Ekonom Vilhjalmur Hilmarsson dari serikat pekerja Viska mengatakan bahwa harga di Islandia sekarang sekitar 3% lebih tinggi daripada di Swiss.
Menurut Bloomberg , perkembangan ini menyoroti tantangan ekonomi kecil yang sering mengalami siklus naik turun. Lonjakan pariwisata pasca-pandemi, bersama dengan pendapatan dan daya beli masyarakat Islandia yang relatif tinggi, telah sedikit membantu mengurangi tekanan dari kenaikan harga.

"Pariwisata memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi di sektor jasa. Tekanan dari pariwisata telah mendorong kenaikan upah. Faktor penting lainnya adalah perumahan, yang juga secara langsung dipengaruhi oleh pariwisata. Wisatawan bersaing dengan penduduk lokal untuk mendapatkan akomodasi melalui Airbnb," kata pakar tersebut.
Harga makanan di Islandia saat ini 44% lebih tinggi daripada di negara-negara Nordik lainnya, yang juga termasuk di antara negara-negara termahal di dunia. Susu dan telur 75% lebih mahal, dan daging 71% lebih mahal. Menurut media lokal, segelas besar bir bisa berharga hingga 1.800 kronur (US$14,60), dan secangkir latte di kafe bisa berharga hingga 1.000 kronur.
Survei terbaru yang dilakukan oleh badan pariwisata nasional menunjukkan bahwa biaya yang lebih tinggi mulai menghambat wisatawan.

"Dalam jangka panjang, Islandia telah gagal membangun sektor manufaktur yang efisien. Kita terlalu bergantung pada industri padat karya, yang akan terus menciptakan tekanan inflasi. Kita perlu mempromosikan lebih banyak pilar ekonomi," tambah ekonom Vilhjalmur Hilmarsson.
Menurut data dari kantor statistik Uni Eropa, Eurostat, pada tahun 2018, harga konsumen rata-rata di Islandia 56% lebih tinggi daripada di negara-negara Eropa lainnya, menjadikan Islandia sebagai negara termahal di benua tersebut. Pada saat itu, populasi Islandia hanya sekitar 355.000 jiwa.
Sumber: https://baohatinh.vn/quoc-gia-nao-dat-do-nhat-the-gioi-post311558.html







Komentar (0)