Menurut Profesor Madya Nguyen Trong Hung (Institut Gizi Nasional), setiap 100 gram jambu biji menyediakan sekitar 33 kkal, 0,6 gram protein, 7,7 gram karbohidrat, dan 1,5 kali lipat jumlah vitamin C dibandingkan dengan jeruk. Vitamin C tidak hanya mempercepat penyembuhan luka dan membantu penyerapan zat besi, tetapi juga memperkuat sistem kekebalan tubuh, membantu tubuh melawan agen penyebab penyakit.
Selain itu, jambu biji mengandung vitamin B6, serta mineral seperti zat besi, seng, kalsium, dan magnesium, yang berkontribusi pada kesehatan secara keseluruhan.
Pencegahan kanker: Jambu biji mengandung antioksidan kuat seperti likopen, quercetin, vitamin C, dan polifenol. Senyawa-senyawa ini membantu menetralkan radikal bebas – penyebab kerusakan sel dan pendorong pertumbuhan sel kanker. Studi menunjukkan bahwa konsumsi jambu biji secara teratur dapat mengurangi risiko beberapa jenis kanker, terutama kanker payudara dan tiroid.
Dukungan pencernaan: Dengan kandungan serat larut dan tidak larut yang melimpah, jambu biji merupakan "sahabat" ideal bagi usus. Serat membantu meningkatkan motilitas usus, mencegah sembelit, dan mendukung mikrobioma usus yang sehat. Kulit jambu biji mengandung tanin, yang memiliki efek astringen pada mukosa usus, mengurangi sekresi, dan memiliki sifat antibakteri, sehingga membantu dalam pengobatan diare dan gangguan pencernaan.
Pengendalian gula darah: Jambu biji merupakan pilihan yang sangat baik bagi penderita diabetes karena indeks glikemiknya rendah. Buah ini tidak menyebabkan lonjakan kadar gula darah secara tiba-tiba, dan seratnya membantu mengatur penyerapan gula. Oleh karena itu, penderita diabetes dapat menambahkan jambu biji ke dalam diet harian mereka untuk mengelola kondisi mereka secara efektif.
Meningkatkan kekebalan tubuh: Satu buah jambu biji mengandung empat kali lipat jumlah vitamin C dibandingkan jeruk, yang membantu merangsang produksi sel darah putih, meningkatkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan melindungi terhadap penyakit menular umum. Terutama selama musim epidemi, jambu biji merupakan makanan ideal untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Mendukung penurunan berat badan: Dengan kandungan kalori yang rendah (33 kkal/100 gram, setengah dari anggur atau lengkeng), jambu biji membantu menciptakan rasa kenyang dengan cepat, mengurangi keinginan untuk makan. Kandungan gulanya yang lebih rendah dibandingkan dengan apel, jeruk, atau anggur menjadikan jambu biji pilihan ideal bagi mereka yang mengikuti diet sehat.
Perlindungan kardiovaskular: Menurut Praktisi Pengobatan Tradisional Do Minh Tuan (Asosiasi Pengobatan Tradisional Hanoi ), jambu biji mengandung kalium, yang membantu menjaga tekanan darah tetap stabil dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Antioksidan dalam jambu biji juga mencegah aterosklerosis, membersihkan pembuluh darah, dan mengatur sirkulasi darah. Dalam pengobatan tradisional, jambu biji memiliki rasa manis dan sepat, sifat netral, dan membantu menghentikan diare, mengurangi peradangan, dan menambah darah.
Penerapan dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok: Tidak hanya buahnya, tetapi juga daun, akar, dan kulit pohon jambu biji merupakan bahan obat yang berharga. Bahan-bahan ini memiliki efek meredakan panas, mendetoksifikasi, dan mendukung pengobatan sakit perut, diare, eksim, tukak lambung, atau bahkan pendarahan akibat cedera. Kulit pohon jambu biji, dengan kandungan tanin yang tinggi, digunakan untuk melawan bakteri dan mengurangi peradangan.
Untuk memaksimalkan manfaatnya, para ahli menyarankan untuk mengonsumsi satu buah jambu biji setiap hari, sebaiknya yang sudah matang secara alami dan dengan kulitnya yang masih utuh agar dapat memanfaatkan serat dan taninnya. Dengan nilai gizi yang unggul dan berbagai kegunaannya, jambu biji layak disebut sebagai "makanan super" dalam diet sehat, membantu melindungi kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup.
VN (menurut Vietnamnet)Sumber: https://baohaiduong.vn/oi-phong-chong-ung-thu-bao-ve-tim-mach-an-bao-nhieu-la-du-413507.html








Komentar (0)