Di sebuah aula yang didekorasi dengan balon merah muda, rangkaian bunga bertuliskan pesan romantis, dan lagu-lagu cinta yang merdu diputar di latar belakang, mereka duduk secara acak di meja-meja yang telah diatur sebelumnya, mengobrol dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, sehingga memperkenalkan diri, mengenal anggota lawan jenis, dan berpotensi mengembangkan hubungan romantis yang lebih dalam di kemudian hari. Yang menarik, "kencan buta berkelompok" ini diselenggarakan untuk pertama kalinya oleh pemerintah kota.

Model perjodohan publik yang disponsori pemerintah ini bukanlah hal baru di banyak negara di dunia dan semakin populer di daerah-daerah lokal Korea Selatan. Ini adalah langkah terbaru dalam serangkaian tindakan pemerintah daerah untuk mendorong orang-orang menikah di tengah tren meningkatnya keengganan kaum muda untuk menikah atau memiliki anak.

Cuplikan dari acara perjodohan pertama yang diselenggarakan oleh pemerintah kota Seongnam (Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan). Foto: The New York Times

"Sikap negatif terhadap pernikahan terus menyebar di masyarakat Korea. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu berperan dalam menciptakan lingkungan di mana mereka yang ingin menikah dapat menemukan pasangan hidup," demikian kutipan pernyataan Walikota Seongnam, Shin Sang-jin, yang dimuat di The New York Times.

Dalam beberapa tahun terakhir, angka pernikahan telah menurun di seluruh dunia, tetapi hal ini sangat mengkhawatirkan di Korea Selatan. Bloomberg, mengutip data yang baru-baru ini dirilis oleh Badan Statistik Korea (KOSTAT), melaporkan bahwa pada tahun 2022, hanya sekitar 192.000 pasangan yang menikah di negara dengan ekonomi terbesar keempat di Asia, penurunan sebesar 0,4% dari tahun sebelumnya. Perlu dicatat, ini adalah angka terendah sejak tahun 1970, ketika KOSTAT mulai mengumpulkan data terkait, dan menandai penurunan selama 11 tahun berturut-turut.

Tren demografis di Korea Selatan ini telah menimbulkan kekhawatiran tentang penurunan populasi, penyusutan angkatan kerja, dan penyusutan ekonomi. Menurut The Korea Times, pemerintah Korea Selatan telah mencantumkan 89 wilayah di seluruh negeri sebagai daerah yang mengalami "penurunan populasi" dan mengalokasikan 1 triliun won (sekitar 760 juta dolar AS) setiap tahun untuk mendukung program perjodohan yang bertujuan meningkatkan angka pernikahan dan kelahiran di daerah-daerah tersebut.

LENGAN

*Silakan kunjungi bagian Internasional untuk melihat berita dan artikel terkait.