah serangan udara skala besar Rusia yang menggunakan rudal dan drone yang menargetkan Kyiv dan kota-kota lainnya. Otoritas Ukraina mengatakan serangan itu menewaskan sedikitnya 18 warga sipil dan melukai lebih dari 100 orang.
Menurut Moskow, serangan udara ini merupakan balasan atas serangan Ukraina terhadap sebuah asrama di kota Starobilsk, wilayah Luhansk, bulan lalu, yang menewaskan 21 orang. Kremlin mengutuknya sebagai "tindakan terorisme yang tidak manusiawi," sementara Ukraina bersikeras bahwa mereka hanya menargetkan pusat komando militer, bukan warga sipil.
Silakan saksikan HTV News pukul 8 malam dan Program Dunia 24 Jam pukul 8:30 malam setiap hari di saluran HTV.
Sumber: https://htv.vn/nga-neu-dieu-kien-dam-phan-hoa-binh-voi-ucraina-222260603134745789.htm








Komentar (0)