Washington Post melaporkan pada 12 September bahwa AS dan Inggris telah berjanji untuk segera mempertimbangkan permintaan Ukraina untuk melonggarkan pembatasan penggunaan senjata Barat untuk menyerang wilayah Rusia. Komitmen ini muncul ketika Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan mitranya dari Inggris, David Lammy, mengunjungi Kyiv pada 11 September, setelah perjalanan kereta api selama sembilan jam dari Polandia.
Siap untuk disesuaikan
Berbicara di Kyiv, Blinken mengatakan bahwa AS telah siap "sejak hari pertama" untuk menyesuaikan kebijakannya karena perubahan kondisi medan perang di Ukraina. "Kami akan terus melakukan ini," tegasnya. Meskipun Inggris dan AS belum secara resmi meratifikasi rencana tersebut, laporan media Barat menunjukkan bahwa Inggris telah diam-diam menyetujuinya, sementara AS sedang menyelesaikan rencana terkait.
Menurut sumber yang dikutip oleh POLITICO pada 12 September, Gedung Putih sedang menyelesaikan rencana untuk melonggarkan beberapa pembatasan penggunaan senjata pasokan AS oleh Ukraina dan untuk meningkatkan pertahanan terhadap rudal Rusia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ( kanan ) berjabat tangan dengan Bapak Blinken di Kyiv pada 11 September.
Sementara itu, The Guardian, mengutip pejabat Inggris yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Inggris telah mengizinkan Ukraina menggunakan rudal Storm Shadow buatan Inggris untuk serangan jarak jauh ke wilayah Rusia. Laporan sebelumnya menunjukkan bahwa Ukraina telah menggunakan rudal Storm Shadow untuk menyerang target militer di Semenanjung Krimea, wilayah yang dianeksasi Rusia dari Ukraina pada tahun 2014.
Menurut Reuters, Gedung Putih menghadapi tekanan yang semakin besar dari anggota parlemen Partai Republik dan Demokrat untuk melonggarkan pembatasan penggunaan senjata pasokan AS oleh Ukraina. Sejumlah anggota parlemen telah mengajukan petisi di tengah kunjungan Presiden Blinken ke Kyiv.
Tekad baru Amerika
Selain mempertimbangkan untuk mengizinkan Ukraina menggunakan bantuan senjata untuk menyerang wilayah Rusia, AS juga mengambil sikap tegas terhadap aksesi Ukraina ke NATO. "Para anggota NATO datang (ke KTT di Washington D.C., AS) untuk memperjelas bahwa jalan Ukraina menuju keanggotaan NATO tidak dapat diubah, dan Ukraina sekarang berada di jalan itu," tegas Menteri Luar Negeri AS dalam konferensi pers di Kyiv pada 11 September.
Menurut Ukrinform, Menteri Luar Negeri Blinken juga menegaskan kembali bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah NATO, sebuah komando telah dibentuk untuk membantu Ukraina bergerak menuju bergabung dengan aliansi tersebut, dan komando itu sekarang telah beroperasi. "Semuanya berjalan dengan baik, dan penting bahwa selama masa ini, Ukraina terus mendorong reformasi yang diperlukan," kata diplomat tersebut.
Langkah-langkah terbaru AS telah memicu reaksi keras dari Rusia. Pada 11 September, Kremlin menyatakan akan merespons "dengan tepat" jika AS mencabut pembatasan penggunaan rudal pasokan AS oleh Ukraina.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov berpendapat bahwa pernyataan AS merupakan upaya "perang psikologis," tetapi tidak akan mengubah arah kebijakan Rusia dan malah akan menciptakan risiko lebih lanjut bagi AS dan sekutunya. Lebih tajam lagi, RT mengutip mantan penasihat Kremlin Sergey Karaganov yang menyerukan Moskow untuk merevisi doktrin nuklirnya karena doktrin tersebut tidak lagi memiliki efek pencegahan.
Bantuan besar-besaran untuk Ukraina
Kyiv Independent melaporkan pada 12 September bahwa Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menjanjikan bantuan sebesar 700 juta dolar AS untuk Ukraina guna mendukung pengungsi sipil, memulihkan infrastruktur listrik, dan membersihkan ranjau darat. Selain itu, Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy mengumumkan paket bantuan sebesar 781 juta dolar AS untuk mendukung kebutuhan kemanusiaan, energi, stabilisasi, dan rekonstruksi Ukraina. Lebih lanjut, Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal menyatakan bahwa Latvia telah berkomitmen memberikan paket bantuan baru kepada Ukraina, termasuk kendaraan pengangkut personel lapis baja, tetapi rincian lainnya dan nilai totalnya masih belum jelas.
Sumber: https://thanhnien.vn/phuong-tay-nang-cap-ho-tro-cho-ukraine-185240912213646375.htm








Komentar (0)