![]() |
Saat ini, pressing adalah titik lemah Real Madrid. |
Rencana Real Madrid di bawah asuhan Xabi Alonso sangat jelas: tidak menunggu, tetapi secara proaktif menerapkan permainan mereka. Tim tersebut mengincar tekanan tinggi, merebut bola di dekat gawang lawan dan segera mengubahnya menjadi peluang mencetak gol.
Beberapa pertandingan pertama menunjukkan tanda-tanda positif. Jumlah perebutan bola di separuh lapangan lawan meningkat, dan efektivitas setelah merebut kembali penguasaan bola juga meningkat secara signifikan.
Namun itu hanyalah permulaan. Setelah El Clasico di Bernabeu, semuanya berbalik. Statistik pressing secara bertahap menurun dan hampir menghilang dari gaya bermain tim. Real Madrid kembali ke kondisi yang biasa mereka alami: melakukan pressing hanya pada momen-momen tertentu, kurang kontinuitas dan tidak cukup sinkron untuk mempertahankan tekanan yang berkelanjutan.
Dalam konteks itu, leg pertama semifinal Liga Champions antara Paris Saint-Germain dan Bayern Munich jelas menawarkan perspektif yang mendalam. Sepak bola tingkat atas modern tidak hanya membutuhkan penguasaan bola tetapi juga penguasaan ruang melalui pressing yang terorganisir. Ini bukan lagi tentang berlari banyak atau sedikit, tetapi tentang berlari pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dan dalam kerangka tim yang terstruktur dengan baik.
![]() |
Real Madrid tertinggal. |
PSG asuhan Luis Enrique adalah contoh utamanya. Tim ini melakukan pressing sebagai satu kesatuan. Setiap pemain memahami peran mereka dalam memberikan tekanan, mulai dari memblokir umpan hingga memberikan perlindungan di belakang pertahanan. Bahkan bintang-bintang penyerang pun harus berpartisipasi dalam sistem ini. Ketika semua orang bekerja sama, tekanan akan terus berlanjut, sehingga lawan hampir tidak punya waktu untuk mengontrol bola.
Bayern Munich mengikuti pendekatan serupa. Mereka tidak menunggu kesalahan, tetapi secara proaktif menciptakannya. Tekanan diterapkan sejak permainan membangun serangan lawan, menciptakan tempo cepat dan memaksa lawan untuk terus-menerus melakukan kesalahan.
Dibandingkan dengan kedua model tersebut, Real Madrid jelas tertinggal. Tekanan mereka lebih reaktif daripada proaktif. Tim ini sering bergantian antara serangan cepat dan periode menunggu di area pertahanan lawan. Hal ini mencegah mereka mempertahankan tekanan cukup lama untuk mencekik lawan.
Statistik di Liga Champions jelas mencerminkan perbedaannya. Real Madrid melakukan 98 percobaan pressing dalam 14 pertandingan, menciptakan 26 peluang mencetak gol tetapi hanya mencetak 2 gol. Sementara itu, PSG melakukan 144 percobaan pressing dalam 15 pertandingan dan mencetak 7 gol. Bayern Munich melakukan 131 percobaan pressing dan mencetak 6 gol, meskipun mereka memainkan satu pertandingan lebih sedikit.
Perbedaannya bukan hanya pada statistik. PSG dan Bayern menciptakan ketidakstabilan konstan bagi lawan mereka, sehingga mengendalikan ruang dan permainan. Real Madrid, di sisi lain, kurang memiliki konsistensi yang dibutuhkan untuk melakukan hal yang sama.
Sepak bola modern sedang berubah ke arah yang jelas. Tekanan (pressing) bukan lagi pilihan, melainkan aspek fundamental. Dan pada titik ini, Real Madrid tertinggal satu langkah dalam permainan tersebut.
Sumber: https://znews.vn/real-madrid-lo-tu-huyet-post1647948.html








Komentar (0)