Ketua Majelis Nasional Vuong Dinh Hue berpidato di rapat Komite Tetap Majelis Nasional pada sore hari tanggal 16 April. (Foto: DUY LINH)
Pada sore hari tanggal 16 April, dalam Sidang ke-32, Panitia Tetap Majelis Permusyawaratan Rakyat memberikan pendapatnya terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan dan Penambahan Beberapa Pasal dalam Undang-Undang tentang Kefarmasian.
Dalam rapat tersebut, Ketua Majelis Nasional Vuong Dinh Hue menyatakan bahwa perkembangan industri farmasi bersifat ekonomis dan berkaitan dengan perawatan serta perlindungan kesehatan masyarakat, sehingga perlu mendapat perhatian besar dan kebijakan untuk mendorong perkembangannya. Industri farmasi memiliki potensi besar, tetapi pada kenyataannya skalanya masih kecil.
Ketua Majelis Nasional menunjukkan bahwa saat ini, sebagian besar obat-obatan umum dapat diproduksi di Vietnam, tetapi sekitar 90% bahan baku pembuatan obat-obatan harus diimpor. Sebagian besar obat-obatan esensial dan khusus masih harus diimpor.
Ketua Majelis Nasional meminta Kementerian Kesehatan dan Komite Urusan Sosial Majelis Nasional untuk meninjau Keputusan No. 376/QD-TTg Perdana Menteri tentang Program Pengembangan Industri Farmasi dan Bahan Obat Dalam Negeri Tahun 2030 dengan visi 2045, untuk melegalkan sejumlah kebijakan guna mendorong industri ini berkembang lebih kuat.
Menurut Ketua Majelis Nasional, harus ada kebijakan preferensial untuk perusahaan yang memproduksi produk teknologi tinggi; mempromosikan usaha patungan dalam dan luar negeri ke dalam rantai, terutama dalam kegiatan transfer teknologi di Vietnam.
"Kebijakan distribusi Vietnam masih terbatas, sehingga perlu dipertimbangkan untuk menghubungkan perusahaan-perusahaan domestik dan asing guna memproduksi, mendistribusikan, dan mengedarkan secara berantai di dalam dan luar negeri," ujar Ketua Majelis Nasional.
Ketua Majelis Nasional Vuong Dinh Hue mengatakan bahwa industri farmasi memiliki potensi besar, tetapi skalanya saat ini masih kecil. (Foto: DUY LINH)
Selain itu, Ketua Majelis Nasional mengatakan, dimungkinkan untuk melegalkan beberapa kebijakan preferensial terhadap output produk sarana produksi dalam negeri seperti dalam pengadaan barang dan jasa, pemilihan obat-obatan, pembayaran biaya pengobatan, jaminan kesehatan, dan lain sebagainya.
Dengan lebih dari 90% bahan baku harus diimpor, Ketua Majelis Nasional mengangkat masalah kebijakan pajak impor preferensial untuk bahan baku impor untuk obat-obatan.
"Meskipun kebijakan perpajakan telah diatur dalam undang-undang perpajakan, beberapa undang-undang perpajakan dan tarif impor yang menjadi kewenangan Pemerintah akan diubah di masa mendatang. Jika harga bahan baku impor tinggi, obat-obatan dalam negeri akan mahal, masyarakat harus membeli dengan harga tinggi, dan daya saing obat-obatan produksi dalam negeri juga akan rendah," ujar Ketua Majelis Nasional Vuong Dinh Hue.
Menurut Ketua DPR, perlu ada kajian kebijakan untuk melengkapi insentif pajak impor bagi bahan baku impor untuk kemasan farmasi, eksipien, cangkang kapsul, dan sebagainya. Bagi bahan baku yang belum dapat diproduksi, perlu diberikan preferensi pajak untuk menekan biaya.
Merujuk pada isi regulasi tentang usaha jaringan apotek dan perdagangan obat dan bahan farmasi secara elektronik, Ketua Majelis Nasional mengatakan bahwa perusahaan farmasi cenderung ingin melonggarkan regulasi tentang perdagangan obat secara daring untuk memperlancar kegiatan produksi dan usaha.
"Namun, obat-obatan adalah produk yang sangat khusus, berkaitan dengan kesehatan, keselamatan, dan kehidupan manusia, sehingga perlu dicari keseimbangan antara memfasilitasi bisnis obat dan menjamin keselamatan masyarakat. Poin kunci dari amandemen undang-undang ini adalah ini," tegas Ketua Majelis Nasional.
Ketua Majelis Nasional mengatakan bahwa perdagangan narkoba melalui sistem elektronik merupakan bentuk baru, sehingga perlu dikontrol secara ketat dan dampak spesifiknya perlu dikaji. Oleh karena itu, panitia perancang dan lembaga yang mengkaji rancangan undang-undang perlu mempertimbangkan secara cermat manfaat dan risikonya, menilai tingkat pengendalian oleh badan pengelola negara, dan mempelajari pengalaman negara-negara di seluruh dunia terkait isu ini.
“Bagaimana menemukan keseimbangan terbaik antara produksi, bisnis, dan sirkulasi yang nyaman, sekaligus menjamin transparansi dan keamanan bagi pembeli,” ujar Ketua Majelis Nasional.
Sumber
Komentar (0)